
Siang itu, Chaca yang disibukkan dengan seluruh pekerjaan yang tak ada habisnya mendengar sebuah keributan dari arah luar kantornya, meski samar samar namun Chaca masih mampu mendengar teriakan dan juga suara suara yang sedikit mengganggu ketenangannya dalam bekerja.
“Saat ini apa lagi yang terjadi? Tak bisakah aku bekerja dengan tenang?”, seru Chaca meremas boploin yang ia genggam lalu memijat keningnya.
BRAAKK!!!
Suara gebrakan pintu menambah kekesalan Chaca yang sudah pusing karena suara suara yang mengganggu ketenangannya. Tatapannya tertuju pada seorang pria dengan keringat yang membasahi wajahnya, pria yang tak pernah diharapkan kehadirannya dan kali ini ia datang dengan membawa keributan.
“Chaca!!”, ucapnya sambil menangis, membuat Chaca bingung dibuatnya.
“Apa ini? Mengapa kamu datang dan membuat keributan? Pergilah!!”, Hardik Chaca yang sama sekali tak peduli dengan air mata yang dikeluarkan oleh Ryan saat itu. Ryan mendatangi Chaca dan menangis sambil memegangi tangan Chaca yang berdiri tepat di hadapannya sambil menunduk.
“Kali ini saja, ku mohon bantu aku”, lirihnya dengan isak tangis yang terlihat sangat meyakinkan dihadapan Chaca.
“Apa yang terjadi?”, tanya Chaca tak yakin dengan apa yang ia tanyakan meski ia sangat penasaran.
“Mama, mama di rumah sakit Cha... Mama kecelakaan dan sekarat diri, ia sangat ingin bertemu denganmu. Kata dokter.... Kata dokter mama tak bisa tertolong lagi, ia sangat ingin bertemu denganmu. Ku mohon bantulah aku”, lirih Ryan sambil terus menangis tersedu sedu dengan tangan yang masih setia menggenggam tangan Chaca siang itu.
Chaca melepaskan genggaman tangan Ryan dari tangannya dengan tatapan tak peduli yang terlihat kuat dari sorot matanya namun Ryan kembali menggenggam kedua tangan Chaca dan membalas sorot mata Chaca yang tak yakin dengan dirinya. Melihat Ryan yang sangat serius dengan ucapannya membuat Chaca iba dibuatnya, pertahanannya luluh mengingat bahwa hanya ibunya saja yang sangat baik padanya. Ryan berhasil mebuat Chaca goyah untuk sekejap.
“Ku mohon, aku takkan datang lagi, bahkan aku takkan mengganggumu Cha. Mama benar benar sekarat dan mungkin ini permintaan terakhir mama”, seru Ryan yang terlihat ketakutan saat itu. Kini pertahanan Chaca luluh sepenuhnya melihat tangisan dan juga kesungguhan Ryan kali ini, membuatnya menuruti keingiannya untuk datang ke rumah sakit bersamanya.
“Baiklah. Namun berjanjilah ini yang terakhir kalinya”, seru Chaca sambil mengacungkan satu jarinya pada Ryan.
__ADS_1
Mendengar bahwa Chaca setuju dengan keinginan Ryan, Shena masuk dan menahan langkah Chaca sambil menatapnya dalam dalam.
“Tetaplah disini, jangan ikuti keingiannya. Bagaimana jika ini hanya sebuah jebakan?”, bisik Shena mencegah Chaca. Namun Chaca mengisyaratkan pada Shena bahwa semua akan baik baik saja.
“Tenanglah, aku bisa menjaga diri. Perusahaan ini ku titipkan padamu”, ucap Chaca menenangkan Shena. Merasa bahwa sesuatu akan mengancam Chaca, Shena dengan cepat memasukan sebuah alat pelacak kedalam saku celaca Chaca disaat Shena menggenggam tangannya tanpa ketahuan.
Setelah Chaca mengambil tas dan barnag barangnya, ia pergi bersama Ryan. Sangat jelas bahwa Shena merasa bahwa segalanya hanya sebuah sandiwara Ryan saja yang mengajaknya untuk pergi menemui ibunya di rumah sakit.
“Kamu melakukannya dengan baik, Bu Chaca bahkan taak menyadarinya”, ucap Kimmi membubarkan lamunan Shena saat ia sedang berdiri melihat Chaca yang perlahan menghilang bersama Ryan.
