
Sebelum memutuskan untuk pulang ke Bogor, aku mampir terlebih dahulu ke kedai kopi milik temanku saat itu, Putra. Sengaja aku ke sana, sebab ingin memesan segelas kopi ice untuk menemaniku dalam perjalanan nanti.
Alunan musik yang mendayu-dayu terdengar jelas dari dalam kedai sesaat sebelum aku membuka pintu itu. Lagu dari penyanyi luar negeri Lukas Graham dengan judul Love Someone memenuhi ruangan itu, membuat aku ikut terhanyut dalam alunannya saat melangkah menuju meja bar. Mulutku pun ikut bernyanyi berbisik mengikuti liriknya.
“Hai, Manda, jaga sendirian aja?” sapaku sambil duduk di kursi bar, sambil melihat Manda yang sedang membuat beberapa jenis minuman.
“Enggak, Kak, sama kak Putra, kok, tadi ke belakang.”
Aku menganggukkan kepala, lalu langsung memesan salted coffee ice kesukaanku pada Manda. “Nunggu agak lama nggak apa-apa ‘kan, Kak? Soalnya ada beberapa gelas lagi yang mesti dibikin.”
“It’s ok. Aku enggak buru-buru kok!” Aku mengacungkan jempolku pada Manda.
__ADS_1
Manda adalah salah satu karyawan di kedai kopi ini, dan setahuku, Manda-lah karyawan terawet dan terlama di kedai ini. Dialah seniornya di sini. Buatan kopi dari tangannya pun tidak jauh berbeda dengan buatan Putra, bahkan sudah hampir sama. Tidak jarang, dulu, di saat aku sering ke sini, dia sering menyodorkan beberapa gelas kopi hitam untuk aku cicipi. Dia senang meramu kopi.
Kemudian, saat aku sedang asyik memainkan game yang ada di ponselku, sembari menunggu Manda membuatkan pesanan tersebut, tiba-tiba Putra sudah muncul dan duduk di sampingku. “Udah lama, Del?” Sambil menepuk pundakku.
Aku menoleh, “Baru aja sampai trus pesen minum. Mau aku bawa pulang,” sahutku pada Putra.
“Oh, ya udah, biar Manda aja yang bikin, ya? Nggak apa-apa, ‘kan?” Putra langsung duduk di sampingku, terpaksa aku harus menutup ponselku, menghentikan permainan di ponselku.
“Del, kalian udahan, ya?” tanya Putra tiba-tiba seraya mencolekku.
Sontak aku menoleh menatapnya. Sekelebat ingatanku akan pertemuan langsung saat di kedai ini kembali terlintas. Ya, itu pertama kalinya aku kembali melihat wajahnya dan dia menyapaku. Setelah lebih dari berbulan-bulan kejadian tragis itu bagiku.
__ADS_1
“Waktu itu, dia bilang mau minta maaf, tapi katanya kamu blokir nomor Whasapp-nya.” Putra menceritakan keinginan lelaki itu.
“Blokir? Aku nggak pernah blokir nomor orang, Put!” Aku tersentak, tidak percaya jika sorang Reza bisa mengatakan itu.
Rasanya tidak mungkin, sesosok lelaki yang aku kagumi hingga detik ini bisa berkata hal yang klise seperti itu. Aku tidak pernah melakukan itu, dan tidak akan mungkin.
Memang, dulu setelah kejadian itu, dia masih mengirimkan pesannya beberapa kali, dan itu memang sengaja tidak aku balas dan yang aku lakukan adalah menghapus nomornya dari buku telepon di ponselku, bukan memblokirnya. Tega sekali ia menuduhku sejahat itu padanya?
“Justru itu aku konfirmasi ulang ke kamu, Del. Kalaupun benar kamu blokir nomor orang lain, aku yakin kamu punya alasan yang kuat.”
“Aku masih punya hati buat dia, jadi nggak mungkin aku sejahat itu.” Aku membela diri.
__ADS_1
Panjang-lebar Putra menceritakan ucapan Reza saat itu kepadaku. Dari A hingga Z, tidak ada yang terlewat sedikit pun, bahkan sangat detail. Dan aku percaya, pasti tidak ada perkataan yang Putra kurangi ataupun dilebihkan. Putra selalu seperti itu, aku mengenal baik sifatnya.