
Suasana di luar gedung benar benar sangat kacau. Mereka semua dikalahkan oleh Shena seorang diri, meski Shena cukup babak belur karena ulah mereka namun pada akhirnya Shena pun berhasil menghajar mereka hingga mereka tak memiliki kekuatan lagi untuk bangkit. Disaat yang bersamaan Barra mulai terlihat dengan memapah Chaca yang tak kalah kacaunya dengan Shena, wajah yang kelelahan terlihat cukup jelas.
“Bu Chaca.. Apa dia baik baik saja?”, tanya Shena dengan segera menghampiri Chaca yang dipapah oleh Barra.
“Dia baik baik saja, beruntungnya aku tak terlalu terlambat menolongnya, atau dia akan habis di tangan Ryan”, balas Barra sambil melihat Chaca yang sudah tak kuat lagi untuk berjalan.
“Biar aku yang membawa Bu Chaca kembali ke apartemennya”, seru Shena mencoba untuk mendapatkan Chaca berada di sisinya namun langkahnya terhenti dengan Barra yang menempis tangan Shena ketika berusaha untuk mengambil Chaca darinya.
“Tak perlu, serahkan Chaca padaku. Aku akan mengantarnya, bawa saja mobilmu bersamamu. Kita bertemu di apartemen Chaca”, balas Barra menolak memberikan Chaca padanya. Dengan segera Barra membawa Chaca masuk ke dalam mobilnya dan mengantarnya ke apartemen melihat hari mulai sore.
Perasaan bersalah terus saja menyelimuti perasaan Barra yang sedang fokus menyetir, hatinya sungguh tak tenang dan ketakutan mengingat kejadian yang baru saja terjadi pada wanita pujaan hatinya itu, yang membuat Barra sedikit mengambil cara yang tak biasa. Sudah cukup lama Barra memasang pelacak pada ponsel Chaca karena perasaan khawatir pada dirinya ketika terakir kali Ryan mendatangi Chaca dan membuat masalah. Sejak saat itu Barra tak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengan Chaca
**** Flash Back Beberapa Jam Sebelumnya ****
Dari layar laptopnya Barra melihat sebuah titik terus berjalan ke suatu tempat. titik yang berkedip itu adalah pancaran sinyal dari ponsel Chaca yang pernah ia pasang. Namun ia merasa sesuatu yang aneh, tempat asing yang tak mungkin didatangi oleh Chaca dan Chaca berhenti bergerak selama lebih dari sepuluh menit lamanya.
__ADS_1
“Selamat pagi. dengan PT Warna Abadi”, sapa Shena yang mengangkat panggilan itu.
“Shena ini aku. Apakah Chaca tak ada di tempatnya? Ponselnya mati”, balas Barra yang terus saja memperhatikan titik yang berkedip tetap diam ditempat dan tak bergerak sama sekali.
“Ah, Barra. Bu Chaca sedang pergi. Dengan Ryan”, jawab Shena. Barra tak meneruskan percakapan mereka karena segera setelah ia mendengar bahwa Chaca pergi dengan Ryan, ia segera mengakhiri panggilannya. Barra yakin bahwa terjadi sesuatu dengan Chaca melihat hingga saat ini titik itu tak bergerak sedikitpun.
“Dia pergi bersama Ryan? Akankah dia baik baik saja?”, tanya Barra dalam hatinya tanpa mampu menyembunyikan perasaan khawatir di wajahnya. Hampir setengah jam Chaca tak bergerak sedikitpun membuat Barra semakin khawatir dibuatnya hingga ia tak bisa lagi menahan diri untuk menghampiri Chaca untuk memastikan bahwa ia baik baik saja.
**** Flash Back Off ****
“Apa yang kamu katakan? Tenanglah. Jika kamu merindukannya, kamu bisa menemuinya bukan? Lagi pula dia kemari untuk kuliah, bukan melakukan hal yang tidak tidak. Dan lagi, mana ada orang yang mabuk mabukan di sore hari seperti ini?”, bujuk suami di sebelahnya yang mencoba menenangkan istrinya yang masih saja terlihat sangat ketakutan.
Sebuah lift terbuka dan ibu itu melihat Barra memapah Chaca yang sedang tak sadarkan diri dengan kondisi yang cukup berantakan, membuat ibu itu semakin ketakutan untuk meninggalkan anaknya.
“ Ah..Dia mabuk. Lihatlah, dia juga berantakan. Dia kemari bersama pria, pasti bukan suaminya”, bisik ibu itu yang semakin ketakutan pada suami di sampingnya dengan sesekali melihat Barra dan juga Chaca yang berada tepat di belakangnya.
__ADS_1
Barra hanya terdiam dan tak berusaha menjelaskan apapun pada ibu yang sepertinya sedang salah paham dengan posisi Barra yang sedang memapah Cahca yang cukup terlihat seperti orang mabuk.
Pintu lift kembali terbuka, Barra berjalan sambil memapah Chaca hingga ia bertemu Shena didepan pintu apartemen Chaca, lalu mereka berdua membawa masuk Chaca dan membaringkannya di kasur miliknya.
“Bereskan dahulu lukamu, aku akan menjaga Chaca sebentar sambil membersihakn luka dan juga kotoran diwajahnya”, ucap Barra yang melihat Shena dengan luka hampir di sekujur tubuhnya.
“Jangan melakukan hal yang tidak tidak padanya, atau ku hajar nanti”, sambung Shena melihat pada Barra yang berdiri tepat disampin Chaca. Barra hanya tersenyum mendengar ucapan Shena yang seperti sebuah gurauan baginya. Melihat Shena yang sudah pergi, Barra menatap dalam dalam Chaca sambil sesekali mengusap lembut surainya.
“Akan ku pastikan kamu aman bersamaku. Takkan ku biarkan dia datang dan kembali mengganggumu lagi”, bisik Barra pada Chaca yang masih tak sadarkan diri dengan mengecup lembut tangannya dengan penuh cinta.
“Aku sudah selesai, sekarang pulanglah. Ada aku yang menjaga Bu Chaca”, ucap Shena pada Barra tiba tiba ketika Barra sedang memegang tangan Chaca. Dengan segera Barra berdiri dan mengambil barang barangnya meski ia masih sangat ingin berada disamping Chaca hingga ia tersadar.
“Terimakasih untuk hari ini. Jika kamu tak datang, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada Bu Chaca”, ucap Shena yang juga terlihat sama khawatirnya dengan Barra melihat Chaca yang masih tergeletak di kasur miliknya.
“Hubungi aku jika Chaca telah sadar, aku akan kembali lagi”, sambung Barra sambil menganggukkan kepalanya merespon ucapan dari Shena.
__ADS_1
Sama seperti Barra, Shena pun sangat ingin menghajar Ryan bahkan menghabisinya mengingat bahwa ia telah melakukan hal yang buruk pada Chaca, sebuah bercak merah yang tak kunjung hilang membuat Shena geram dan tak terima salah satu orang yang sangat berarti baginya disakiti bahkan hampir dinodai oleh pria yang bukan lagi kekasih Chaca.