
Mereka berdua mulai bertarung dan terus bertarung, entah sudah berapa kali pukulan yang Shena layangkan dan entah berapa kali Nomer 1 terkena pukulan dari Shena, bertarung dengan tangan kosong sungguh cukup sulit untuk dilakukan oleh mereka berdua, meski sulit namun julukan si Anjing Gila masih tetap melekat pada pribadi Shena ketika sedang dalam mode bertarung, tanpa ampun dan dengan sekuat tenaga ia mengerahkan kekuatannya untuk terus bertarung juga menghajar Nomer 1 yang terasa semakin lebih kuat dari sebelumnya.
“Tak ku sangka Anjing Gila adalah seorang petarung yang hebat. Kini aku menemukan lawan yang sepadan denganku. Berharaplah untuk tak mati ditanganku keparat !!!”. Seru Nomer 1 sambil terus saja melawan dan menghindari serangan Shena.
“Asalkan kamu tak malu saja kalah dari seorang wanita sepertiku. Jika kamu sampai kalah, ku pastikan harga dirimu akan ku injak hingga kamu malu mengakui dirimu sebagai seorang laki laki, dasar sampah!!, balas Shena dengan umpatan yang selalu ia keluarkan ketika ia sedang bertrung.
Kini markas besar Belalang Merah terasa seperti medan pertempuran dimana mereka semua harus mengalahkan Shena dan Jo. Lalu apa yang dilakukan Belalang Merah? Diam dan menyaksikan sebuah pertarungan yang membuat darahnya mendidih, melihat pertarungan yang telah lama tak ia lihat sejak kepergian si Anjing Gila beberapa tahun yang lalu.
“Lihatlah betapa hebatnya mereka dalam bertarung. Seandainya Anjing Gila masih bersama denganku, mungkin keadaannya akan berbeda”, ucapnya seraya menyeringai melihat pertarungan yang seakan berhasil membuatnya menikmati hari dengan bau anyir darah yang dihirupnya.
Disisi lain Jo sudah mulai kehabisan tenaga melawan lebih dari lima puluh orang sendirian sedangkan Shena masih dalam mode berapi api melawan Nomer 1 hingga ia tak merasakan sudah berapa banyak luka dan memar yang menghiasi tubuhnya. Menyadari bahwa Jo sudah mulai kewalahan, Shena mencoba untuk mencoba menghindari Nomer 1 dan membantu Jo melawan musuh musuhnya namun kehendaknya diketahui oleh Nomer 1.
“Jangan palingkan dirimu dariku. Lawanmu adalah aku, mari bertarung hingga salah satu dari kita mati ditempat ini !!”, sentak Nomer 1 yang membuat Shena pada akhirnya kembali fokus pada pertarungannya.
“Sial dia sangat kuat, dia hanya sendiri dan mampu menghajar separuh dari kita”, ucap salah satu anak buah Belalang Merah yang perlahan melihat rekannya tumbang melawan Jo yang seorang diri.
“Kemarilah kalian, akan ku habisi kalian semua sekaligus”, ucap Jo alih alih mencoba menguatkan dirinya kembali yang merasa kelelahan harus melawan mereka semua seorang diri. Meski Jo mampu bertarung dengan sangat baik namun tetap saja, lima puluh orang lebih rasanya tak mungkin dikalahkannya seorang diri. Dalam hati ia memohon agar ada yang datang dan menolongnya namun ia tahu jika hal itu tak mungkin terjadi.
__ADS_1
...****************...
Sebuah mobil ambulan terpakir di sebuah gudang kosong yang jauh dari jangkauan orang, beberapa anggota Belalang Merah berjaga jaga ditempat itu awas awas seseorang datang dan menyerang mereka mengingat Chaca sedang bersama mereka dan tak sadarkan diri karena obat bius yang bekerja dengan dosis yang banyak dimasukkan dalam tubuh Chaca.
Beberapa dari mereka saling menatap melihat Chaca yang sangat cantik meski beberapa bagia tubuhnya terdapat luka dan darah. Tubuhnya yang sangat indah membuat mereka berpikir yang tidak tidak pada Chaca yang tak sadarkan diri.
“Takkan ada yang mengetahuinya bukan? Belalang Merah mengatakan bahwa ia akan menjualnya namun sayang sekali bukan? Ketika kesempatan ada didepan mata”, ucap salah satu anak buah Belalang Merah sambil menelan salivanya melihat Shena yang sangat cantik, membuat mereka kehilangan akalnya.
