
Awal-awal kami saling memandang lalu membuang pandangan, lalu begitu lagi hingga akhirnya dia menawariku untuk mencicipi hidangan di acara itu.
“Sudah makan? Aku belum makan.” Dia berusaha membuka obrolan untuk membuang rasa canggung di antara kami.
“Trus?” Saat itu aku benar-benar tidak mengerti dari maksudnya mengajukan pertanyaan itu padaku. Apakah itu artinya dia mengajakku untuk makan bersama atau hanya sekedar memberitahukanku bahwa dia sedang merasa lapar.
“Yaaa ... kalau belum makan, ayo kita makan sama-sama. Tapi kalau sudah makan, aku bisa—”
“Oh, aku belum makan,” ucapku menyela perkataannya.
Dia langsung mengajakku menyusuri sebuah meja saji makanan prasmanan di salah satu sudut ruangan ini. Di sana tertulis jelas bahwa hidangan itu di khususkan untuk tamu VVIP atau keluarga mempelai saja. Seketika aku menarik pakaiannya, lebih tepatnya kemeja batik bagian pinggang belakangnya, sebab aku berjalan tepat di belakangnya.
“Kenapa?” tanyanya menoleh seraya menghentikan langkah kaki.
__ADS_1
“Ini khusus VVIP sama keluarga.” Aku berbisik lalu menunjukkan di mana kertas keterangan itu berada.
Reza menoleh ke arah kertas itu, lalu kembali menoleh lagi kepadaku dan berkata, “Aku keluarganya dan kamu ‘kan tamu VVIP-nya. Bukannya tadi aku diminta untuk menjaga kamu selama di sini?”
Plak!
Aku menepuk pundaknya lalu menjawab, “Bukan menjagaku, tetapi menemaniku. Lagi pula sejak kapan aku jadi tamu VVIP?” Aku mengernyitkan kening.
Reza kembali melangkah meneruskan tujuannya ke arah meja yang menyediakan piring, sendok dan garpu lalu dia langsung memgambil nasi putih dari wadahnya. Untuk beberapa saat aku terdiam, mencoba mencerna jawabannya barusan lalu ikut melangkah ke arahnya. Melakukan hal yang sama dengannya, mengambil nasi, lauk pauk serta sayuran yang dihidangkan.
Sebuah meja kosong di deretan paling belakang terlihat begitu jelas olehku, cocok untuk aku dan Reza menyantap makanan kami. Dia menoleh padaku dan memberikan kode untuk menuju ke meja yang tadi aku maksudkan. Kami sepemikiran. Dengan sigap, langkah kaki kami langsung menuju ke meja itu, meletakan piring di sana, dan kami segera duduk.
Semua terjadi begitu cepat dan entah apa yang membuat aku dan Reza menjadi larut dalam sebuah perbincangan saat itu. Tertawa bersama, saling mengajukan pertanyaan dan saling bercerita. Semuanya mengalir begitu saja, bak sebuah daun yang jatuh ke permukaan air sungai, larut perlahan hingga menuju ke muara.
__ADS_1
Muara yang aku pikir akan terlihat indah, tetapi nyatanya malah terlihat tak sesuai akidah.
Ingatan kilas balik awal pertemuan kami itu membuat napasku seketika sesak. Berkali-kali aku kembali mencoba untuk menghirup udara sejuk pada balkon kamarku pagi ini, dan hasilnya nihil. Napasku tetap tersengal, bagai pelari marathon yang sudah berlari ribuan kilo meter dan tidak menemukan garis finishnya. Tersesat di dalam hutan.
Sebenarnya memang benar, iya, aku memang sedang berlari. Mencoba lari dari kenyataan bahwa kedekatan kami harus berakhir tragis. Mestinya aku yang lebih dahulu mengambil keputusan untuk mundur, pergi menjauhinya saat aku mengetahui tentang dia yang nyatanya masih berhubungan dengan kekasihnya yang aku kira sudah menjadi mantannya.
Aku pikir, dia sama sepertiku. Mengambil keputusan yang sama yang aku lakukan saat dengan Angga, mengakhiri hubungan yang sudah retak. Tapi ternyata tidak. Dia hanya menggunakan aku sebagai pengisi rasa jenuh dalam hubungannya bersama kekasihnya itu. Yang pada akhirnya membuat hubungan itu semakin kuat dengan kekasihnya, hingga dia meminta untuk berpisah denganku. Dia lebih memilih kekasihnya.
Sekali lagi aku bertanya, mengapa harus mengucapkan berpisah, jika dari mana awalnya saja aku tidak tahu? Mengapa tidak langsung pergi menghilang saja? Menjauh dari kehidupanku dan jangan pedulikan aku lagi.
Mungkin itu akan lebih mudah, bagiku ...
***
__ADS_1