Kesempatan

Kesempatan
BAB 45 | Katakan yang Sebenarnya


__ADS_3

“Kamu pulanglah bersama Jo, aku akan pulang bersama Barra. Jaga dia baik baik”, ucap Chaca setelah mereka semua keluar dari markas Belalang Merah, Shena hanya bisa menuruti perintah Chaca sedangkan Jo tak bisa menyembunyikan wajah bahagianya ketika ia mendapat sebuah kesempatan untuk berdua saja dengan Shena, wanita pujaan hatinya.


Suasana hening menyelimuti Chaca dan Barra didalam mobil. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara. Chaca yang terus saja menunduk dan Barra yang terus menatap jalan.


“Jadi, ada yang ingin kamu katakan?”, tanya Barra sambil terus menatap lurus kedepan.


“Tanyakan saja apa yang menjadi pertanyaanmu. Aku akan menjawabnya dengan jujur kali ini”, balas Chaca sambil menunduk. Ia takut Barra akan menjauhinya ketika ia mengetahui sebuah kebenaran dari Chaca yang tak masuk akal.


“Siapa mereka? Dan apa hubunganmu dengan mereka?”, tanya Barra sambil meminggirkan mobilnya dan berhenti untuk sekejap.


“Mereka adalah kumpulan Belalang Merah. Jika kamu tak tahu, mereka adalah pengedar narkoba yang sangat dicari cari oleh polisi sejak beberapa tahun yang lalu”, jelas Chaca sambil menundukkan kepalanya.


“Apa? Narkoba? Kamu berurusan dengan pengedar narkoba? Sejak kapan? Bagaimana bisa?”, sungguh pertanyaan dibenaknya tak dapat ia bendung ketika mengetahui Chaca berurusan dengan pengedar narkoba yang paling dicari di negeri ini.


“Aku tak mengetahui siapa mereka sebenarnya. Dari awal aku hanya ingin menghanjurkan kelima Dewan Direksi yang berusaha menjatuhkan orang tuaku dari posisinya. Hingga akhirnya aku dan Shena mengetahui sebuah kebenaran jika kelima Dewan Direksi menjual narkoba dan menyeludupkannya pada roll kain yang hendak dikirim ke luar, dari situlah aku mengetahui Belalang Merah dan antek anteknya”, jelas Chaca sekali lagi tanpa berani menatap mata Barra yang sedang kesal padanya.

__ADS_1


“Jika kamu tahu itu berbahaya mengapa kamu lanjutkan? Bukankah sudah cukup kelima Dewan Direksi kamu hancurkan?”, kesal Barra yang tak habis pikir pada Chaca yang terlalu dalam masuk kedalam masalah ini.


“Ku pikir semuanya telah selesai namun nyatanya tidak. Shena adalah mantan dari orang kepercayaan Belalang Merah. Aku menemukannya dijalan dan bersimpah darah, ia dikejar bahkan hampir dibunuh oleh Nomer 1, orang yang mati tergantung tadi. Aku dan Shena berusaha menutupi identitas Shena agar tak ketahuan namun enat bagaimana Belalang Mereah mengetahui bahwa Shena adalah si Anjing Gila, salah satu dari mereka. Karena itu mereka mengincar Shena. Aku tak bisa terima perlakuan mereka dan terus ikut bertarung bersama Shena sampai mereka semua habis. Apakah ini cukup menjawab seluruh pertanyaan dibenakmu?”, tanya Chaca yang sudah menjelaskan panjang lebar tentang siapa itu Belalang Merah.


“Hanya itu saja? Katakan segala tentangmu yang tak ku ketahui Cha. Segalanya dan ku mohon jangan ada yang kamu sembunyikan”, pinta Barra, tatapannya menunjukkan bahwa ia sangat mengkhawatirkan Chaca. Hatinya merasa tak tenang, hari ini saja ia baru mengetahui bahwa Chaca masuk dalam masalah yang sangat serius, ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tak tahu apapun tentang Chaca.


“Tak ada Barra, kamu telah mengetahui kisahku tetang Ryan dan Gina, lalu kelima Dewan Direksi juga Belalang Merah. Kamu mengetahui siapa saja yang berada di sekitarku, siapa Shena dan juga diriku yang sebenarnya. Kini tenanglah”, jawb Chaca menenangkan Barra yang terlihat khawatir dan panik akan dirinya. Pada akhirnya Chaca tak mengatakan seluruhnya, ia menyembunyikan hal bahwa ia akan segera menghilang dari sini dan kembali ke jamannya. Chaca tak mampu untuk menceritakan kenyataan yang menyakitkan itu, ia hanya tersenyum menunggu waktu sampai akhirnya ia harus kembali.