Perlahan mereka mulai menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik Chaca dan menyenntuh Chaca dengan lembut dari wajah hingga turun ke leher indahnya lalu terus turun ke perut rata Chaca. Puas memandangi Chaca mereka mulai mencoba membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Chaca hingga ia melihat dua buah gundukan yang tertutup dengan kaos dalam berwarna putih, semakin gila mereka dibuatnya melihat Chaca yang seperti ini. Belum sempat mereka melakukan hal yang lebih gila lagi pada Chaca, gebrakan pintu yang sangat kencang terdengar dengan begitu kerasnya, mengejutkan mereka yang hendak ingin bersenang senang dengannya.
“Arrrgghh!!”, teriaknya kesakitan sambil mencoba menahan luka agar darahnya berhenti mengucur,Barra tak mempedulikan suaranya yang menjerit kesakitan karena ulahnya, ia berharap bahwa orang itu mati dihadapannya.
“Maju kalian semua keparat!!”, umpat Barra dengan emosinya yang meledak ledak. Dengan bersenjatakan besi yang cukup tajam, Barra menyerang mereka semua yang bertarung dengan tangan kosong dan tak segan segan membunuhnya. Hal yang tak pernah Barra lakukan sebelumnya, kini dirinya dikuasai amarah dan tak bisa mengontrol emosinya yang meledak ledak hingga akhirnya mereka semua mati di tangan Barra.
Melihat mereka semua yang tergeletak dengan darah yang mengucur keluar dari tubuh mereka membuat Barra menyadari apa yang telah ia lakukan.
“Apa? Ap.. Apa yang ku lakukan? Aku membunuh orang?”, ucapnya melihat kedua tangannya yang bergetar dan penuh dengan darah. Melihat lawannya sudah tak bernyawa membuat jantung Barra berdegup dengan kencang, dirinya sungguh ketakutan, niat hati ingin menyelamatan Chaca dari mereka semua namun emosi menguasainya. Ketakutan dan kekhawatirannya pada Chaca membuatnya menghabisi mereka semua tanpa tersisa.
__ADS_1
Barra menutupi tubuh Chaca dengan jaket miliknya dan pergi membawa Chaca bersamanya, meski ia ketakutan karena telah membunuh orang namun Barra lebih takut Chaca akan dilecehkan oleh mereka semua.
“Aku sudah berjanji akan menjagamu. Meski itu artinya aku menjadi seorang pembunuh maka terjadilah, asalkan tak ada yang berani menyentuhmu Cha”, lirih Barra.
Tak lama kesadaran Chaca akhirnya kembali, meski kepalanya terasa sakit karena obat bius yang sangat kuat masuk dalam tubuhnya namun Chaca mencoba untuk melawannya dan berusaha menjaga kesadarannya. Dirinya sekarang berada di mobil milik Barra tanpa mengetahui apa yang telah terjadi padanya.
“Ugghh!!. Barra”, panggil Chaca yang melihat Barra berada disampingnya. Hal yang pertama kali ia pikirkan adalah Shena, ia terpisah dari Shena.
“Barra, Shena. Aku harus menyelamatkannya, bawa aku ke markan Belalang Merah sekarang”, seru Chaca yang ketakutan mengingat bahwa Shena ada dalam genggaman Belalang Merah.
Barra mengerutkan keningnya dan menepikan mobilnya lalu menatap Chaca karena ia merasa tak tahu apapun dengan situasi yang tengah terjadi pada wanita yang dicintainya ini.
“Belalang Merah? Siapa itu? Markas apa? Apa yang kamu bicarakan Cha?”, tanya Barra tak mengerti.
Chaca mengambil ponsel miliknya dan melacak keberadaan terakhir dari Shena karena ia tahu bahwa Belalang Merah pasti telah menghancurkan seluruh alat komunikasi milik Shena setelah mereka berhasil memisahkan Shena darinya.
“Ikuti saja ini, dan aku akan menceritakan segalanya padamu. Apa yang sebenarnya terjadi dan siapa aku sebenarnya”, ucap Chaca serius. Ia seperti tak memiliki pilihan lain selain jujur pada Barra karena Barra terlalu banyak tahu tentang hal hal yang terjadi padanya belakangan ini.
__ADS_1