
Disela pertarungan antara Shena dan Nomer 1, seorang wnaita datang dengan pedang kayu dalam genggamannya. Kimmi datang setelah ia mengetahui dimana Shena disekap. Pandangannya tertuju pada mereka semua yang sedang bertarung, membuat darahnya mendidih ingin ikut serta didalamnya, yang ia kenal dan lihat hanya Shena saja, ia tak mengenal seorang pria yang sedang dikeroyok oleh anak buah Belalang Merah itu.
“Hei!!.. Bantu Jo, aku akan menyusul”, teriak Shena dari kejauhan yang melihat Kimmi baru saja datang dengan pedang kayu di tangannya. Pandangan Kimmi segera tertuju pada seorang pria yang sedang dikeroyok dengan senyuman di wajahnya.
“Baklah, mari kita bersenang senang”, ucapnya sambil menyeringai lalu mulai melawan mereka membantu Jo yang terlihat sangat kelelahan harus melawan mereka semua seorang diri. Menyadari bahwa Jo mulai kewalahan, Kimmi berdiri tepat didepan Jo sambil mengacungkan pedang kayunya.
“Beristirahatlah sebentar, biar aku yang melanjutkannya. Saat sudah membaik, bantu Shena”, ucap Kimmi dengan mata yang menatap lawan lawannya dengan tajam bak ingin membunuh mereka semua yang berani menculik Shena.
“Aku masih kuat untuk bertarung”, ucap Jo yang seakan tak membutuhkan bantuan dari Kimmi, seorang wanita yang bahkan tak ia kenal.
“Aku mengatakannya bukan karena khawatir padamu. Beristirahatlah dan tunjukkan dirimu didepan Shena jika ingin mengambil hatinya. Dia bukan tipe wanita yang mudah di taklukan”, balasnya yang mengetahui sebuah kenyataan bahwa Jo menyukai Shena. Mendengar ucapan Kimmi, Jo menurut dan beristirahat sebentar untuk sekedar mengatur napasnya sebelum ia pergi ke arah Shena yang sedang bertarung dengan begitu semangatnya.
Perlahan namun pasti Barra melajukan mobilnya lebih cepat hingga pada batas kecepatan maksimal, demi untuk mengetahui apa yang Chaca sembunyikan darinya dan rahasia apa yang Chaca simpan seorang diri selama ini, mengikuti permintaan sederhananya bukanlah sebuah masalah. Banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan dalam benak Barra sejak ia melihat Shena yang tergeletak dengan darah yang memenuhi tiap tubuhnya hingga penculikan yang dialami Chaca dan kali ini Barra melihat masalah yang lebih serius lagi.
“Siapa kamu sebenarnya Cha?”, tanya Barra dalam hatinya sambil menyetir dengan penuh konsentrasi.
“Benarkah ini tempatnya?”, tanya Barra pada Chaca yang merasa tak mengenal lokasi yang ia tuju. Namun titik terakhir dari Shena menunjuk ke tempat ini. Pabrik yang terbengkalai, hingga Chaca melihat sebuah mobil yang pernah ia temui sebelumnya.
“Benar, Shena ada disini. Itu mobil yang pernah mendatangi perusahaanku”, ucapnya lalu turun dari mobil Barra dan masuk ke dalam pabrik itu seorang diri.
Aroma anyir darah dan juga suara teriakan yang terdengar menyambut Chaca dan Barra yang baru saja menginjakkan kaki mereka di tempat itu, ia melihat banyak sekali darah ditempat dimana mereka berjalan, tempat yang sungguh sangat menyeramkan dan tak sedap dipandang. Semakin lama suara teriakan dan juga jerit kesakitan semakin terdengar oleh Chaca dan Barra. Dengan menggulung lengan bajunya, Chaca melangkah sedikit lebih cepat karena takut hal buruk akan terjadi pada Shena.
Pemandangan yang sangat tak indah untuk dipandang, banyak dari mereka yang sedang bertarung dan banyak juga dari mereka yang tergeletak tak sadarkan diri atau mungkin telah mati. Chaca melihat dua orang yang sangat ia kenal sedang bertarung, Shena dan juga Kimmi, Shena yang sibuk melawan si Nomer 1 dan Kimmi yang sibuk dengan anak buah Belalang Merah.
__ADS_1
“Chaca, apapun yang kamu pikirkan. Hentikan semuanya disini”, ucap Barra menahan langkah Chaca untuk maju dan ikut bertarung, Barra sangat terkejut melihat sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya, terlalu banyak darah dan juga pertarungan yang tiada henti.
“Kamu ingin mengetahui semua tentangku bukan? Dari sini, kenali aku lebih dalam Barra”, ucap Chaca melepaskan genggaman Barra darinya dan mulai maju menghajar siapapun yang menghalangi jalannya menuju Kimmi.