“Kamu melihatnya?”, tanya Shena pada Kimmi yang sedikit ragu..
“Dengan sangat jelas”, balas Kimmi menatap pada Shena
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, Ryan dengan kencang mengendarai mobilnya agar ia segera sapai ke rumah sakit namun tiba tiba Ryan membelokkan arahnya dna membuat Chaca menatap curiga padanya.
“Apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu mengambil jalur ini?”, tanya Chaca curiga.
“Tenanglah, aku tahu jalan tercepat”, jawab Ryan singkat sambil terus menatap kedepan. Chaca merasa sesuatu yang buruk tengah terjadi padanya, raut wajah Ryan telah berbeda dari sebelumnya, kini ia terlihat sangat tenang seperti tak terjadi apa apa. Namun Chaca tetap diam dan bersabar meyakinkan dirinya bahwa takkan terjadi sesuatu atas dirinya. Jarak tempuh dari kantor Chaca ke rumah sakit yang tak terlalu jauh saat ini seperti sangat jauh dan Chaca sangat yakin bahwa jalan yang mereka lewati bukanlah jalan ke rumah sakit.
“Kamu berbohong padaku? Kemana kamu membawaku?”, tanya Chaca menatap tajam pada Ryan yang terlihat tenang tenang saja.
“Bodoh, Baru kamu menyadarinya?”, jawab Ryan lalu menyuntikkan sesuatu pada leher Chaca yang mmebuat Chaca perlahan mulai kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
“Sial.. Apa yang kamu lakukan keparat?”, umpat Chaca yang mulai merasakan dirinya mulai lemah tak berdaya. Pandangannya yang kabur membuat Chaca perlahan menutup kedua matanya yang sudah tak tertahankan lagi.
“Kamu yang memaksaku melakukan ini Cha. Jika saja kamu tak memutuskan hubungan kita maka aku takkan berbuat sejauh ini”, seru Ryan pada Chaca yang kini telah tak sadarkan diri.
Kini tibalah mereka disebuah tempat yang jauh dari apapun dan siapapun, tempat yang telah laama terbengkalai dan hampir tak ada seorangpun yang mengetahui tempat ini. Ryan memarkirkan mobilnya dan memapah Chaca lalu megikat kedua tangan terangkat keatas dan kakinya dengan posisi berdiri, sedang ia menunggu Chaca sampai ia sadarkan diri sambil menatap kecantikan Chaca yang dianggap masih kekasihnya itu.
“Cantik. Cantik sekali, bahkan saat ia tak sadarkan diri”, gumam Ryan menatap kecantikan Chaca.
Disisi lain, Shena menatap layar laptopnya untuk memantau Chaca dari perusahaan. Ia sudah merasakan sesuatu yang aneh pada Ryan sejak ia datang kemari dan menangis dihadapan Chaca.
“Lihatlah, ini bukan arah ke rumah sakit. Dimana mereka? Apa yang Ryan lakukan dengan Bu Chaca?”, seru Shena yang terus menatap layar laptopnya. Titik kecil yang berkelap kelip itu berhenti di suatu tempat dan tak bergerak lagi, membuat Shena yakin bahwa disitulah Chaca dan Ryan berada sekarang dan yang pasti itu bukanlah sebuah rumah sakit.
“Apa menurutmu titik ini terlihat seperti menunjukan lokasi sebuah rumah sakit?”, tanya Shena pada Kimmi yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
“Ku rasa tidak. Haruskah kita menjemput Bu Chaca untuk kembali? Sepertinya firasatku buruk tentang Bu Chaca”, jawab Kimmi yang mendapat sebuah anggukkan dari Shena.
Belum sempat mereka beranjak, sebuah telepon dimeja mereka berbunyi.
“Selamat pagi, dengan PT Warna Abadi”, sapa Shena yang mengangkat panggilan itu.
“Shena ini aku. Apakah Chaca tak ada ditempatnya? Ponselnya mati”, balas seseorang di seberang sana.
“Ah, Barra. Bu Chaca sedang pergi. Dengan Ryan”, jawab Shena. Barra tak meneruskan percakapan mereka akrena segera setelah ia mendengar bahwa Chaca pergi dengan Ryan, ia segera mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
“Sudahlah, pergi dan jemput Bu Chaca. Aku akan menjaga disini. Hubungi aku jika terjeadi sesuatu maka aku akan segera menyusulmu”, seru Kimmi yang terus saja terfokus dengan pekerjaannya