
Kedua bola mata itu terlihat begitu tajam, dengan alis yang lebar membuat sudut matanya indah saat berkedip. Hidung mancung dengan rahang yang tegas. Bibir tebal yang dilindungi oleh kumis tipis di sana, sungguh membuatku terpana untuk sesaat. Semerbak wangi khas tubuhnya juga langsung memenuhi lubang hidung. Tenang dan nyaman, itu yang terasa saat lelaki itu dulu berada di sampingku.
Dan pagi ini, aku merasakan itu. Hidungku seakan mencium aroma khas tubuhnya, wangi parfum yang selalu ia kenakan dulu. Belum lagi aku membuka mata, rasanya ingin sekali untuk terus-terusan terlelap tidur dan bermimpi indah seperti sekarang. Aku akui, aku memang merindukan kehangatan darinya. Canda tawanya, bahkan kecupan yang biasa ia berikan di keningku setiap kali ia selesai mengantarku ke apartemen. Semua begitu manis. Indah.
Semakin kuat aku menarik selimut, saat hangatnya cahaya matahari masuk melalui celah gorden kamarku yang terbuka. Menghangatkan sebagian wajahku yang terpapar sinar itu. Namun, tiba-tiba saja ada yang menarik paksa selimut itu, seolah tidak ingin membiarkan aku kembali tidur terlelap.
“Ayaaaah!! Jangan jahil! Aku masih capek ...,” keluhku saat kedua kalinya selimut itu kembali ditarik paksa agar wajahku tidak dapat bersembunyi di baliknya.
Baru aku menarik selimut itu kembali, lagi-lagi di buka paksa. Mau tidak mau, dengan terpaksa aku membuka kelopak mata ini, agar dapat membentak ayah sekali lagi. Ayah memang jahil orangnya, kalau aku pulang.
“Aaaakkkkk!!” Aku berteriak. Keras dan kencang.
Sesosok pria tanpa baju kini berada tepat di depanku, dan sialnya aku mengenali lelaki itu. Dia adalah Reza. Lelaki yang tadi muncul dalam bunga tidurku. Pantas saja hidungku dapat mengendus aroma tubuhnya, ternyata wujudnya berada tepat di depanku.
__ADS_1
Lelaki itu langsung membekap mulutku, membuat teriakanku senyap seketika, terkumpul dalam telapak tangannya. “Ssttt! Nanti ayah sama bunda bangun,” ucapnya lirih seraya tersenyum manis.
Jauh dari dalam lubuk hati, aku merasa bahagia melihat senyumannya saat membuka mata. Jantungku juga ikut berdetak kencang saat pandangan mata kamu beradu. Aku menghentikan teriakan itu, lalu perlahan ia melepaskan tangannya dari mulutku. Napasku memburu, keluar masuk melalui mulut. Lubang hidungku sudah tidak ada gunanya saat ini.
“Kamu nakal, ya? Naik ke atas ranjangku dan menyelinap tidur satu selimut denganku. Untung celanaku masih utuh.” Reza berkata dengan santai.
Aku yang mencerna maksud dari ucapannya itu, langsung tidak terima. Ucapannya itu seolah menuduhku melakukan hal yang tidak senonoh padanya. “Eh, jangan sembarangan, ya! Kamu yang nggak sopan! Ini kamar aku, ngapain juga kamu di sini?” Nada suaraku semakin meninggi, membuatnya kembali menutup mulutku dengan telapak tangannya.
“Ngomongnya biasa aja, nggak usah ngegas!”
“Kamu ngapain di sini?” sewotku.
“Aku udah dari kemarin ada di sini.”
__ADS_1
“Ngapain? Ini rumah orang tua aku!” Aku masih sewot dengan kehadirannya. Perasaan yang tadinya bahagia, sekarang aku coba tutupi dengan sikapku yang seolah emosi padanya.
“Tahu, kok!” jawabnya santai.
“Trus?”
“Trus apanya?” tanyanya balik.
“Ya, trus ngapain di sini?”
“Tidur.”
“Bukan itu, kalo itu aku tahu kamu tidur di kamar ini.”
__ADS_1
“Lah, kalau udah tahu aku tidur di kamar ini, kenapa kamu nyelinap masuk ke dalam selimutku?”