
Rasanya seperti itulah menu sarapa terakhir bagi Chaca dan Barra, urusan pekerjaan benar benar sangat menyita waktu dan juga tenaga mereka. Namun mereka menikmati bagaimanapun kondisi hubungan yang mereka jalani tanpa mempermasalahkan apapun didalamnya.
Barra sudah pergi terlebih dahulu setelah ia membersihkan meja makan dan juga dapur yang ia gunakan untuk memasak dan makan bersama Chaca, menyisakan dirinya sendiri yang kembali merasa hampa karena Barra telah pergi meninggalkannya.
“It’s time to work Chaca”, ucapnya lalu mengambil kunci mobil yang tergantung di dinding.
Detik waktu terus berputar, tanpa terasa hari sudah siang namun hingga saat ini Ryan masih juga tak menampakkan dirinya atau bahkan membayar seluruh hutang hutangnya pada Chaca, seperti perintah Chaca pada Kimmi jika sampai sore hari masih juga tak ada pembayaran maka Kimmi harus segera membawa kasus ini ke meja hijau. Namun nyatanya Kimmi melaporkannya lebih cepat dari perintah Chaca.
...****************...
Sebuah mobil polisi telah tiba di depan rumah Ryanbersama dengan surat penangkapan yang berada di tangannya. Dengan sopan mereka mengetuk pintu kediaman Ryan dan keluarganya namun tak ada satupun orang yang membukakan pintunya.
“Sepertinya tak ada orang didalam”, ucap salah satu polisi itu sambil mengamati kondisi sekitar yang cukup sepi.
“Lihatlah, ada sebuah mobil didalamnya. Mereka pasti bersembunyi. Panjat pagarnya, kita terobos saja”, balas polisi lain yang mencoba mendekat megintip bagian dalam dari rumah Ryan.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah tanpa seijin pemilik rumah karena mereka memiliki surat penangkapan.
Benar saja, tak ada satupun manusia didalamnya, kedua orang tua bahkan Ryan pun ak ada di rumah. Polisi telah mencari ke seluruh tempat namun ia tak menemukan siapapun didalam hingga dari lantai dua, salah seorang polisi melihat seorang pria yang berlari sambil membawa ransel miliknya lalu berlari menabrak tiap orang yang menghalangi jalannya.
__ADS_1
“Hei!! Pakai matamu bodoh!!”, umpat salah satu orang yang tertabrak oleh Ryan. Dengan segera kedua polisi itu turun lalu mengejar Ryan sambil membunyikan sirine agar pejalan kaki atau kendaraan dapat memberikan mereka jalan.
Rupanya tak mudah bagi para polisi untuk menangkap Ryan seorang diri, dia yang cukup cerdik mampu mengelabuhi polisi agar susah untuk menangkapnya. Ryan bersembuyi di suatu tempat yang sangat gelap dan jauh dari kerumunan agar tak ada yang mengetahui dimana dirinya bersembunyi.
“Sial, wanita jalng itu beraninya dia melakukan ini padaku. Kini apa yang harus ku lakukan?”, umpat Ryan yang tengah bersembunyi dari kejaran polisi. Tiba tiba ia teringat akan Gina, satu satuya orang yang dapat menolongnya adalah Gina untuk saat ini, karena kedua orang tuanya sudah tak lagi ingin berurusan dengan Ryan, karena Ryan bisnis yang dikelola ayahnya hancur dalam seketika.
“Gina.. Sayang, dimana kamu?” tanya Ryan menghubunginya
“Di kantor. Jangan berpikir untuk kemari sialan!! Aku tak ingin berurusan dengan polisi. Urus saja urusanmu sendiri, jangan temui aku atau akan ku laporkan kamu ke polisi!!”, umpat Gina dengan nada ketakutannya karena ia mengerti jika ia ikut andil dalam membantu Ryan melarikan diri, maka dirinya juga akan terseret masalah yang lebih besar lagi dari masalah yang ia timbulkan.
