
“Untuk apa membuang waktu lebih banyak lagi? Habisi saja mereka berdua. Mencari tahu untuk siapa mereka bekerja bukanlah hal yang sulit untuk saya lakukan”, seru Shena yang memperkeruh suasana, membuat mereka berdua semakin ketakutan.
“Ku mohon, kami akan mati ditangannya”, seru mereka memohon pada Chaca dan Shena untuk mengampuni nyawa mereka dan membiarkannya pergi.
“Apakah kalian nampak seperti memiliki pilihan lain selain mengatakannya padaku?”, tanya Chaca.
“Belalang Merah!!. Belalang Merah yang memerintahkan kami” jawab salah satu dari mereka yang sudah tak tahan lagi dengan ancaman Chaca pada mereka berdua, hingga ia membuka mulutnya dan mengatakan yang sebenarnya.
“Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Sekarang lepaskan aku !! Lepaskan aku!!” teriaknya ketakutan.
Chaca dan Shena saling bertatap tatapan. Dugaan mereka benar, cepat atau lambat Belalang Merah akan datang dan membalaskan dendamnya pada mereka yang telah menghancurkan markas dan juga melumpuhkan seluruh anak buahnya. Shena merogoh sesuatu pada saku celananya dan mengeluarkan sebuah besi bertuliskan “ANJING GILA”. Ia membakarnya hingga besi itu memanas lalu menempelkannya pada dada mereka masing masing hingga cap tulisan ANJING GILA itu terlihat pada tubuh mereka.
“Arrgghh!!!!”, teriak mereka yang merasakan panas dan juga sakit pada dada mereka akibat ulah Shena yang memberikan tanda kepemilikannya.
“Sampaikan salam hangatku padanya. Aku sungguh menunggu kedatangannya” seru Shena dengan tatapan menyeramkannya yang selalu berhasil membuat bulu kudung merinding.
Mereka berdua dilepaskan begitu saja stelah Chaca dan Shena yakin bahwa Belalang Merah lah yang sedang menantang mereka saat ini. Keadaan seperti tak memberikan Chaca sebuah kesempatan untuk beristirahat selama hampir dua bulan ini. Bekerja dan bekerja serta menjari petunjuk atas kasus kebakaran pabrik selalu menjadi santapannya sehari hari.
“Setelah ini, apa rencana anda Bu Chaca?”, tanya Shena beerjalan keluar dari gedung itu bersama Chaca yang berada di sampingnya.
__ADS_1
“Kita tunggu waktu yang tepat, dia akan mendatangi kita. Saat hari itu datang, habisi dia dan lenyapkan Belalang Merah dari muka bumi Shena”, ucap Chaca lalu masuk ke dalam mobilnya dan kembali ke apartemennya.
...****************...
Sinar matahari pagi mulai menampakan dirinya yang menembus kaca jendela kamar Chaca yang tak tertutup sempurna oleh tirai, bersamaan dengan bunyi alarm yang selalu ia pasang tepat pukul enam pagi, Chaca membuka kedua matanya perlahan dan mulai bangun, ia merasakan kepalanya yang sedikit sakit akibat bekerja terlalu keras. Kantung mata yang menghitam dan semakin membesar adalah bukti nyata bahwa Chaca membutuhkan istirahat yang lebih dari sebelumnya. Selalu terjaga di tengah malam dan menyelesaikan seluruh pekerjaannya membuatnya lupa jika dirinya pun membutuhkan istirahat.
“Benarkah? Aku baru pulang pukul tiga dan harus bangun pukul enam? Manusia macam apa yang tidur dua sampai tiga jam setiap harinya?!” geramnya sambil mengacak acak rambutnya yang terlihat sangat berantakan.
Dari luar kamarnya ia mendengar sebuah mesin kopi miliknya berbunyi, ia mengamati kamarnya baik baik dan meyakinkan dirinya bahwa ia sedang berada di apartemen miliknya dan bukan di rumah kedua orang tuanya.
“Siapa? Apakah seseorang masuk ke dalam rumahku?”, batin Chaca lalu memakai alas kaki dan keluar dengan menggunakan kardigan untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai baju tidur yang sangat tipis. Seorang pria yang hanya nampak punggungnya sedang memasak di dapur miliknya, ia tersenyum mengenali siapa pria itu.
“Sudah bangun? Duduklah di meja makan, aku akan menyiapkan sarapan untuk kita berdua”, ucap Barra yang melihat Chaca berdiri di sampingnya sambil terus saja memadanginya dengan tersenyum.
“Kapan kamu datang? Mengapa tak membangunkanku?”, tanya Chaca berjalan menuju meja makan lalu duduk seperti apa yang dikatakan Barra.
“Aku? Entahlah, setengah jam yang lalu mungkin, aku tak yakin. Sepertinya kamu pulang larut malam lagi semalam”, jawab Barra sambil mulai menata makanan di piring secara perlahan.
Chaca diam dan tak menjawab Barra, ia tak ingin menceritakan apa yang terjadi semalam dan alasan mengapa ia pulang ke rumah sangat larut, aksi diamnya hanya ia tutupi dengan senyuman yang terpasang di wajahnya mencegah Barra curgia padanya.
__ADS_1
“Ada apa? Beberapa hari ini kita tak bertemu karena kesibukan masing masing. So, how’s your day?”, tanya Bara sambil meletakkan piring di atas meja makan lalu duduk dihadapan Chaca menunggunya untuk bercerita.
“Tak ada apa apa, hanya bekerja dan bekerja”, jawab Chaca sambil menyedokkan sesuap kedalam mulutnya.
“I can see it, right under your eyes” ucap Barra menunjuk ke arah mata Chaca. Suasana sarapan pagi itu sangat menyenangkan dan terasa sangat hangat bagi mereka berdua. Perlahan makanan dalam piring mereka habis bersamaan berjalannya waktu yang telah menunjukkan pukul setengah tujuh.
“Ah.. Perutku bahagia sekali rasanya”, ucap Chaca merasa lega karena perutnya telah terisi penuh oleh makanan yang sangat lezat oleh Barra.
“Pergilah mandi dan bersiap. Akupun harus bersiap”, ucap Barra tersenyum melihat ke arah Chaca namun tatapannya kali ini berbeda, membuat Chaca kembali duduk.
“Ada apa? Sepertinya sesuatu terjadi padamu bukan padaku”, tanya Chaca.
“Mungkin kita takkan bertemu satu atau dua minggu kedepan. Ada yang harus ku selesaikan di Australia. Papa menyuruhku untuk menghadiri sebuah acara menggantikannya lalu aku harus pergi ke Surabaya setelahnya, karena aku harus membuka cabang di sana. Beberapa hari tak bertemu denganmu sudah sangat menyiksaku dan kini aku harus pergi meninggalkanmu lebih dari satu minggu Cha”, jelas Barra. Chaca hanya tersenyum mendengar kekasihnya yang sedang mengadu padanya.
“Pekerjaanmu lebih penting, kembalilah setelahnya Barra. Aku menunggumu disini”, hibur Chaca yang melihat Barra sedikit sedih karena harus meninggalkannya.
“Berjanjilah padaku selama aku pergi kamu tidak boleh terlibat dengan hal yang dapat membahayakan dirimu Cha”, ujar Barra menatap Chaca dengan wajah khawatirnya.
“I promise”, balas Chaca sambil menggenggam tangan Barra lalu meninggalkannya untuk bersiap siap bekerja.
__ADS_1