Kesempatan

Kesempatan
BAB 29 | Sebuah Kejutan


__ADS_3

Hari ini pun tiba, hari dimana rapat Dewan Direksi kembali dilaksanakan. Chaca berjalan seorang diri melangkah memasuki lift untuk meuju ke lantai paling atas menuju ruang rapat. Namun sebuah tangan seperti menghalangi pintu lift untuk tertutup. Pak Karto memasuki lift dan berdiri disamping Chaca.


“Hebat juga kamu. Berhasil membuat PT Warna Cakrawala menjadi anak dari perusahaan ini”, ucap Pak Karto entah itu pujian atau sindiran yang ia berikan pada Chca.


“Apakah hal ini mengganggu anda? Dari respon anda sepertinya anda tak menyukainya”, balas Chaca dingin tanpa menatap pada lawan bicaranya. Pak Karto menatap Chaca tajam tajam merasa bahwa lagi lagi Chaca sedang meremehkannya karena Pak Karto tak mampu mendapatkan apa yang dirinya inginkan.


“Bersainglah secara sehat dan jangan gunakan cara yang kasar atau curung. Karena ketika saya mengetahui bahwa anda berbuat yang tidak tidak pada perusahaan saya maka saya takkan tinggal diam!!”, ucap Chaca sedikit mengancam Pak Karto, dirinya sangat yakin bahwa dalang di balik terjadinya kebakaran di pabrik kemarin adalah ulahnya.


“Curang dan bermain kasar adalah cara bekerja yang baik, jika seorang pengusaha tak melakukan salah satu diataranya maka seluruhnya takkan berjalan dengan baik”, balas Pak Karto dengan santainya sambil melihat panah yang terus mengarah keatas.


“Dan satu lagi. kecelakaan truk yang terjadi saat itu, bukan saya pelakunya meski hal itu adalah berita yang sangat menggembirakan untuk saya. Bukankah itu yang ingin kamu dengar?”, tambah Pak Karto sebelum ia keluar dari lift ketika lift mulai terbuka.


“Namun bagaimana dengan kebakaran yang terjadi kemarin? Bukan anda juga pelakunya?”. Langkah Pak Karto berhenti ketika ia mendengar pertanyaan Chaca dengan emosi didalamnya. Ia tak pernah memperkirakan bahwa Pak Karto akan membahas masalah ini.

__ADS_1


“Kebakaran? Kebakaran apa? Pabrikmu terbakar? Hah! Hebat!” jawab Pak Karto dengan sedikit menyeringai mendengar pertanyaan Chaca yang terdengar konyol di telinganya. Namun respon yang diberikan Pak Karto sepertinya bukan main main, dugaan bahwa Pak Karto adalah dalang dari kebakaran yang terjadi ternyata salah dan lagi ia tak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi di pabrik.


Chaca berusaha untuk tenang agar dirinya tak tersulut oleh emosi yang mulai menguasainya. Dengan segera Chaca kelaur dai lift sebelum pintu lift tertutup kembali, ia berjalan lurus kedepan sambil merogoh ponsel didalam tasnya untuk mengirimkan pesan pada Shena agar ia bersiap membawa peti itu masuk ke perusahaan induk.


Memasuki ruang rapat yang sudah terlihat cukup ramai, Chaca segera mengambil tempatnya dan duduk menunggu rapat dimulai. Sebuah pandangan yang tak mengenakkan tertuju ke arahnya, kelima Dewan Direksi itu menatap tajam padanya sambil menyeringai seolah meremehkan seluruh pekerjaan yang dilakukannya.


“Baiklah semuanya.. Hari ini saya kembali mengumpulkan kita semua disini untuk membahas sebuah hal yang penting namun sebelum itu saya akan memberikan kabar luar biasa untuk kuta semua. Perusahaan ini akan menjadi salah satu sponsor Olimpiade mendatang dan juga kami berhasil menjalin kerja sama dengan salah satu perusahaan besar di Cina”, ucap Pak Umar memberikan kabar baik bagi seluruh Dewan Direksi yang hadir. Semua orang bertepuk tangan menyambut kabar baik itu dengan bahagia namun tidak dengan kelima Dewan Direksi.


“Seharusnya memang begitu. Asalkan jangan bermain curang dan ada kebohongan diantara kita”, sahut Chaca dengan mengetuk ketukkan jemarinya di atas meja sambil menyandarkan diri pada kursi yang didudukinya. Kini semua mata tertuju pada Chaca yang sedang berbicara, Chaca berdiri dan berjalan ke arah jendela melihat bahwa sebuah peti telah sampai.


“Apa maksud anda dengan menyebut kami bermain curang dan menyembunyikan kebohongan?”, tanya Pak Karto menatap tajam ke arah Chaca yang adalah sebuah ancaman bagi karirnya dan kejayaannya. Shena beserta beberapa orang masuk ke dalam ruang rapat dengan membawa beberapa gulungan kain yang ada didalam peti itu dan menyerahkannya pada Chaca.


Sontak mata Pak Lukman terbelak melihat beberapa roll kain yang dibawa masuk kedalam ruang rapat, ia mengenal kain itu, raut wajah panik sangat terlihat jelas di matanya dengan perlahan Pak Lukman mundur kebelakang dan mencoba untuk tak terlihat ditengah ketegangan yang sedang terjadi.

__ADS_1


“Bongkar semua kain itu!!”. Perintah Chaca pada Shena dan orang orang dibelakangnya. Ketika kain kain itu dibongkar, telihat beberapa obat obatan mulai berjatuhan dengan begitu banyaknya. Seluruh rol kain yang mereka bawa naik ke ruang rapat terdapat obat obatan yang mereka seludupkan pada kain kain itu.


Chaca melihat ke arah mereka semua yang terlihat terkejut melihat kejutan yang diberikan Chaca pada mereka semua. Niatan Chaca yang ingin segera menghancurkan karir mereka dan mendepak mereka dari kumpulan Dewan Direksi sagat diharapkan akan terjadi saat ini.


“Saya percaya bahwa Pak Karto, Pak Hadi, Pak Broto, Pak Hendra dan pak Lukman mengenal benda apa ini”, ucap Chaca melihat ke araha kelima Dewan Direksi yang tak berkutip lagi.


“Harus saya yang menjelaskannya atau kalian?”, sambung Chaca menatap mereka semua dengan tatapan yang mengancam. Chaca bukanlah seorang wanita yang bisa mereka remehkan dengan begitu mudahnya, Selalu ada bagian dimana Chaca terlihat lebih unggul dan sangat cerdas bahkan ia selalu selangah lebih maju dari pada kelima dewan direksi itu.


“Saya tak tahu apapun tentang hal itu. Kain sutera seperti itu, saya tak pernah mendapatkan buyer yang meminta pemesanan kain sutera selama ini”, jawab Pak Karto menanggapi Chaca dengan santainya, lebih santai dibandingkan keempat rekan rekannya yang terlihat sedikit ketakutan.


“Yang saya maksudkan bukanlah kainnya, namun mengapa obat obatan terlarang diseludupkan didalam tiap roll kain yang akan dikirimkan beberapa waktu yang lalu?”, tanya Chaca pada Pak Karto alih alih melawan perkataannya.


Ah..haha.. Bagaimana mungkin ada obat obatan yang diseludupkan didalam kain? Bukankah Pak Lukman yang selama ini memiliki buyer yang meminta pesanan kain sutera? Tanyakan saja padanya”, balas Pak Karto yang melimpahkan segalanya pada Pak Lukman yang kala itu tengah bersembunyi dibelakang dan tak berani mengatakan apapun.

__ADS_1


__ADS_2