Kesempatan

Kesempatan
BAB 41 | Shena Si Anjing Gila


__ADS_3

“Pantau Pak Yohan selalu selama satu minggu ini. Aku ingin tahu siapa yang berbicara dengannya. Karena ada kemungkinan lawan kita akan mencoba mempengaruhi Pak Yohan dengan berbagai cara, terutama Gina”, seru Chaca yang duduk di samping Shena sedang menyetir mobil dan mendapat sebuah anggukkan darinya.


sebuah mobil melaju dengan kecepatan sangat tinggi dan menabrak mobil yang dikendarai oleh Chaca juga Shena, dari arah yang berlawanan mobil itu datang, segera mobil Chaca berguling dengan sangat keras dan hebatlah kerusakannya. Beruntung sebuah kantung udara sedikit melindungi benturan kepala mereka berdua, namun tetap saja darah mulai menetes di kepala dan beberapa bagian tubuh mereka. Beberapa orang turun dari mobil yang menabrak Chaca dan Shena, orang yang menabrak mereka berdua menunjukkan wajah mereka dan segera menolong Chaca dan Shena yang mulai tak sadarkan diri, tubuh mereka bahkan tak mampu digerakan ketika mereka melihat sekumpulan orang yang mencoba menyelamatkan mereka berdua.


“Ah.. Tidak.. Pergi kalian”, lirih Shena yang merasakan mereka memegang tangannya dan hendak menolongnya.


“Diamlah berengsek!! Ikuti saja”, jawab pria itu dengan kasar.


“Cepat hubungi rumah sakit dan minta mereka mengirim ambulan”, seru seseorang yang melihat kecelakaan itu terjadi, namun geraknya dihentikan oleh salah satu dari mereka.


“Tak perlu. Aku sudah menghubunginya, mereka berdua akan segera ditangani”, jawabnya memberikan tatapan yang sedikit menyeramkan. Kemacetan semakin membesar, dengan segera mereka mengeluarkan Chaca juga Shena dalam mobil itu. Shena sepenuhnya tak sadarkan diri namun tidak dengan Chaca yang mesih memiliki kesadaran meski hanya sedikit. Ia sangat mendengar suara ini, suara seorang pria yang pernah menyerang perusahaannya.


“Sial, suara ini.. Mereka adalah anak buah si Belalang Merah”, gumamnya dalam hati. Keinginan hati sangat ingin melawan mereka dan melarikan diri namun apa daya? Tubuhnya pun tak bisa ia gerakkan. Ia membuka kedua matanya dan melihat banyak orang mengerumuninya namun bukan itu yang Chaca lihat, ia sedang mencari Shena, matanya terus saja melihat kesana kemari dengan sangat lemah dan mendapati Shena sudah tak sadarkan diri.


“Tidak.. Jangan, jangan pisahkan aku dari Shena. Jangan”, lirihnya dalam hati sambil terus menatap Shena yang berbaring disisi lain dari dirinya.


Sebauh ambulan datang tak lama setelah mereka semua berhasil mengeluarkan Chaca dan Shena keluar dari mobil, tanpa mengatakan apapun lagi mereka memasukkan Chaca dan Shena masuk kedalam dua mobil ambulan yang berbeda. Namun didalam perjalanan mereka berpisah, Chaca dipisahkan sepenuhnya dari Shena.

__ADS_1


** Flash Back Beberapa Hari Lalu **


Nomer 1 memberikan sebuah foto pada Belalang Merah, foto dari Shena yang ia dapatkan. Bahkan dirinya tak percaya bahwa gadis dalam foto itu adalah Shena.


“Apa? dia sudah mati beberapa tahun yang lalu”, jawab Si Belalang Merah melihat foto itu dengan baik, sama seperti Nomer 1 yang tak percaya pada apa yang ia lihat dengan kedua matanya namun semua itu benar adanya, ia adalah Shena, si Anjing Gila. Salah satu orang kepercayaan Belalang Merah sebelum ia pergi meninggalkan Belalang Merah demi kehidupan yang lebih baik.


