
Chaca termenung bersama kesedihannya, melihat waktu yang terus berputar. Sesekali ia membuang wajahnya keluar jendela sambil menghela napas panjang, ia sedih namun senyuman yang dipancarkannya mengingat waktunya kurang dari satu minggu lagi.
“Hah.. Aku akan segera menghilang dan kembali ke tempat asalku”, lirih Chaca pada Shena yang sedang berada tepat di hadapannya.
“Waktu cepat sekali berlalu, anda akan bertemu dengan saya lagi, namun bagaimana dengan Kimmi dan Barra? Apakah anda akan bertemu dengan mereka?”, tanya Shena.
“Aku tak tahu apakah aku akan bertemu dengan mereka atau tidak, mungkin aku akan bertemu dengan Kimmi namun berbeda dengan Barra. Bisa saja Barra hanya ada di dunia ini”, ucapnya sedih.
Shena pun ikut terdiam mendengar Chaca mengutarakan isi hatinya, ia seakan mengerti bagaimana perasaan Chaca ketika ia kembali tak mendapati Barra di dunianya.
__ADS_1
...****************...
“Barra... Barra..!!”, teriak Chaca yang perlahan menghilang bersama mobil taksi yang dinaikinya.
“Chaca!!. Ku mohon kembalilah..”, lirihnya lalu jatuh tersungkur sambil menangis, berkali kali ia terus memanggil nama Chaca namun sebanyak apapun ia memanggil, Chaca takkan pernah kembali.
“Ahh!!.. Hahh.. Haahh!!”, suara tarikan napas Barra yang tiba tiba terbangun dari mimpi buruknya. Wajahnya yang pucat dan ketakutan sangat terlihat.
“Jadi bagaimana? Terima tawaranku atau tidak?”, tanya Gina yang berdiri dihadapan Belalang Merah, entah bagaimana cara Gina menemukan persembunyian Belalang Merah, disaat keinginan kuat Gina terlihat, maka dia akan menggunakan segala macam cara untuk menggapainya.
__ADS_1
“Cih!!.. Kamu sadar atau tidak sebenarnya sedang berhadapan dengan siapa bocah?” jawab Belalang Merah menatap pada Gina dengan tatapan seperti singa yang sedang memantau mangsanya, langkah kakinya yang berjalan mendekat pada Gina tak membuatnya takut ataupun gentar, ia sudah siap dengan segala resiko yang akan ia tanggung didepan. Yang ia inginkan adalah kehancuran Chaca seutuhnya dan jalan terakhir, ia harus mengajak Belalang Merah bekerja sama dengannya mengingat mereka berdua memiliki musuh yang sama.
“Tentu saja, sang Belalang Merah yang perkasa. Namun sayang saat ini dirimu yang sekarang hanyalah seorang buronan polisi. Bukan begitu?”, ucap Gina yang terkesan seperti menantangnya. Dengan cepat Belalang Merah mencekik leher Gina dan perlahan mengangkatnya keatas hingga kedua kaki Gina tak dapat lagi menyentuh tanah.
“Akhh... Akkhhh... Hhaahh”, Gina mencoba melepaskan diri dari Belalang Merah namun genggamannya terlalu kencang, batang lehernya hampir remuk karena terlalu kuat cengkraman Belalang Merah padanya. Melihat gina yang hampir kehabisan napaas, Belalang Merah melemparkannya ke sembarang arah, membuat tubuh Gina terasa sakit sekali.
“Ingat, Pak Karto adalah pamanku, ia bisa saja menghabisimu jika tahu kamu menyentuhku”, gertak Gina pada Belalang Merah namun sayangnya ancaman Gina tak dapat membuat Belalang Merah ketakutan.
“Lalu bukankah lebih baik aku membunuhmu? Sangat mudah membunuh kecoa kecil seperti dirimu”, balas Belalang Merah yang maju mendekat pada Gina dan mendapatkan wajahnya.
__ADS_1
“Hei, tunggu. Bukankah kita memiliki musuh yang sama? Ayolah, terima saja tawaranku, kamu mendapatkan kepala Chaca dan juga Shena dan aku mendapatkan apa yang aku mau. Bukankah itu menguntungkanmu? Coba pikirkan!!”, rayu Gina melihat dirinya sudah sangat terpojok da tak dapat lagi menghindar dari Belalang Merah.
“Sial, pria tua ini sungguh sangat tempramen!!”, gerutu Gina disertai tubuhnya yang mulai bergetar karena ketautan dengan tatapan Belalang Merah