
“Mari kita akhiri secepat mungkin. Jika pria tua itu mengatakan bahwa dalang dari peristiwa mengerikan itu adalah orang orang terdekatku itu artinya salah satu dari kalian yang berani bermain main dengan hidupku. Maka sekarang akan ku kubur kalian semua!!” Batin Chaca sambil menggepalkan tangan kanannya kuat kuat setelah ia memerintahkan Kimmi untuk segera menghubungi polisi esok hari jika mereka tak segera membayar semua hutang hutang Ryan padanya.
Hari ini Chaca kembali pulang larut malam karena banyak dokumen yang harus ia selesaikan mengingat saat ini perusahaan yang dipimpinnya sudah semakin besar dan hampir mampu menyaingi perusahaan induk, mengharuskannya untuk tetap berada di ruangannya dan menyelesaikan pekerjaan yang sangat melelahkan. Waktu terpantau telah menunjukkan pukul sepuluh malam, seluruh pegawainya telah pulang dan hanya menyisakan dirinya sendiri. Fokusnya dalam bekerja sangat menyita waktunya hingga waktu menunjukkan tepat pukul dua belas malam.
“Astaga.. Ini sudah terlalu larut. Haruskah aku pulang dan menyelesaikannya esok hari? Sungguh, tubuhku sangat lelah hari ini”, lirihnya sambil meregangkan tubuhnya yang sangat tegang akibat bekerja tiada henti.
Cuaca hujan yang sangat deras, Chaca menggunakan jaket yang sangat tebal untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya malam dan juga hujan yang menyerangnya di malam hari. Mobil sudah terparkir di hal, namun ketika ia hendak menaiki mobil ponselnya berdering. Shena menghubunginya tengah malam.
“Ada apa?”, tanya Chaca menanggapi panggilan dari Shena.
“Jangan pulang ke rumah Bu Chaca, saya ada di sebrang jalan sedang memantau anda. Belalang Merah telah kembali, kini ia meletakkan mata mata disekeliling anda. Giring mereka ke tempat yang sepi dan saya akan menghabisi mereka”, ucap Shena memperingatkan Chaca akan datangnya sebuah ancaman dari Belalang Merah yang berani mendekat kembali.
“Sial. Mereka sunggu para belalang yang meresahkan!! Baiklah, lima ratus meter setelah stasiun ada gedung terbengkalai, saya akan menggiring mereka kesana. Bersiaplah, kita hajar mereka semua!!”, balas Chaca lalu mengakhiri panggilannya. Matanya melihat ke segala arah hingga ia melihat beberapa orang yang sangat mencurigakan dibeberapa titik yang seperti sedang memperhatikannya.
“Cih!! Dasar sampah!!. Berani sekali kalian kembali menantangku!!”, gumamnya dalam hati, Chaca menyalakan mobilnya dan segera menggiring mereka ke sebuah bangunan terbengkalai untuk menghajar mereka semua.
“Kemana wanita itu pergi? Ini sudah hampir ke pinggir kota”, ucap salah satu anak buah Belalang Merah yang masish saja terus mengikuti Chaca tanpa mengerti arah dan tujuan mereka.
__ADS_1
“Tak tahu, bos menyuruh kita untuk mengikutinya saja selama satu minggu ini”, balas pria lain dalam mobil itu sambil terus memantau arah Chaca pergi.
Hingga mereka tiba di sebuah bangunan tua yang terbengkalai, gelap gulita tempat itu dan tak ada satu pun penerangan di tempat itu.
“Sial. Kita dijebak. Ambil senjata yang ada di bagasi dan berjaga jagalah kalau kalau mereka mulai menyerang kita!!”, balas yang lain dengan tatapan sedikit panik. Aksi mereka dengan mudah diketahui oleh Chaca, dengan cepat Chaca melumpuhkan kedua orang itu lalu menyekapnya didalam gedung sambil menunggu mereka tersadar dari pingsan.
“Benarkah mereka anak buah Belalang Merah? Mengapa mereka sangat ceroboh sekali? Mudah dilumpuhkan”, seru Chaca sambil duduk dan melihat wajah serta tubuh mereka, mencari tato yang melambangkan bahwa mereka adalah salah satu anggota Belalang Merah namun Chaca tak menemukannya di tubuh mereka.
Hampir satu juam mereka berdua tak sadarkan diri, hingga Shena menyiramkan se ember air untuk membangunkan mereka yang berani mendatangi Chaca dengan niatan jahat.
