Kesempatan

Kesempatan
Chapter 19 : Berkelit


__ADS_3

“Jangan mikir yang aneh-aneh deh! Pertanyaan aku belum kamu jawab!” Aku menjadi kesal.


“Pertanyaan yang mana lagi? ‘Kan sudah aku jawab, kalau aku tidur di sini.”


“Ya, maksud aku, kamu ngapain jadi sampai bisa tidur di rumah ini? Ada urusan apa sama kedua orang tuaku?”


“Oh, itu ... aku mancing kemarin sama ayah kamu. Sudah berbulan-bulan aku nggak mancing. Jadi aku ke sini.” Perlahan lelaki itu bangkit dari rebahannya lalu duduk bersila di hadapanku.


Tubuh kekarnya masih seperti yang dulu, dengan dada yang bidang, lengan sedikit berotot, dan bongkahan roti sobek yang menghiasi perutnya. Mataku langsung terhipnotis memerhatikan bagian tubuh itu. Yang mana bagian semua itu pernah aku sentuh dan aku jadikan sandaran kepalaku saat memeluknya.


“Kangen, ya? Pingin peluk? Sini, aku juga kangen!” godanya.

__ADS_1


Aku tersadar lalu mengerutkan keningku menatapnya tajam. “Aish!” Aku berdecak kesal.


Segera aku bangkit dari atas ranjang, keluar dari selimut untuk mengambil jubah tidurku. Sambil memastikan sekali lagi, jika kamar ini memang benar kamar tidurku, bukan kamar tidur tamu yang kosong melompong.


Di atas meja riasku memang terdapat beberapa perlengkapan milik lelaki itu, seperti jam tangan, ponselnya, kunci mobil, dan juga dompet kulit miliknya. Lalu di atas sofa di sudut kamar, yang biasanya aku gunakan untuk membaca buku, terdapat sebuah tas tangan yang lumayan besar. Beberapa isinya terlihat dari kejauhan, ada baju serta celana milik lelaki itu.


“Aku suka piyama kamu itu,” celetuknya dari belakang, saat aku berhasil mengenakan jubah tidur. Aku menunduk memerhatikan piyama yang aku kenakan saat ini. Ya, aku baru menyadari jika piyama ini adalah pemberian darinya, dulu. Yang mana piyama ini sengaja aku tinggal di sini, tidak aku bawa ke apartemenku di Jakarta.


Tidak aku pedulikan ucapannya, lalu kembali berbalik menghadapnya yang masih duduk manis di atas ranjang. “Kamu tahu ‘kan, kalau kamar tidur tamu itu ada di sebelah? Jangan berlagak amnesia seolah nggak pernah ke sini,” bentakku dengan kedua tangan berkecak pinggang.


“Tapi ini kamar aku!”

__ADS_1


Reza berdiri dari posisinya, melangkah pelan menuju pintu balkon dan membukanya, membiarkan angin pagi yang sangat sejuk itu masuk dengan bebas. “Aku mana tahu kalau kamu mau pulang. Lagian ayah kamu juga nggak bilang apa-apa kemarin,” sahutnya membelakangiku.


Sudah tidak ada lagi kata-kata yang mampu aku ucapkan untuk menyanggahnya. Lagi pula, tadi malam saat sampai ke rumah ini, aku terlalu letih. Bahkan saat bertemu dengan ayah dan bunda, aku hanya memeluk mereka satu per satu kemudian langsung berpamitan untuk istirahat. Salah satu dari mereka juga tidak mengatakan apa pun tentang keberadaan lelaki ini.


Memang aku yang salah karena tidak memeriksa kamar terlebih dahulu, dan bodohnya aku, saat tadi malam masuk ke dalam kamar ini, aku tidak menyalakan lampunya. Hanya langsung menyelonong masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuh lalu berpakaian seperti biasa, seolah tidak ada orang lain di kamar ini.


Mata yang terasa berat benar-benar membuat otakku tidak bekerja maksimal. Seharusnya aku bisa menyadari jika ada hal aneh tadi malam saat masuk ke dalam selimut. Tetapi nyatanya tidak, aku benar-benar kelelahan.


“Pokoknya aku nggak mau tahu, begitu selesai sarapan, aku mau kamu pindah ke kamar sebelah, bawa sekalian semua barang-barang kamu. Titik.” Aku langsung mengambil ponselku di atas nakas lalu keluar dari kamar, turun ke lantai bawah menuju dapur. Meninggalkan Reza yang asyik melihat pemandangan dari pintu balkon kamarku.


Aku melenggang menuruni satu per satu anak tangga dengan mulut berkomat-kamit, kesal mengapa kedua orang tuaku membiarkan lelaki itu untuk kembali ke sini dan tidur di kamarku. Di satu sisi, hatiku merasa sedikit gembira bisa kembali melihatnya bersikap seperti dulu, seperti biasanya, seolah ucapan perpisahan berbulan-bulan yang lalu tidak pernah ada.

__ADS_1


Lantas, di mana lelaki itu memarkirkan mobil sporty-nya itu? Apa di dalam garasi? Jika benar, pantas saja aku tidak melihatnya tadi malam. Lalu ke mana perginya mobil ayah jika mobilnya yang ada di dalam garasi?


***


__ADS_2