“Sudah ku pastikan bahwa kelima Dewan Direksi takkan berani berbuat yang macam maca padaku juga pada keluargaku. Kini aku bisa lebih santai dan menikmati sisa waktuku hanya bersama Barra”, gumamnya dalam hati yang merasa bahwa segalanya telah berakhir.


“Kamu baik baik saja?”, tanya Jo yang menyetir sambil sesekali membenarkan posisi kaca matanya yang sedikit turun. Tangannya bergetar dan jantungnya berdegup dengan sangat kencang, tak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa Shena akan berada di sampingnya seperti ini.


“Ya Tuhan, lebih baik aku kembali melawan mereka semua dari pada aku harus merasakan jantungku yang berdetak kencang seperti ini. Aku tak mampu menghadapi Shena”, gumamnya dalam hati disertai keringat mengucur deras keluar dari keningnya.


“Aku baik baik saja, lihatlah dirimu. Sepertinya kamu yang tak baik baik saja, apakah tubuhmu masih sakit? Biarkan aku yang menyetir”, ucap Shena yang melihat Jo berkeringat dan tangannya terus saja bergetar, pandangannya yang tak bisa fokus membuatnya berpikir jika tubuh Jo sedang kesakitan.

__ADS_1


“Ah.. Tak perlu, aku tak apa. Hanya berkringat saja”, balas Jo menepis tangan Shena yang mencoba memegang setirnya untuk menepikan mobil. Gejala yang dialami Jo tak pernah ia lihat sebelumnya, Shena masih yakin jika tubuh Jo sangat kesakitan hingga ia berkeringat dan tubuhnya bergetar, tanpa banyak berkata kata Shena meletakkan telapak tangannya pada kening Jo yang membuatnya semakin berkeringat dan bergetar.


“Astaga wanita ini, ia tak tahu apa yang sedang ia lakukan padaku. Ku mohon jangan berdiri, tetaplah tertidur”, ucapnya pada dirinya sendiri sambil sesekali melihat ke arah bawah, napasnya yang terengah engah semakin membuat Shena panik.


“Sepertinya tubuhmu baik baik saja, namun keringatmu sungguh sangat banyak. Katakan jika kamu merasa tak kuat lagi, aku akan menyetir”, tambah Shena setelah ia merasa bahwa Jo baik baik saja setelah ia memeriksa tubuhnya. Shena tak tahu jika Jo menyukainya, ia bahkan tak mengerti apa itu cinta dan bagaimana rasanya menyukai seseorang.


“Setelah ini, jika aku inginmengajakmu untuk makan malam bersama apa kamu keberatan?”, tanya Jo mencoba meyakinkan dirinya bertanya pada Shena yang duduk disampingnya.


“Hari ini? Boleh saja, aku sedang senggag”, jawab Shena dengan santainya tanpa mengerti apapun, yang ia tahu hanya makan malam besama Jo, sama halnya seperti ia mkan malam bersama Chaca atau Kimmi.


Hari.. Hari ini? Malam ini? Ah.. Baiklah”, jawab Jo terkejut dan sedikit teratah menjawab ketika Shena menganggap dirinya mengajak makan malam bersama malam ini. Namun ia juga tak ingin menyia nyiakan kesempatan yang ada didepan mata, Jo merasa sangat senang saat ia berhasil mengajak sang pujaan hati keluar bersamanya setelah mereka melewati hari yang berat siang ini.


“Katakan saja padaku dimana lokasinya dan aku akan kesana”, balas Shena sambil menatap Jo.


“Tak perlu, biarkan aku yang menjempurmu. Katakan saja dimana kamu tinggal, aku akan kesana”, jawab Jo.

__ADS_1


Tak bisa dibayangkan betapa bahagianya dia ketika Shena menerima tawarannya untuk maka malam bersama malam ini, Jo memang terlihat santai namun dalam dirinya ia seperti sedang menari nari kegirangan setelah berhasil mengajak Shena kencan untuk pertama kalinya.


__ADS_2