
Waktu terasa lambat berlalu bagiku yang masih dalam proses menyembuhkan hati. Aku menghindari semua tempat yang pernah aku kunjungi saat dahulu bersama dengan lelaki itu. Aku bahkan membenci tempat-tempat itu. Bagiku semua tempat itu menciptakan kisahnya tersendiri, kisah tentang kebahagiaan yang pernah aku rasakan. Kisah yang dulunya aku agungkan, tetapi kini aku hina. Serendah-rendahnya.
Aku mulai mencari kesibukan selain dari pekerjaan tetap, untuk mengisi waktu luang di akhir pekan, seperti saat ini. Sudah sangat jarang aku pergi untuk sekedar hangout menikmati secangkir kopi dan waktu santaiku.
Setelah selesai membersihkan pekerjaan rumah, aku langsung bergegas untuk bersiap pergi. Mengelilingi kota untuk membuang rasa jenuh yang setiap akhir pekan selalu aku habiskan berdiam diri di kamar. Tidur, menonton film ataupun sekedar melihat-lihat isi media sosial yang aku miliki.
Dengan keberanian aku melangkahkan kaki menuju ke kedai kopi favorite itu, tempat di mana dulu aku menghabiskan coffee time bersama dengan Reza. Tempat yang juga menjadi saksi akhir dari perjalanan kami berdua. Entah mengapa, aku ingin sekali ke sana.
Baru saja ujung jemariku menyentuh kenop pintu kedai, suara seseorang terdengar menyerukan namaku. Jauh di belakangku. “Adella!”
Aku menoleh, mencari sumber suara hingga terlihat sosok seorang pemilik kedai, Putra namanya. Sebuah senyuman aku kembangkan khusus untuknya yang berjalan mendekati.
__ADS_1
“Apa kabar? Sudah lama enggak ke sini, ke mana aja?” tanyanya yang kini sudah berdiri di depanku.
“Ada, kok! Banyak kerjaan, jadi baru kali ini ke sini lagi. Kangen kopi buatan kamu.” Aku sedikit menggodanya, ia tertawa.
Putra sang pemilik kedai ini memang terbilang sukses. Ia sudah banyak memiliki cabang kedainya dengan nama yang berbeda-beda. Aku sudah lama mengenalnya, sejak sekolah, karena ia merupakan kakak kelasku. Dulu saat sekolah, dia juga pernah menjalin hubungan asmara dengan temanku yang akhirnya juga kandas. Temanku lebih memilih pria sukses berbeda pulau yang dapat menjamin kehidupannya di masa depan.
Tapi siapa sangka? Setelah perpisahan mereka, Putra malah semakin sukses dengan usaha yang memang menjadi hobinya. Ya, ia menyukai dunia kopi, bukan hanya sekedar penikmat kopi sepertiku.
“Kali ini aku mau mencoba varian yang lain, buatkan yang segar-segar,” pintaku. Dengan sebuah senyuman Putra menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaanku.
Baru satu langkah aku memasuki kedai itu, pandangan mataku langsung mengarah menuju sebuah sudut ruangan, tempat di mana aku duduk terakhir kalinya beberapa bulan yang lalu bersama dengan Reza.
__ADS_1
Bullsh*t jika aku katakan dapat melupakannya. Buktinya saat ini pikiranku dipenuhi oleh bayangannya. Selalu, setiap harinya hingga detik ini. Sakit? Ya, itu yang aku rasakan dan tidak berubah. Masih sakit sampai saat ini.
Aku langsung kembali melangkah menuju meja bar, tempat di mana berbagai macam bungkus biji kopi tersaji, lengkap dengan beberapa mesin kopi dan peralatan lainnya. Duduk tepat di depan meja bar dan melihat Putra mengenakan apronnya.
“Aku buatkan long black orange, mau?” tawarnya.
“Terserah kamu, yang pasti aku mau yang seger-seger.”
Aku memerhatikan Putra membuatkan minuman untukku. Lelaki yang satu ini memang sangat ahli. Berbagai macam biji kopi sudah pernah ia racik dan hasilnya selalu enak. Putra juga tidak segan mengajarkan ilmu tentang dunia kopinya kepada para karyawannya. Bahkan denganku pun, dia juga mau berbagi resep dapur kedainya. Sungguh sangat baik.
__ADS_1
Maka tidak heran, jika kedai kopi ini selalu saja ramai pengunjung dan mereka betah untuk berlama-lama. Dan rata-rata para pengunjung selalu memesan lebih dari satu gelas kopi. Mengobrol menghabiskan waktu bersama.