Kesempatan

Kesempatan
BAB 48 | Ancaman


__ADS_3

Segalanya berjalan dengan sangat baik di pemandangan Chaca, seluruh usaha dan juga rencananya sejauh ini tak ada masalah, sampai seorang pria tua datang ke perusahaan Chaca dan mengacau di sana. Dia adalah ayah dari Ryan, ia datang bersama dengan amarahnya yang membara dan disambut oleh Kimmi yang sat itu berdiri di hadapannya.


“Minggir, aku tak memiliki urusan dengan mu. Panggil Chaca keluar dari ruangannya”, perintahnya dengan nada membentak, Kimmi mendekat dan melipat kedua tangannya sambil memandang remeh ayah Ryan yang berdiri dihadapannya.


“Siapa anda berani berkata seperti itu?”, balas Kimmi yang sungguh tak menyukai cara berbicaranya.


“Aku adalah calon ayah mertua dari Chaca. Sekarang masuk dan panggil anak itu keluar dari ruangannya!!”, bentaknya pada Kimmi yang tak merasa takut sedikitpun dengan kemarahnnya, ia hanya tersenyum pada Shena dan tak menanggapi pria tua yang sedang mengamuk itu.


“Bu Chaca sedang tak bisa diganggu, ia sangat sibuk. Mohon buat janji dulu dengan Bu Chaca jika anda ingin menemuinya”, balas Kimmi mencoba berbicara sopan pada orang yang lebih tua darinya.


Suara bising dan teriakan dari luar sedikit mengganggu ketenangan Chaca dalam bekerja, hingga ia melangkahkan kakinya keluar untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi didepan kantornya itu.


Matanya tertuju pada pria tua yang sedang menatapnya dengan sangat marah, Chaca hanya tersenyum tipis melihat ayah dari Ryan mengunjunginya dan memerintahkan Kimmi untuk mundur lalu mempersilahkannya masuk kedalam ruangannya.

__ADS_1


“Buatkan minuman untuk kami berdua”, perintah Chaca pada Kimmi lalu menutup pitu ruangannya.


Sikap sopan Chaca tak mengurangi amarahnya untuk surut, hingga dititik paling ujung pun ia tak bisa berbicara dengan manis pada Chaca, orang yang mampu mengambil semua yang dimiliki olehnya.


“Kamu. Bukankah kalian menjalin sebuah hubungan? Lalu mengapa kamu merusak usahaku? Mengapa kamu menghancurkannya?!”, bentak ayah Ryan pada Chaca yang duduk dihadapannya.


Dimata Chaca, ayah Ryan tak lebih dari seorang pria tua yang mengunjunginya saja. Mereka bahkan tak memiliki hubungan apapun, antar pribadi atau bisnis.


“Bukankan saya sudah memutuskan hubungan dengan Ryan beberapa waktu lalu? Wajar saja jika saya mengambil apa yang menjadi hak saya jika Ryan tak bisa mengembalikannya bukan?”, balas Chaca dengan tenang lalu menyeruput teh yang baru saja datang.


Ucapan Chaca berhail membuat pria tua itu ketakutan dan sedikit menurunkan nada bicaranya yang sedari tadi berteriak dan membentak Chaca, wajahnya mulai khawatir ketika Chaca memilih menyerahkan masalah ini pada polisi.


“Berapa hutangnya?” Tanya ayah Ryan sedikit melunak.

__ADS_1


“Bawakan perjanjian pembayaran hutang atas nama Ryan sekarang”, perintah Chaca pada Kimmi yang berdiri tepat disampingnya. Segera Kimmi keluar dan mengambilkan perjanjian pembayaran hutang milik Ryan dan menyerahkannya pada Chaca. Wajah dari ayah Ryan sungguh sangat panik kala itu.


“Hutang Ryan pada ku sebesar 652.000.000 dengan bunga 5% setiap bulannya. Menjadikannya 674.600.000, lalu dia baru membayar 10,000.000 jadi hutangnya tersisa 664.000.000. Tak terlalu besar bukan?” ucap Chaca dengan santainya mengatakan nominal yang cukup besar itu pada ayah Ryan.


Matanya membola ketika Chaca menyebutkan hutang anaknya itu tubuhnya bergetar dan perutnya merasa mual ketika ia mendengar nominal cukup besar itu.


“Besok adalah batas akhirnya dan saya harap Ryan bisa membayar atau kalian akan berurusan dengan polisi” imbuhnya.


“Lalu bagaimana dengan Ryan yang kamu hajar habis habisan? Ia pulang dnegan luka di wajah dan di sekujur tubuhnya. Haruskah aku mempermasalahkannya juga”, tanya ayah Ryan yang mencoba untuk membela diri dan bertahan dari Chaca yang seperti sedang menekan juga memerasnya.


“Jadi itu yang dikatakan Ryan pada ayahnya? Ia tak menceritakan yang sebenarnya? Ha.. Ha.. Sebenarnya saya tak ingin mempermasalahkannya namun anda yang membuka terlebih dahulu. Tahukah anda bahwa Ryan yang menculik saya waktu itu? Ia bahkan mencoba untuk memperk*sa saya. Jadi anda sudah mengerti mengapa Ryan pulang dengan luka di wajah dan tubuhnya bukan? Nasib baik ia tak mati saat itu!”, ucap Chaca menceritakan kebenarannya pada ayah Ryan.


Kini ayah Ryan diam dan tak mampu berkutik, ia merasa sangat bodoh dengan mendatangi Chaca lalu meluapkan amarahnya ditempat yang salah. Langkahnya memperburuk keadaannya sendiri. Ia tak memiliki pilihan lain saat ini selain membayar seluruh hutangnya pada Chaca. Seorang pria tua yang sangat arogan dan keras kepala itu pada akhirnya melunak dan hilang harga dirinya saat mencoba melawan Chaca, rasa malu dan juga amarahnya bergabung menjadi satu yang membuat hatinya terasa panas.

__ADS_1


“Akan ku hancurkan kamu bagaimanapun caranya. Beraninya anak ingusan melakukan hal ini padaku!!” gumamnya dalam hati sambil melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Chaca sambil menundukkan kepalanya.


“Kimmi, bersiaplah untuk melapor pada polisi ketika besok sore tak ada pembayaran apapun dari Ryan. Kali ini takkan ku beri ampun mereka semua!!” Geram Chaca dalam hatinya melihat ayah Ryan yang perlahan mulai menghilang dari pemandangannya.


__ADS_2