“Gina, ku mohon sayang. Bantu aku, wanita jalng itu telah menghancurkan hidupku, setidaknya kali ini saja bantu aku”, pintanya memohon bantuan dari Gina yang menjadi harapan terakhir baginya agar ia dapat kabur dari kejaran polisi.
Tanpa menjawab Ryan, Gina mengakhiri panggilannya dan memblokir nomor Ryan agar ia tak dapat lai menghubungi Gina. Ketakutan Gina semakin membesar, dirinya bahkan bergetar meski ia hanya berbocara dnegan Ryan lewat sebuah ponsel.
Dari tempat persembunyiannya Ryan terus saja mengamuk dan entah berapa kali umpatan yang keluar dari mulutnya, ia mengutuki Chaca terus menerus melampiaskan kekesalannya. Hari ini telah berlalu dan polisi tak dapat menemukan keberadan Ryan dimanapun ia berada, kabar ini sampai ke Chaca yang terkejut bahwa Ryan berhasil melarikan diri dari kejaran polisi.
“Apa?! Bagaimana mungkin polisi kehilangan dirinya? Sehebat itukah Ryan hingga polisi tak dapat menangkapnya?!” geram Chaca, ia mengamuk mendengar kabar yang kurang mengenakkan itu. Keinginan hainya yang kuat untuk memasukkan Ryan kedalam penjara dan memastikan agar ia membusuk didalamnya harus tertunda.
“Temukan dia. Aku ingin dia ada dihadapanku esok hari. Bukan hal yang sulit bagi kalian untuk menemukannya kan?” tanya Chaca pada kedua wanita hebat yang berada di hadapannya. Shena dan Kimmi mengangguk mengerti dan segera menjalankan perintah dari Chaca mengingat hari ini akan segera berakhir.
__ADS_1
Bersama sebuah laptop yang ia bawa, Kimmi masuk kedalam mobil Shena dan mereka berdua mencari Ryan hingga dapat, Kimmi berhasil meretas cctv dari tempat Ryan berada hingga ketika ia melarikan diri, meski membutuhkan waktu namun hal itu bukan mustahil bagi Kimmi untuk mendapatkannya, mengingat ia adalah seorang hacker dimasa remajanya hingga saat ini.
“Sudah kamu dapakan?”, tanya Shena.
“Tunggulah, sebentar lagi aku mendapatkannya”, balas Kimmi yang sangat fokus pada mainan yang jarang ia gunakan.
“Got it”, ucapnya sambil menjentikkan jarinya.
“Lihatlah, ia berlari ke arah sini. Dia mulai bergerak, dan mengarah ke stasiun pinggir kota”, ucap Kimmi dengan cepat.
Segera Shena memutar balikkan mobilnya dan menuju ke stasiun yang jaraknya cukup jauh dari lokasi mereka saat itu, Shena menginjak gas hingga mobil melaju sampai pada kecepatan tertinggi.
“Apakah kita memiliki banyak waktu?” tanya Shena pada Kimmi yang terus memantau Ryan di stasiun.
“Berharap saja mobilmu dapat melaju lebih kencang dari kereta api” balas Kimmi yang berhasil membuat Shena kesal dan panik.
“Oh fvck!!”, umpatnya dengan kencang sambil terus melajukan mobilnya berpacu dengan waktu.
Mobil yang dikendarai oleh Kimmi dan Shena berhasil sampai ke stasiun, mereka masuk kedalamnya untuk mencari keberadaan Ryan namun ia melupakan satu hal. Stasiun pinggir kota memiliki penjagaan yang sangat ketat.
__ADS_1
“Bagaimana cara kita masuk?”, tanya Kimmi pada Shena.
“Kamu bisa bertarung namun masuk ke dalam stasiun kamu tak dapat melakukannya? Usahakan jangan melukai orang lain”, jawab Shena sambil menunjuk ke wajah Kimmi, membuat Kimmi mengerti maksud dari ucapan Shena.