
“Aku akan mendapatkanmu bagaimanapun caranya Cha. Dengar itu!!”, teriak Ryan pada Chaca yang telah melangkah pergi masuk ke dalam lift. Hari yang sangat melelahkan pada akhirnya berhasil dilewati Chaca. Ia masuk ke dalam appartement miliknya dan segera membersihkan diri, Chaca membenamka wajahnya pada shower yang menyala untuk sekedar menenangkan dirinya dari hari yang sungguh sangat melelahkan baginya, kini ia beranjang membenamkan diri pada bathup yang telah terisi air sabun dan juga aroma terapi untuk menenangkan pikirannya sejenak.
“Aku sudah tak bersemangat tentang Gina dan juga Ryan, kini disisa waktu yang ku miliki au akan sepenuhnya menghancurkan kelima Dewan Direksi sampai tuntas”, gumamnya dalam hati dengan mata yang tertutup. Chaca memikirkan segala cara agar ia mampu lebih tinggi dari kelima Dewan Direksi agar mereka tak mampu berbuat hal yang macam maca pada dirinya dan juga pada keluarganya.
“Kini apa yang harus ku lakukan? Satu sudah menghilang dan sekarang menyisakan empat orang lainnya yang harus segera ku hancurkan sebelum waktuku habis”, sambungnya. Beban yang sangat berat harus ia tanggung seorang diri, memikirkan mereka mengusik kedua orang tuanya benar benar membuat Chaca sangat geram.
“Jika aku ingin melebihi mereka maka aku harus mengepakkan sayapku lebih lebar lagi. Namun bagaimana? Bagaimana caranya?”, gumamnya dalah hati lalu menenggelamkan diri sepenuhnya didalam bathup untuk menemukan ide yang tersembunyi. Namun tak lama Chaca mengeluarkan dirinya bukan karena ia kehabisan napas namun karena sebuah ide tiba tiba muncu begitu saja, membuat Chaca segera menuntaskan berendamnya dan memakai pakaiannya.
“Media. Perusahaan Media”, ucap Chaca. Segera Chaca mencari seluruh informasi terkait perusahaan Media. Disaat ia sedang mengumpulkan seluruh informasi itu seorang diri, Chaca teringat akan satu hal. Ia mengingat bahwa salah satu Perusahaan Media akan mengalami kebangkrutan yang saat ini tengah bergoncang.
“Kini aku tahu bagaimana cara agar aku bisa mengepakkan sayapku lebih lebar lagi”, monolognya.
Seharian Chaca tak tidur untuk merancang sebuah perusahaan baru yang akan menjadi benteng pertahannya kelak, ia memperkuat dirinya sendiri agar tak ada satupun yang mampu menggoncangkannya. Chaca segera membereskan seluruh proposal dan risetnya untuk ia bahas bersama ayahnya, Pak Umar tentang perusahaan yang ia inginkan.
“Ada apa? Tak biasanya kamu mengunjungi papa”, ucap Pak Umar yang melihat anaknya masuk ke dalam ruangannya.
“Ada yang ingin Chaca bahas bersama papa”, jawab Chaca singkat. Ia mengeluarkan sebuah proposal yang ia bawa dan ia memberikannya pada ayahnya yang tak terlihat terlalu sibuk.
__ADS_1
“Perusahaan Media? Kamu ingin terjun ke Perusahaan Media? Lalu bagaimana dengan anak Perusahaan dan Perusahaan ini? Bukankah kamu yang harus memimpinnya kelak?”, tanya Pak Umar pada Chaca sembari membaca proposal yang ada di tangannya.
“Ini hanya langkah awal papa. Chaca ingin terjun ke dunia media untuk mengembangkan sayap Chaca, pada akhirnya semua untuk perusahaan ini papa”, jawab Chaca mencoba mengambil hati ayahnya yang sedang serius membaca proposalnya. Dan Pak Umar sedikit terkejut melihat bahwa Chaca tak ingin membangun sebuah perusahaan, namun membeli Perusahaan Media yang sedang bergoncang..
“Kamu yakin? Mengapa tak membangun Perusahaan Media saja? Mengapa haru membeli PT Citra Sentosa Abadi?”, tanya Pak Umar lagi pada Chaca.
Chaca tersenyum karena ia mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan. Pada akhirnya perusahaan ini akan hancur dan Chaca mengambil kesempatan ini mengakusisinya menjadi perusahaan miliknya sendiri.
“Percayalah pada Chaca. Perusahaan ini akan sangat baik untuk kita”, jawab Chaca yang tak berniat mengatakan alasan yang sebenarnya pada Pak Umar.
“Meyakinkan mereka? Bukanlah satu hal yang sulit untuk dilakukan”, gumam Chaca dalam hatinya yang sangat yakin bahwa PT Citra Sentosa akan menjadi miliknya. Seluruh persiapan telah matang dan kini ia hanya perlumencari waktu yang tepat untuk mendatangi PT Citra Sentosa Abadi.
...****************...
PLAAKK!!!!
PLAAKK!!!!
__ADS_1
PLAAKK!!!!
PLAAKK!!!!
Tamparan demi tamparan diberikan pada seluru anak buahnya yang tak becus dalam pekerjaannya. Belalang Merah sangat geram sekali mengetahui bahwa mereka semua dikalahkan oleh 3 wanita.
“Sungguh memalukan!! Kalian dikalahkan dihadapan banyak orang? Kalian 20 orang, bagaimana mungkin?” Teriak Belalang Merah pada mereka semua karena rasa kesalnya.
“Jelas saja mereka dengan mudah dikalahkan, wanita bernama Chaca Subroto pernah mengalahkanku, anda ingat? Chaca bukanlah tandingan mereka. Aku lah tandingannya”, seru Nomer 1 pada Belalang Merah yang tiba tiba datang disaat Belalang Merah sedang menghukum anak buahnya yang tak becus dalam menjalankan tugasnya.
“Mereka anak buahku, sesulit itukah menyeret satu wanita ke tempat ini? Dimana harga diri kalian sebagai laki laki, hah!!??” teriak Belalang Merah dengan sangat menyeramkan kepada anak buahnya itu.
“Maafkan kami, namun mereka bertiga sungguh sangat kuat. Kita harus memikirkan sebuah cara untuk menjebak Chaca”, seru salah satu anak buah Belalang Merah.
Perlahan Belalang Merah melangkahkan kakinya menuju kursi yang menjadi tahtanya dan ia duduk sambil memikirkan usulan dari anak buahnya itu baik baik. Kini ia menyadari bahwa untuk membalaskan dendamnya pada Chaca, ia harus memikirkan cara untuk menjebaknya.
“Biar saya yang memikirkan cara untuk menjebaknya, sayapun memiliki dendam pribadi dengannya”, seru Nomer 1 dengan menunjuk luka pada matanya yang masih membekas hingga saat ini. Tatapan Nomer 1 sangat menunjukkan betapa kebencian seakan menguasainy tiap kali ia mengingat apa yang dilakukan Chaca padanya.
__ADS_1