“Ah... Hah.. Haahh.. Hahh!!”
“Nyenyak sekali tidur siang kalian?” tanya Shena yang berdiri sambil memutari mereka berdua. Cengkraman tangan Shena yang sangat kuat berhasil membuat bahu mereka terasa sakit, semakin kuat dan semakin cengkraman mereka maka semakin kesakitan mereka berdua, rintihan dan juga rengekan mereka yang meminta dibebaskan sungguh tak dihiraukan oleh Chaca yang sedang duduk dihadapan mereka.
“Ah.. Sakit sekali.. Lepaskan!!”, pekik mereka menahan sakit yang tak bisa dihindari, tangan dan kaki mereka yang terikat membuat mereka tak bisa melawan perlakuan Shena pada mereka.
“Mari kita lakukan secara cepat. Kalian menjawab pertanyaanku, maka kalian keluar dari tempat ini hidup hidu. Namun jika kalian berbohong atau bahkan tak menjawabnya, akan ku potong salah satu baian tubuh kalian sampai kalian mengaku. Paham!!”. Ancam Chaca sambil memegang sebuah belatih tajam di tangannya dan menatap mereka berdua yang tertangkap oleh Shena.
__ADS_1
“Lebih baik bunuh saja aku dari pada aku harus mengaku. Aku bukan seorang pengkhianat!!”, jawab salah satu dari mereka dengan berani. Chaca mampu melihat kesungguhan dan juga keberanian dalam tatapan mata juga caranya menjawab, membuat Chaca merasa kagum. Namun berbeda dengan yang lain. Tatapannya yang menunjukkan ketakutan dan tubuhnya yang bergetar dengan hebat membuat detak jantungnya berdegup kencang, ucapan Chaca berhasil membuatnya merinding ketakutan. Chaca berjalan ke arah pria yang terlihat ketakutan dan menempelkan belatik pada wajah lalu turun ke batang lehernya, membuat sensasi kematian seperti terasa baginya.
“Ku.. Ku mohon.. Ja.. Jangan B..Bunuh aku”, pintanya dengan keringat mengucur deras dari tubuhnya. Chaca menggores kecil pada bagian tulang pipinya, membuat darah mulai menetes keluar. Meski goresan kecil namun rasanya sangat menyakitkan mengetahui Chaca mengancam akan membunuhnya jika ia tak juga mengaku.
“Kalau begitu katakan siapa yang mengirimmu kemari sialan!!”, bisik Chaca pada telinga pria yang ketakutan itu. Suasana menakutkan bagi dirinya, tubuhnya yang tak bisa ia kendalikan membuat dirinya tak bisa berbicara dengan baik saat Chaca berbisik padanya.
“Jangan jadi pengecut bodoh!! Jangan katakan apapun padanya. Dia takkan berani menyentuh kita”, cegah yang lain tak membiarkan kawannya mengatakan yang sebenarnya. Chaca hanya tersenyum mendengar perkataan pria di sampingnya itu yang terlihat tanpa rasa takut sedikitpun dalam dirinya, hingga ia mengangkat pelatihnya dan menusuk pangkal paha dari pria yang ketakutan itu hingga ia berteriak kesakitan
Jleebbb!!!
“Aaaarrggkkhhhh” teriaknya, tetesan air mata keluar karena tak kuat menahan sakit akibat tusukan yang diberikan oleh Chaca.
Chaca memegang belatih itu dan memutarnya perlahan lalu mencabutnya, membuat luka yang semakin besar pada pangkal paha pria itu. Darah perlahan keluar dan menetes hingga ke tanah. Kini kedua pria itu percaya bahwa Chaca tak bermain main dengan ucapannya saat ia mengatakan akan membunuh mereka berdua jika mereka berbohong ataupun tak membuka mulutnya.
“Baru satu tusukan namun rasanya sungguh menyakitkan bukan? Aku bisa memberikan tusukan yang lain di tubuh kalian berdua dengan senang hati jika kalian masih tetap tak mengatakan apapun padaku”, seru Chaca yang duduk dihadapan mereka berdua, deru napas ketakutan mereka sangat dirasakan oleh Chaca dan itu membuatnya senang, melihat musuhnya lemah tak berdaya.
“Jadi, mari kita mulai dari awal. Siapa yang mengirim kalian padaku?!”, tanya Chaca sekali lagi dan kali ini ia lebih serius dari sebelumnya.
__ADS_1