Kesempatan

Kesempatan
Chapter 17 : Menguras Tenaga


__ADS_3

Yang tadinya aku berniat untuk mampir dan hanya membeli segelas kopi, kini malah berlarut hingga malam menjelang. Masih duduk di tempat yang sama dengan Putra, dan masih menceritakan perihal yang sama sedari tadi. Tidak ada yang berubah, masih sama. Begitu pula reaksiku yang masih tidak mengira jika Reza bisa selihai itu bersikap, seolah akulah yang menyakitinya, seolah dialah korban dariku.


“Kamu lihat sendiri ‘kan, waktu itu? Aku jawab pertanyaan dia! Mana ada aku cuekin? Aku memang jawab seadanya, karena aku nggak mau berlama-lama berhadapan sama dia.” Lagi-lagi aku tersulut emosi. Reza benar-benar mengecewakanku. Dia mencoreng nama baikku di depan semua orang yang aku kenal. Bahkan di depan temanku sendiri.


“Iya, aku tahu. Tapi sesekali, kamu harus coba untuk hadapi dia, jangan lari, jangan kabur, kamu harus kuat hadapi dia, biar dia nggak bicara yang aneh-aneh lagi.” Putra menyarankan.


Kepalaku pening. Akhir-akhir ini apa saja yang kudengar dan menyangkut perihal Reza, selalu membuatku emosional. Amarah dan rasa sayangku bercampur menjadi satu. Hingga otak ini sudah tidak bisa lagi berpikir secara rasional. Benar-benar menguras tenaga. Aku memijat pelipis serta keningku, denyutannya membuat penglihatanku serasa berputar. Kepalaku pusing seketika.

__ADS_1


“Manda, tolong ambilkan segelas air hangat,” pinta Putra, lalu dia menyerahkan gelas itu padaku, “minum dulu, tenangin diri.”


Aku langsung meneguk habis isi segelas air hangat itu. Kata orang, segelas air hangat sangat manjur untuk menenangkan hati dan pikiran yang kalut. Aku rasa itu sedikit ada benarnya untuk saat ini.


Berkali-kali aku juga mencoba menarik dan mengembuskan napas untuk mengatasi ritme detak jantungku yang tidak beraturan. Perihal Reza memang selalu menguras tenagaku, bahkan lebih letih dari pelari marathon seratus kilo meter!


Setelah berjam-jam berlalu untuk menenangkan batin, akhirnya aku memutuskan untuk tetap melanjutkan rencanaku pulang ke Bogor. Putra mengantarku hingga ke parkiran mobil, yang mana beberapa tas pakaian serta tas lainnya memang sudah aku masukkan ke dalam mobil sedari pagi. Sebelum berangkat ke kantor. Aku memang sudah membawa semua kebutuhanku untuk pulang. Jadi aku tidak perlu repot lagi untuk kembali ke apartemen.

__ADS_1


“Iya, ini buat kamu,” Putra menyodorkan se-cup kopi panas, “biar nggak ngantuk di jalan.”


Sudah bisa aku duga, isinya pastilah kopi hitam. Aku menerima kopi itu lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Berpamitan pada Putra dan segera pergi.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, langit sudah benar-benar hitam pekat dengan beberapa lampu jalanan yang sudah menyala terang. Sesekali aku terjebak macet saat menuju ke jalur tol Jagorawi. Butuh waktu satu jam untuk memasuki jalan tol itu, begitu pun pejalanan menuju Bogor, kurang lebih ditempuh dalam satu jam.


Dengan kecepatan sedang dan santai, aku menikmati perjalanan itu. Melupakan sejenak beban di hati dan dalam pikiran. Aku benar-benar ingin liburan dan menenangkan diri di rumah orang tuaku, di kota kelahiranku.

__ADS_1


Alunan lagu di audio mobilku sedikit membuat tenang, bahkan membuat mood-ku kembali stabil dalam mengendarai mobil. Hingga akhirnya sejam lebih waktu yang aku tempuh untuk sampai ke rumah orang tuaku di Bogor.


***


__ADS_2