Kesempatan

Kesempatan
BAB 35 | Antara Kamu dan Aku


__ADS_3

Chaca kembali ke perusahaannya dan memulai pekerjaannya, kali ini ia melewatkan makan siangnya hanya untuk fokus pada perusahaan yang sangat ia inginkan.


“Shena, ke ruangan saya sekarang”, perintah Chaca memanggil Shena dari telepon yang berada di mejanya. Chaca berencana untuk memberikan sebuah misi baru untuk Shena., melihat Shena telah masuk ke dalam kantornya, Chaca memberikan sebuah foto padanya yang akan menjadi misi selanjutnya.


“Ini adalah foto dari pemimpin PT Citra Sentosa Abadi, Pak Yohan. Awasi setiap gerak geriknya dan laporkan padaku setiap pergerakannya, siapa yang ia temui dan apa yang ia lakukan”, perintah Chaca pada Shena saat itu juga. Segera Shena mematuhi perintah Chaca dan pergi dengan foto yang ia bawa. Memata matai seseorang cukup mudah dilakukan oleh Shena, beberapa foto telah berhasil diambil oleh Shena hari itu, melihat dengan siapa ia bertemu sungguh sangat mengejutkan bagi Shena. Dia adalah Pak Joyo, ayah dari Gina.


“Jadi bagaimana? Apa sudah memikirkan tawaran yang pernah saya berikan?”, tanya Pak Joyo sambil menyeruput secangkir kopi dihadapannya. Disampingnya ada beberapa penjaga yang berdiri menjaganya. Sedang Shena duduk tak jauh dari tempat mereka berdua.


“Masih terlalu dini. Saya tak pernah berpikir untuk menjual perusahaan ini”, jawab Pak Yohan yang adalah pemimpi dari PT Citra Sentosa Abadi.


“Pikirkan kembali, saya takkan mengatakannya untuk yang kedua kali”, balas Pak joyo, lalu ia beranjak meninggalkan Pak Yohan seorang diri. Seperti dibuat bingung oleh sebuah keadaan, bagaimanapun Pak Yohan tak mungkin semudah itu menyerahkan perusahaannya pada orang lain.


Shena mengakhiri tugasnya dan ia meninggalkan resaturan itu segera. Namun ditengah perjalaan ia melihat seseorang yang ia kenal dengan baik, dia adalah Pak Karto yang sedang berpelukan dengan Gina. Mata Shena terbelalak melihat mereka berdua memasuki sebuah kafe bersama, membuat Shena berpikiran yang tidak tidak.


“Apa apaan ini? Gina dan Pak Karto? Apa hubungan mereka berdua?”, gumam Shena dalam hatinya. Tak ingin menyia nyiakan kesempatan yang ada, Shena turun dan membuntuti mereka berdua namun kafe itu terlalu penuh dan Shena tak bisa mendengar percakapan mereka sama sekali. Shena mengeluarkan sebuah alat pelacak yang ia miliki dan selalu ia bawa bersamanya, satu ia letakkan ditelinga dan satu lagi ia berikan kepada pelayan.


“Letakkan ini dibawah minuman salah satu dari mereka dan jangan sampai ketahuan”, perintah Shena pada pelayan itu dengan tatapan yang menyeramkan, membuat pelayan itu takut dan menuruti perintahnya.


“Tolong katakan pada papa untuk mempercayakan padaku perusahaan miliknya, bukankah paman ini adik kesayangan papa? Papa pasti akan menuruti paman dari pada Gina”, rengek Gina pada Pak Karto .

__ADS_1


Shena sunggu terkejut dengan pembicaraan mereka berdua, tak pernah ia ketahui sebelumnya bahwa Pak Karto adalah keluarga Gina, musuh yang sangat ingin dijatuhkan Chaca.


“Tunggu sampai Bu Chaca mendengarnya”, gumam Shena dalam hati sambil terus membaca menu alih alih menutupi wajahnya untuk bersembunyi dari mereka berdua.


“Merayu papamu sangat mudah untuk dilakukan. Namun ada satu hal yang harus kamu lakukan Gina, kamu harus merayu Pemimpin dari PT Citra Sentosa Abadi, agar ia mau menjual perusahaannya pada papamu. Kamu sangat cantik, paman yakin kamu bisa melakukannya bukan?”, ucap Pak Karto pada Gina yang duduk dihadapannya itu.


