
Siang itu, bersamaan dengan air mata yang keluar engan derasnya, Gina mendatangi kantor Chaca, ia terlihat sangat berantakan dan tak beraturan entah apa yang terjadi dengannya saat itu. Semua mata tertuju pada Gina dengan penampilannya yang berantakan berjalan mendekati ruangan Chaca namun langkahnya dihentikan oleh Shena yang berdiri tepat menghadangnya.
“Tolong, biarkan aku bertemu Chaca, aku membutuhkannya”, seru Gina memohon pada Shena yang menghadang langkahnya namun Shena masih berdiri tegak dan tak beranjak dari tempatnya.
“Bu Chaca sedangg tak bisa ditemui, datanglah lain waktu”, balas Shena tegas.
“Ini sangat penting, menyangkut hidup dan matiku. Ku mohon”, seru Shena lalu ia jatuh tersungkur sambil menangis sekencang kencangnya, membuat Chaca pada akhirnya keluar dari kantornya.
“Suaara bising apa ini?”, tanya Chaca melihat Gina yang jatuh tersungkur di hadapan Shena sambil menangis, Gina berdiri dan mendapakan Chaca, ia menggenggam tangan Chaca sambil menangis.
“Chaca.. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan lagi, ku mohon bantu aku. Setidaknya yang terakhir” pinta Gina pada Chaca sambil terus memohon pada Chaca layaknya seorang sahabat baginya.
__ADS_1
Chaca menepis tangan Gina dan menarik langkahnya mundur, ia tak lagi ingin berhadapan atau berurusan dengan Gina apapun itu masalahnya, Chaca menatap Gina tajam lalu ia membalikkan tubuhnya hendak melangkah masuk ke dalam kantor.
“Ah.. Chaca ku mohon, jika tak ingin membantuku tolong selamatkan papa. Papa dalam bahaya, ku mohon selamatkan papa” tangisnya semakin kencang, menjadikannya pusat perhatian setiap karyawan yang berjalan melewati jalan itu.
Langkah Chaca terhenti ketika Gina membawa nama ayahnya, Pak Joyo. Chaca membutar kembali tubuhnya dan datang mendekat pada Gina.
Chaca duduk di samping Gina yang masih menangis sesunggukkan, ia memerintahkan Shena untuk memberikan ruang untuknya dan Gina berbicara, kedua mata Gina yang sembab dan juga wajahnya yang sangat panik berhasil membuat Chaca sedikit luluh pada mantan sahabatnya ini, sekejam kejamnya Chaca, ia tak bisa mengesampingkan fakta jika ia sulit mengabaikan kesusahan orang lain terlebih orang itu orang terdekatnya.
“Ada apa?”, tanya Chaca melunak
“Aku.. Aku terlibat dengan sindikat penjualan narkoba Cha, aku juga adalah pemakai. Kini karena aku tak bisa membayar juga ketahuan mencuri, papa di sekap. Mereka mengancam jika sampai sore ini aku tidak membayar maka mereka akan menghabisi papa”, seru Gina sambil menahan sesunggukan tangisnya.
__ADS_1
Chaca membolakan kedua matanya, ia sudah mengetahui bahwa Gina pernah menjadi buyer dari Belalang Merah namun ia tak pernah mengira bahwa akhirnya akan menjadi seperti ini. Meski ia cukup membenci Gina namun tidak dengan ayahnya, Chaca segan pada Pak Joyo karena beliau orang yang sangat baik padanya selama mereka berdua bersahabat dahulu.
“Aku tak bisa meminta bantuan siapapun lagi Cha, tak mungkin aku menghubungi polisi. Tak ada pilihan lain lagi Cha, aku tak bisa meminta bantuan pada orang lain. Ku mohon bantu aku, kali ini saja, setelah ini kamu ingin kembali membenciku pun silahkan. Asalkan papa selamat”, rintihnya yang terdengar sangat putus asa, kali ini Chaca tak lagi mampu mengabaikan Gina, ia sendiri tahu bagaimana kejamnya Belalang Merah.
Chaca berdiri dan menghubungi Kimmi dan Shena yang berada di depan dengan telepon yang berada di mejanya.
“Aku akan membantumu”, seru Chaca pada Gina
“Kalian berdua masuklah ke dalam”, perintah Chaca pada Shena dan Kimmi.
Tatapan yang sangat tajam diberikan Shena pada Gina yang masuh duduk dengan nyaman di sofa, air matanya yang mengalir sangat dibenci oleh Shena mengingat Gina sudah berkali kali menghkianati Chaca.
__ADS_1
“Aku berharap Bu Chaca tak membantu binatang ini”, gumamnya dalam hati.