
Dan benar saja, kali ini ayah lagi-lagi memintaku pulang dan membawa Reza ikut serta. Ayah memang merasa cocok dengannya, sebab dia akhirnya menemukan lawan yang tepat untuk bermain bidak catur. Lawan yang cukup tangguh, tidak aku sangka jika Reza pintar bermain catur.
Tak hanya itu saja, Reza juga menyukai dunia pancing-memancing. Dulu dia pernah ikut pergi ke laut bersama ayah dan teman-temannya, memancing bersama tanpa memberitahuku.
Aku menghela napas dengan kasar. “Aku belum bisa pulang, Yah. Pekerjaanku masih menumpuk.”
Setelah menjelaskan betapa sibuknya aku dengan pekerjaan, ayah akhirnya mengerti dan memakluminya. “I love you too. Katakan pada bunda, kalau aku juga mencintainya. Bye.” Panggilan telepon itu berakhir.
Sembari meletakkan ponsel, aku menyandarkan punggungku pada kursi kerja yang empuk ini. Meregangkan tubuh, menarik napas kemudian mengembuskannya. Sudah aku duga ini akan terjadi, tetapi aku belum sanggup mengatakan pada ayah dan bunda, jika Reza memutuskan untuk mengakhiri kedekatan kami.
Ya, kedekatan, mungkin kata ini yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan antara aku dan dia. Hanya dekat. Tanpa status dan tanpa perasaan. Mungkin.
Setiap hari aku lalui seperti biasanya, kembali pergi ke kantor sendiri dan pulang pun juga sendiri. Mengendarai mobilku lagi yang sebelumnya sudah lama terparkir di garasi apartemen. Hanya sesekali aku menyentuhnya dalam dua tahun terakhir untuk memanaskan mesinnya, membawanya pergi-pulang ke kantor. Namun kali ini, aku akan kembali menggunakannya untuk menemani keseharianku.
__ADS_1
“Adell!” seru suara seorang wanita di belakang yang membuatku refleks menoleh. Ternyata suara itu berasal dari mulut Sandra, rekan kerja sekaligus teman baikku selama ini.
Sandra menarik sebuah kursi milik rekan kerjaku di sebelah, yang tepat berada di balik kubikel. Mungkin pemilik kursi itu sedang tidak ada, pikirku. “Apa?”
Wajah Sandra terlihat kecut, mirip raut wajah seorang anak kecil yang sedang merajuk karena tidak jadi dibelikan sebuah mainan. “Kenapa sih? Jelek banget.” Aku menambahi.
“Temenin keluar, yuk! Buntu ide ini!” keluhnya.
“Keluar ke mana? Ke rooftop gedung ini?”
Aku terkekeh. “Trus keluarnya ke mana?”
Sandra terlihat berpikir sejenak, bola matanya berlarian ke sana kemari, seperti sedang berpikir keras.
__ADS_1
“Mau ngajak keluar aja pake mikir. Gitu bilangnya buntu ide.”
“Mikirin tempat sama mikirin kerjaan itu jelas beda jauh. Jadi nggak usah protes deh!” Sandra semakin sewot, membuatku tertawa pelan.
Aku suka menggodanya di saat pikirannya kacau seperti itu, menjadi hiburan tersendiri untukku. Apalagi jika dia sedang dihadapkan dengan beberapa deadline, dia akan lebih terlihat mengerikan daripada seekor singa jantan.
Dengan menggunakan mobil Sandra, kami menyusuri jalanan ibu kota, menuju ke salah satu café di daerah Kemang. Tempat favorite Sandra jika sedang pelik dengan sekelumit masalah hidupnya. Butuh waktu sekitar 25 menit untuk sampai ke sana dari jarak kantor. Memang lumayan jauh, tetapi Sandra benar-benar menyukai café tersebut. Tempatnya memang sangat cozy dan cocok untuk melepas penat.
Sandra sudah bergelut dengan MacBook-nya sedari awal kami duduk di salah satu sudut café ini. Dia langsung mengerjakan kewajibannya yang sempat tertunda akibat otaknya yang tidak terlalu fresh, sudah seperti buah saja, yang fresh akan lebih terasa gress. Tapi begitulah Sandra, dia memang harus seperti itu, otaknya harus diajak rileks agar pekerjaannya cepat selesai.
Sedangkan aku yang duduk di hadapannya lebih memilih untuk membaca sebuah novel fiksi. Bergenre romance karena aku memang menyukai dunia yang romantis. Bukan sebuket bunga ataupun sebungkus cokelat, bagiku romantis itu cukup dengan perilaku. Cara memperlakukan orang lain dengan tulus.
Beberapa tahun yang lalu aku tidak lagi percaya dengan yang namanya cinta. Sebab bagiku berpacaran dengan jarak jauh bukanlah tentang cinta, tetapi tentang kepercayaan. Sedangkan arti cinta dan kepercayaan sangatlah berbeda jauh. Namun berbeda saat aku bertemu dengan Reza. Dia membuat aku secara tidak sadar, merasakan arti cinta lagi.
__ADS_1
***