Kali ini sudah diluar kendali Shena, ia keluar dari kafe itu dan langsung melaporkan segalanya pada Chaca. Kali ini Chaca harus bertindak lebih cepat sebelum semuanya terlambat, dengan kecepatan yang tinggi Shena menginjak gas mobilnya agar ia segera sampai dikantor.


“Saya kembali”, ucap Shena masuk kedalam ruangan Chaca ditengah kesibukannya.


“Apa yang kamu dapatkan?”, tanya Chaca dengan fokusnya pada dokumen yang sedang ia baca.


“Pak Joyo? Gina?”, tanya Chaca memastikan apa yang didengarnya. Shena mengangguk membenarkan tebakan Chaca.


“Ini gila.. Mengapa selalu ada Gina disetiap apa yang ingin ku kerjakan?”, geram Chaca sambil memukul meja di hadapannya.


“Lalu apa lagi?”, tany Chaca pada Shena dengan kemarahan yang masih menguasai dirinya.


“Saya yakin bahwa anda tak pernah mengetahui tentang kebenaran ini. Pak Karto adalah paman dari Gina. Dan ia memerintahkan Gina untuk merayu Pak Yohan agar Pak Yohan mau menjual perusahaannya pada Pak Joyo”, sambung Shena menjelaskan apa yang ia dengar di kafe pada Chaca. Dan benar saja, Chaca semakin terkejut dan ia seperti orang bodoh yang tak tahu apapun tentang Gina.

__ADS_1


“Ku pikir hanya aku yang mengerti siapa Gina sebenarnya namun ternyata aku masih tak mengetahui apapun tentang Gina”, seru Chaca sambil menyandarkan diri pada kursinya. Chaca mengambil waktu sejenak utuk berpikir sebelum ia kembali melangkah dengan rencananya. Kini ia tahu bahwa tak ada waktu lagi untuk bersantai, sesegera mungkin Chaca harus mendapatkan PT Citra Sentosa Abadi sebelum Gina merayu dengan tubuhnya.


“Kosongkan jadwal untuk esok, saya akan menemui Pak Yohan”, perintah Chaca pada Shena.


“Aku takkan tinggal diam, kini bersainglah denganku Gina, aku dengan kepintaran dan otakku sedangkan kamu dengan tubuh murahanmu”, ucapnya dalam hati menatap ke satu titik.


Jalan yang harus Chaca lewati bukanlah jalan yang mudah, ia selalu menemuka kesulitan kesulitan didalamnya dan setiap hari kesulitan itu pasti ada, kini Chaca telah melewati satu bulan hari harinya sejak ia melewati dimensi waktu dan kembali ke masa lalu. Hanya menyisakan dua bulan baginya untuk menuntaskan segalanya dan pergi ke masanya.


Lamunan Chaca terbubarkan karena sebuah panggilan masuk dari ponselnya, ia melihat nama Barra di layar ponselnya, yang membuat marahnya perlahan berubah menjadi sebuah senyuman.


“Ada apa?”, jawab Chaca yang masih mencoba untuk menenangkan dirinya.


“Tak ada apa apa, kamu sibuk? Bagaimana jika aku berkunjung ke kantormu? Karena aku yakin hari ini aku tak bisa melihatmu”, jawab Barra.


“Tak perlu, aku saja yang ke kafe untuk makan siang”, balas Chaca segera dengan mengambil tas dan kunci mobil di lacinya.


“Kamu past sangat sibuk, biarkan aku yang menemuimu, bekerjalah seperti biasa dan tunggu kedatanganku. Sayang”, jawab Barra. Barra membisikkan kata kata sayangg dengan perlahan agar tak ada satupun karyawannya yang mendengranya lalu ia mengakhiri panggilannya dengan Chaca.


Dengan mudahnya Chaca tersipu malu mendengar Barra yang memanggilnya dengan kata kata sayang, ucapan yang sudah tak pernah lagi ia dengar dari orang lain.

__ADS_1


“Apa apaan dia? Mengapa mudah sekali baginya membuat suasana hatiku yang buruk menjadi lebih baik?”, gumam Chaca dalam hati sambil tersenyum tersipu malu.


__ADS_2