
Brakkk!!!!
“Haruskah seperti ini? Mengapa hanya aku yang dikeluarkan? Bukankah kalian juga ada didalamnya?”. Tanya Pak Lukman kesal karena hanya dirinya saja yang dikeluarkan dari jajaran para Dewan Direksi.
Kelima Dewan Direksi kembali berkumpul di kantor Pak Karto setelah mereka selesai dengan rapat. Namun perasaan kesal Pak Lukman seakan tak terjawan dan mereka hanya duduk diam tanpa melakukan apapun.
“Tenanglah. Tak mungkin aku yang mengakuinya!! Dari awal semua adalah kesalahanmu sendiri. Mengapa sampai peti itu tak terkirim dan jatuh ke tangan bocah ingusan itu!” balas Pak Karto dengan menaikkan sedikit nada bicaranya.
“Tenganglah. Aku takkan membiarkan polisi sampai menangkapmu”, sambung Pak Karto mencoba menenangkan rekannya yang terlihat sangat panik itu. Namus suara keributan terdengar dari luar ruang kanor Pak Karto, seseorang mencoba menerobos masuk ketika ia belum membuat janji dengan Pak Karto sebelumnya.
“Anda harus menunggu, saya yang akan menyampaikannya pada Pak Karto”, suara seorang wanita yang sedikit berteriak.
Pandangan mereka semua tertuju pada seorang pria bertubuh besar yang memiliki tato hampir diseluruh tubuhnya bersama beberapa anak buah yang ikut mengekor bersamanya. Dia adalah si Belalang Merah yang datang menemui Pak Karto secara langsung sambil menghisap sebatang cerutu.
“Susah sekali menghubungimu”, ucap Belalang Merah pada Pak Karto lalu duduk di kursi yang masih kosong sambil mengangkat kedau kakinya
“Tamu tak diundang rupanya. Ada apa kemari? Bukankah kita telah selesai?”, jawab Pak Karto melihat betapa tidak sopannya kelakuan Belalang Merah didalam kantornya.
__ADS_1
“Apa masih perlu untuk ditanyakan? Sudah jelas untuk menagih”, balas Belalang Merah sambil mengebulkan asap dan membuang abu cerutunya di karpet kesayangan Pak Karto.
Melihat tingkah pria paruh baya yang tak sopan itu para Dewan Direksi cukup kesal dibuatnya. Selain Pak Karto, keempat Dewan Direksi menatap tajam ke arah Belalang Merah dan tatapan mereka dibalas oleh anak buah yang mengikut pada Belalang Merah pula.
“Sudah ku katakan bahwa aku takkan membayar penuh. Bukankah sudah jelas tertera pada surat perjanjiannya? Bahwa ketika ada barang yang cacat atau kehilangan kalian akan bertanggung jawab dan kami tak perlu membayar penuh?”, jawab Pak Karto bersih kukuh tak ingin melunasi pembayaran.
“Sial.. Semua itu ulah gadis sialan yang mencurinya!!”, umpat Belalang Merah dengan menekan cerutunya pada asbak di meja depannya. Segera Pak Karto menatap Belalang Merah mendengar ucapannya.
“Jadi kalian tahu bahwa pelakunya perempuan bukan?”, tanya Pak Karto pada Belalang Merah sambil mengerutkan keningnya.
“Apa? Apa kalian tahu siapa pelakunya?”, tanya Belalang Merah, kali ini ia memajukan tubuhnya dan menyatukan kesepuluh jarinya menatap pada Pak Karto yang seolang mengetahui sesuatu yang tak diketahuinya.
...****************...
Sama seperti malam malam sebelumnya, malam ini pun Barra kembali menemani Chaca, terlalu banyak pekerjan yang harus ia selesaikan hingga akhirnya ia harus terus bekerja hingga larut malam mengingat tugasnya sebagai seorang pemimpin yang menumpuk dan harus segera diselesaikan.
“Tak perlu terus menemaniku. Pulanglah Barra”, ucap Chaca menatap pria yang ada dihadapannya. Seorang pria yang selalu menemaninya selama ini.
__ADS_1
“Aku akan terus menemani dan menjagamu Cha. Jadi tenanglah, aku lebih tak tenang jika belum memastikan kamu pulang dengan baik baik saja”, balas Barra dengan tutur yang lembut.
Ucapa Barra berhasil menciptakan sebuah senyuman yang menghiasi wajah Chaca dimalam itu, entah ia harus senang atau tidak menerima perlakuan Barra yang seperti ini.
“Aku melakukannya bukan karena kamu adalah seorang wanita, namun karena kamu adalah wanitaku”, sambung Barra yang lagi lagi berhasil membuat Chaca tersipu malu dengan ucapannya. Barra terus saja menatap Chaca dan tak melepaskan tatapan matanya, dia benar benar jatuh inta sepenuhnya pada sosok Chaca, semua yang ada didalam Chaca, Barra menyukainya.
“Wanitamu? Aku saja tak pernah mengatakan bahwa aku mencintaimu, bagaimana mungkin aku menjadi wanitamu?”, tanya Chaca sedikit meledek ke arah Barra yang berhasil membuat dirinya salah tingkah.
“Kamu tak pernah menolakku, apapun yang kulakukan untukmu kamu selalu menerimanya, dan aku yakin bahwa senyuman itu tak pernah kamu berikan pada pria manapun selain aku, Itu saja sudah cukup untuk menjadikanmu wanitaku”, balas Barra dengan tatapan lembutnya. Kini jantung Chaca berdetak dengan sangat kencang, bahkan ia lebih bahagia daripada saat ia bersama Ryan sebelumnya. Namun bolehkan ini terjadi padanya?. Perlahan Chaca mulai taku bahwa perasan ini akan lalu dari padanya.
“Bisakah aku mencintainya? Bolehka itu terjadi disini? Ditempat yang tak seharusnya aku berada? Bagaimana kalau suatu hari nanti aku tak menemukannya diduniaku? Apakah Barra hanya ada disini saja? Mengapa aku sangat takut kehilangannya? Apakah aku mencintainya?”, sangat banyak pertanyaan yang berputar diotaknya menunggu sebuah jawaban, namun semakin lama semua itu ia pikirkan, semakin tersiksa hatinya mereka suatu hal yang buruk yang mungkin akan terjadi kedepannya.
“Bagaimana kalau suatu hari nanti aku meninggalkanmu? Jika suatu saat kamu tak menemukanku? Jika nanti aku menghilang darimu? Bagaimana jika hal itu terjadi?”, tanya Chaca dengan perasaan khawatirnya.
“Takkan ku biarkan kamu meninggalkanku, aku akan menemukanmu bagaimanapun caranya, dan jika nanti kamu menghilang, aku akan mencarimu. Jangan khawatir, kamu akan selalu menemukanku untuk pulang”, jawab Barra mencoba meyakinkan Chaca. Sebuah ketakutan akan kehilangan sosok yang telah berhasil masuk ke hatinya mulai membuat Chaca khawatir akan masa depan nanti dimana ia harus kembali ke tempat asalnya.
“Namun bagaimana jika aku tak menemukanmu dimanapun? Bagaimana jika kamu tak mengingatku? Bagaimana jika kamu hanya ada disini?”, pertanyaan itu kembali menguasai pikirannya dan menimbulkan rasa takut.
__ADS_1
“Setidaknya mari kita coba, aku berjanji akan mematahkan segala bentuk kekhawatiranmu. Jngan ragukan aku dan percayalah padaku”, ucap Barra menatap Chaca dalam dalam mengungkapkan isi hatinya.