“Maaf tak datang membantumu lebih dulu Cha”, ucap Kimmi yang melihat Chaca datang lalu ikut bertarung bersamanya.
“Tak perlu, aku memilikinya yang selalu ada disisiku”, balas Chaca tersenyum pada Kimmi sambil melihat Barra yang juga ikut bertarung. Ia tak ingin satu orang pun berani menyakiti Chaca ketika ia sedang bersenang senang seperti ini.
“Hebat juga dia dalam bertarung”, puji Kimmi yang takjub melihat kehebatan Barra yang sangat mempesona ketika ia menghajar anak buah Belalang Merah
...****************...
“Hooshh... Hooshhh.. Hooosshh !!!”, Shena dan juga Nomer 1 seperti telah mencapai batasnya, tak terhitung sudah berapa kali mereka mengenai serangan satu sama lain, seperti tak mampu untuk berdiri dengan kedua kaki mereka namun pertarungan ini belum selesai. Dirinya yang ingin sekali terlepas dari bayang bayang Belalang Merah namun kenyataannya dimanapun ia menginjakkan kakinya, disitu mereka akan datang dan berusaha menarik Shena masuk ke dalam kegelapan yang susah payah ia lepaskan.
BRAKKKK!!!
Bongkahan kayu mengenai kepala bagian belakang dari Shena. Nomer 1 yang geram dengan tekat juga semangat Shena untuk menghabisinya berhasil membuatnya risau dan juga takut. Bahkan kini ia ragu bahwa ia akan mampu menalahkan Shena yang sekarang.
“Aku pun juga akan menghabisimu disini”, balas Nomer 1 dengan senyuman yang menyeramkan. Darah mulai mengucur keluar dari kepala bagian belakang Shena, ia merasa sangat pusing dan pandangannya mulai kabur, tubuhnya melemah menjadikan hal itu sebagaia kesempatan untuk Nomer 1 dengan mudah menghabisinya.
Bughh
Bughh
__ADS_1
Bughh
Bughh
Pukulan dan hantaman terus saja diterima Shena, Nomer 1 tanpa henti menghajarnya tanpa ampun.
“Ha.. Ha.. Rasakan itu ******!! Mati kamu sekarang”, ucap Nomer 1 sambil mencekik kencang batang leher Shena hingga ia kesusahan dalam bernapas, tubuhnya yang lemah tak bisa menandingi kekuatan Nomer 1, ia tak bisa melepaskan diri.
BUUKK!!!!
Tendangan kencang dari Chaca berhasil membuat tangan Nomer 1 lepas. Chaca sungguh sangat marah melihat orang yang disayanginya dihajar bahkan hampir dibunuh. Kemarahannya menjadikannya sebuah kekuatan bagi Chaca, hatinya yangs angat sakit melihat Shena tergeletak bahkan sulit bernapas membuat Chaca menyerang Nomer 1 terus menerus tiada henti, Chaca menuntun Nomer 1 menuju sebuah rantai yang berada di samping kirinya lalu mengikat leher Nomer 1 dengan rantai dan menariknya hingga keatas. Kemarahannya mampu membuat Nomer 1 terikat dan naik terus keatas hingga ia tak lagi bisa bergerak.
“Lepaskan aku sialan!!”, teriaknya sambil terus mencoba melepaskan diri. Tubuhnya terus bergoyang untuk melepaskan diri namun ikatan rantai dilehernya terlalu kuat hingga akhirnya ia menyadari bahwa ini adalah akhirnya, ia harus mati di markasnya sendiri.
“Akan ku tunggu kalian di neraka!!!”, ucapnya yang terakhir sebelum ia mati tergantung.
Seluruh anak buah Belalang Merah termasuk Nomer 1 telah berhasil mereka habisi. Namun, sang Belalang Merah sendiri menghilang. Chaca tak terlalu memusingkan kaburnya Belalang Merah, yang ia khawatirkan adalah Shena yang mengeluarkan darah dengan sangat banyak dikepalanya.
“Tak ku sangka Nomer 1 mati ditangan anda”, ucap Shena yang mencoba bangit dan menahan kepala bagian belakangnya yang mengeluarkan banyak darah.
“Akan ku pastikan kamu yang membunuh Belalang Merah Shena, lalu jalani hidupmu seperti apa yang kamu inginkan”, ucap Chaca lalu memapah Shena keluar dari tempat terkutuk itu.
Kimmi, Jo dan Barra pun ikut keluar bersama mereka, meski Barra masih belum menemukan jawabannya namun ia tetap memilih untuk berada disisi Chaca.
__ADS_1