“Anjing Gila masih hidup? Bukankah kamu sendiri yang membunuhnya?” tanya Belalang Merah yang terlihat semakin tertarik mendengar penjelasan dari Nomer 1. Namun Nomer 1 tertunduk ketika Belalang Merah menanyakannya.


“Saya melihatnya tertabrak oleh sebuah truk, saya melihatnya sendiri jadi sudah pasti ia mati”, jawab Nomer 1 pada Belalang Merah yang membuanya menunjukkan amarahnya, segera si Belalang Merah berdiri lalu menampar pipi Nomer 1 dengan sangat keras hingga darah menetes dari ujung bibirnya dan meninggalkan bekas pada pipinya.


“Maafkan saya. Saya akan memastikan apakah wanita ini Anjing Gila atau bukan. Jika dia memang benar Anjing Gila, maka ia pasti memiliki tato yang sama seperti kami di bagian lengannya”, jawab Nomer 1 sambil menunduk ketakutan.


“Lalu bagaimana caramu memancing si Anjing Gila?”, tanya Belalang Merah kembali sambil mencoba meredakan amarahnya sebelum meledak sepenuhnya.


“Serahkan pada saya. Biar saya yang memastikan apakah itu dia atau bukan”, jawab Nomer 1


**** Flash Back Off ****

__ADS_1


“Sobek lengan bajunya”, ucap seorang pria yang menyamar menjadi tenaga medis yang membawa Shena bersama mereka. Salah satu dari mereka merobek kedua lengan baju Shena dan melihat sebuah tato yang sama seperti milik mereka. Maka terkejutlah mereka semua melihat bahwa wanita yang berada tepat dihadapan mereka adalah Si Anjing Gila.


“Tak ku sangka Anjing Gila masih hidup. Ku kira ia sudah lama mati”, seru seorang pria yang terkejut melihat tato belalang merah di bahu kanan Shena.


“Wanita ini sangat berbahaya, jaga ucapanmu. Awasi saja dia kalau kalau dia tersadar”, seru seorang dari mereka yang juga terlihat sedikit ketakutan melihat si Anjing Gila tak sadarkan diri dihadapannya.


Disisi lain, mobil yang ada Chaca didalamnya dilarikan ke tempat yang berbeda dari Shena, Chaca menyadari bahwa dirinya sedang terancam, mencoba untuk diam dan tenang. Meski tubuhnya tak bisa ia gerakkan namun kesadarannya perlahan mulai kembali sepenuhnya, luka pada bagian tubuhnya terlihat tak separah Shena.


“Sungguhkah dia si Anjing Gila? Jika memang benar dia maka kita cari mati melawannya ketika mendatangi perusahaan itu”, ucap salah satu anggota Belalang Merah.


“Sial, untung saja aku masih hidup. Namun siapa dengan wanita ini? Dia tak ada hubungannya bukan?”, sambung seorang dari mereka sambil menatapi Chaca yang terlihat tak sadarkan diri.


“Dia juga cukup kuat, jangan lupa apa yang ia lakukan pada kita saat kita menyerang perusahannya. Sepertinya kita juga harus berhati hati dengannya”, jawab salah satu dari mereka.


Chaca mendengar seluruh percakapan mereka dan kini ia sangat khawatir dengan keselamatan Shena, ia sangat menyayangi Shena dan tak ingin ia terluka, hatinya sangat kuat ingin menghajar mereka semua yang kemungkinan besar telah mengetahui identitas Shena yang sebenarnya namun tubuhnya masih tak mampu ia gerakkan dengan sepenuhnya.


“Apa yang harus ku lakukan? Shena. Kini aku terpisah darinya. Harapanku satu satunya hanya Kimmi. Temukan kami Kimmi, ku mohon” lirihnya dalam hati dengan harapan bahwa seseorang akan datang dan menyelamatkan mereka.

__ADS_1


__ADS_2