Kesempatan

Kesempatan
Chapter 12 : Selalu Beralasan


__ADS_3

Aku kembali terisak di atas tempat tidur, tidak kuasa menahan rindu walaupun tadi sempat melihat wajah lelaki itu, setelah sekian lama tidak melihat wajahnya secara langsung. Beberapa foto kami berdua yang masih aku simpan di dalam ponsel kembali aku pandangi. Hanya dengan memandangi foto wajahnya saja, sudah cukup bagiku. Ternyata hati ini belum bisa melupakannya.


Berjam-jam dilalui dengan memandangi foto itu, mengingatkan kembali akan setiap kenangan manisku bersamanya. Hingga akhirnya aku memejamkan mata, tertidur karena lelah menangis. Selalu seperti itu.


Tidak terasa angin sejuk sudah mulai masuk ke dalam kamar, melalui celah pintu balkon apartemen yang sengaja aku bukakan saat pulang tadi. Semilir angin itu langsung menggelitik permukaan tubuhku yang tidak tertutupi pakaian, membuatku perlahan membuka mata.


Cahaya kuning keemasan yang menyusup menerangi kamar terlihat begitu indah, sebagai tanda bahwa hari telah senja, hendak berganti menjadi gelap.


Satu hari lagi aku lalui, tetapi satu hari ini menjadi hari yang paling berat untuk aku lupakan. Bagaimana tidak, pikiranku yang mungkin sudah hampir melupakan lelaki itu, kini kembali terngiang hanya karena bertemu kembali dengannya. Memaksaku untuk mencoba kembali melupakannya dari awal.

__ADS_1


Mungkin, andai hari ini tidak melihat wajahnya lagi, hatiku ini tidak akan merasa segetir ini dalam menjalani hidup.


Aku masih tidak mau beranjak dari atas tempat tidur yang empuk ini. Tempat favorite satu-satunya di sudut apartemenku yang selalu menemaniku menghabiskan waktu jika tidak bekerja. Tiba-tiba saja air mataku jatuh, menetes tanpa mampu aku hentikan. Lagi-lagi aku terisak, aku sungguh mencintainya.


Bersamaan dengan itu ponselku berdering, tangan ini segera meraih benda tipis yang terselip di bawah bantal, rupanya saat tertidur tadi aku menyelipkannya di sana.


Di seberang sana, ayah langsung mengatakan betapa dirinya sangat merindukanku dan memintaku untuk segera pulang, berkunjung barang sehari atau dua hari. Begitu pula dengan bunda yang berkata sama, tidak ada bedanya dengan ayah.


“Iya, Yah, nanti aku usahakan buat pulang kalau ada hari libur.” Aku beralasan.

__ADS_1


Tiba-tiba yang berbicara sekarang adalah bunda, menanyakan bagaimana kabar Reza lalu dengan sesuka hatinya, dia merencanakan agar aku bisa pulang ke sana dengan Reza, seperti dulu.


“Enggak bisa gitu, Bun. Reza juga punya kehidupannya sendiri. Mana bisa aku bergantung sama dia. Lagian kalau aku pulang sendirian juga nggak masalah, ‘kan?” Aku sedikit tersulut emosi.


Bunda memang begitu, jika dia sudah menyukai seorang lelaki yang mendekatiku, maka dialah yang akan gencar untuk terus bertemu. Tapi sayangnya, bunda tidak mengetahui hubunganku dengan Reza yang sudah kandas. Mungkin hanya mereka saja yang terlalu berlebihan, atau mungkin aku juga terlalu berlebihan.


“Iya, Bunda, nanti aku sampaikan salam Bunda padanya. Aku mau mandi dulu, sudah sore. Aku sayang Bunda, sayang Ayah juga.” Aku langsung mengakhiri sambungan telepon itu, lalu menghela napas panjang.


Entah harus beralasan apalagi jika aku pulang nanti, untuk menghadapi mereka berdua. Bunda memang selalu menggebu-gebu, tetapi tidak pernah senyaman ini dan sesantai ini. Bahkan aku masih ingat betul, saat dahulu aku dan Reza pulang dari rumah mereka. Bunda dan ayah bersikap seolah Reza-lah yang menjadi anak mereka, bukan aku.

__ADS_1


__ADS_2