Kesempatan

Kesempatan
Chapter 14 : Aku Tidak Sanggup!


__ADS_3

Aku duduk sendiri, dengan sebuah gelas minuman yang berisi banana coffee ice di depanku. Minuman best seller di kedai kopi yang satu ini. Mungkin sudah sekitar 30 menit lebih aku duduk dan menunggu kedua temanku datang, Dinar dan Rendy. Aku memang sudah merencanakan bertemu dengan mereka berdua di sini malam ini, untuk membahas tentang rencana surprise party yang kami buat untuk Monica, teman saat kuliah hingga sekarang.


Kami berempat memang akrab, bahkan sudah bisa dikatakan sebagai saudara. Selalu terhubung dan selalu berusaha menyempatkan waktu untuk bertemu, walaupun kami berbeda tempat bekerja. Tetapi itu bukanlah suatu alasan perpecahan di antara kami.


“Udah lama, Dell?” tegur Dinar yang sekejap datang dari arah belakangku. Tentunya berbarengan dengan Rendy juga.


“Lumayan, minumanku hampir habis nih.” Aku menunjukkan gelas minumku. “Kalian udah pesan?”


“Sudah tadi,” sahut Rendy.


Kemudian, kami bertiga langsung membicarakan rencana yang kami susun untuk mengadakan pesta ulang tahun Monica bulan depan, tepat setelah perayaan tahun baru. Namun, tiba-tiba ponsel kami serentak berbunyi, suara sebuah pesan dari grup Whatsapp. Isinya mengatakan bahwa Monica memiliki rencana ulang tahunnya sendiri.

__ADS_1


Kami bertiga spontan saling berlempar pandangan, tidak menyangka jika dia akan mengadakan party-nya sendiri.


“Jadi gimana ini?” tanya Rendy.


“Batal dong, rencana kita tadi?” Dinar menambahi.


Aku hanya bisa mengangkat kedua bahu lalu kembali meletakkan ponsel ke atas meja. Meminum sisa banana coffee ice-ku untuk yang terakhir kalinya. Pikiranku buyar seketika ditambah lagi saat mata ini melihat dari kejauhan, saat sebuah mobil memasuki tempat parkir, persis di depan kedai kopi ini.


Deg deg! Deg deg!


Dan benar saja, lelaki itu keluar dari dalam mobilnya, aku semakin panik. Entah dia melihatku atau tidak, yang jelas aku secepat kilat memasukkan ponselku ke dalam tas, lalu berpamitan pada Dinar dan juga Rendy.

__ADS_1


“Kalian lanjut aja, ya? Aku pergi duluan.” Sambil memasang jaket yang aku bawa sebelumnya.


“Loh, kenapa, Del?” tanya Rendy yang menangkap gelagatku, ia menoleh dan sepertinya menangkap bayangan Reza di depan kedai yang melangkah masuk.


“Kalian lanjut aja, toh, Monic juga udah punya planning sendiri. Jadi kita ikut planning Monic aja, lupain rencana kita. Aku duluan.”


Di saat aku mengatakan itu dan berdiri dari kursiku, di saat itu pula aku melangkah pergi dan berpapasan dengan lelaki itu. Lelaki yang benar-benar menyakiti hatiku hingga detik ini. Lelaki yang mana aku benci sekaligus aku cintai sepenuh hati.


Salahkah jika aku mencintai lelaki milik wanita lain?


Ya, dia memang milik wanita lain. Dia memiliki kekasih, wanita yang menemaninya setiap hari. Wanita yang hingga detik ini menghiasi pikirannya. Entah bagaimana hubungannya dengan wanita itu, yang jelas, aku masih ingat betul ucapannya dulu. Dia tidak ingin menyakiti perasaan pasangan masing-masing. Pasangan!

__ADS_1


Dengan secepat kilat aku melangkah keluar dari kedai itu, hanya menatap ujung kakiku dan pergi meninggalkan semua yang tertinggal di sana. Aku tidak sanggup!


***


__ADS_2