Kesempatan

Kesempatan
BAB 26 | Segalanya Baru Dimulai


__ADS_3

“Cepat angkut barang itu. Jangan sampai ada paket yang tertinggal”, seru seseorang yang menangani bagian pengiriman barang di pabrik.


Pukul delapan pagi, pabrik perusahaan yang dipimpin Chaca sudah sangat ramai, para buruh memulai pekerjaan mereka, mengangkut barang dan mengirimkannya sesuai dengan alamat pemesanan. Sedang ruang kerja Chaca, ia sibuk dengan seluruh dokumen yang menumpuk dan tak ada henti hentinya berdatangan.


Tok tok tok...


Suara ketukan pintu terdengar dari dalam ruangan Chaca disiang hari, Gina datang tersenyum dan memanggil Chaca dengan nada manja yang biasa ia lakukan sejak mereka SMA.


“Chaca... Ah, aku sangat merindukanmu. Mengapa sangat sulit untuk dihubungi?” , sapa Gina yang masuk dan langsung berdiri dihadapan Chaca yang masih saja bekerja tanpa mempedulikan Gina yang datang menghampirinya.


“Hmm.. Aku sangat sibuk Gina. Ada apa kemari?”, tanya Chaca dengan turus fokus pada pekerjaannya.


“Karena aku sangat merindukanmu, itulah tujuanku kemari”, jawab Gina dengan mengedipkan satu matanya dan berlagak imut dihadapan Chaca.


“Menjijikan sekali dia. Sial, dia dan Ryan sama sama sampah!!”, gumam Chaca dalam hatinya.


“Kemari, tinggalkan pekerjaanmu sejenak dan duduklah bersamaku. Ada banyak hal yang harus kamu ceritakan padaku “, ucap Gina menarik tangan Chaca keluar dari pekerjaannya dan duduk disamping Gina.


“Aku sungguh sangat sibuk Gina, apa yang kamu inginkan?”, tanya Chaca dengan nada kesal dan tak ingin menanggapi Gina.


“Mengapa? Mengapa tak mengatakan bahwa kamu berhasil mengakusisi PT Warna Cakrawala disaat banyak sekali perusahaan yang menginginkannya? Mengapa aku tak ahu apapun tentang hal itu? Sungguh menyebalkan ketika sahabatmu sendiri tak mengetahui apapun tentangmu!”, ucap Gina dengan nada kesal karena dari sekian banyak orang seperti hanya dirinya yan tak tahu apapun. Chaca diam dan tak menanggapi Gina yang kesal padanya, sungguh bukan sebuah hal yang penting bagi Chaca menanggapi kekanak kanakan Gina yang tak ada habisnya.


“Aku sangat sibuk dengan seluruh pekerjaanku Gina, aku saja hampir tak memiliki waktu untukku sendiri bagaimana mungkin terpikirkan olehku untuk menghubungimu? Sudahlah, aku harus kembali bekerja. Lebih baik fokus dengan pekerjaanmu dan berhentilah menggangguku!!” seru Chaca kesal hingga ia mengusir Gina dari ruangannya agar ia bisa kembali bekerja. Ia tak peduli lagi dengan Gina yang kesal ataupun marah padanya, Chaca sudah tak lagi peduli dengannya.

__ADS_1


“Kamu mengusirku? Baiklah!!!”, jawab Gina dengan geram dan segera meninggalkan ruangan Chaca dengan amarah yang meluap.


“Dasar sombong. Lihat apa yang akan ku lakukan padamu”, geramnya dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.


...****************...


Sebuah truk dengan tinggi 40 kaki berjalan dengan kecepatan penuh ketika ia melintasi jalan tol yang sangat sepi itu. Dihari yang sangat cerah tanpa kemacetan disepanjang jalan adalah sebuah hal yang sangat menyenangkan bagi setiap orang. Namun wajah panik mulai terlihat oleh sopir itu ketika ia mencoba untuk menginjak rem melihat beberapa mobil berhenti dan berbaris rapi didepan.


TIIINNNN TTTIIIINNNN


Sopir mencoba membunyikan klakson karena rem truk kontainer yang ia kendarai itu tak berfungsi.


“AAAAAAAAA” BRAAAKK!!!!!


Sebuah kecelakaan beruntun itu terjadi, truk kontainer dengan tinggi 40 kaki itu menabrak mobil dihadapannya dengan sangat kencang dan beberapa mobil lainnya ikut terdorong. Dengan kondisi yang setengah sadar dan darah yang mengucur pada kepalanya, sopir itu mencoba meminta pertolongan.


Berita ini dengan cepat sampai pada telinga Chaca yang membuatnya sangat terkejut dan segera menuju pabrik saat itu juga setelah ia mendengar beritanya. Wajahnya sangat panik dan ia langsung menemui manejer pabrik.


“Apa apaan ini? Mengapa hal ini bisa terjadi? Bagaimana dengan sopirnya, apa ia selamat?”, tanya Chaca. Diluar perkiraan, mereka mengira bahwa Chaca akan menanyakan dengan kondisi barang, namun Chaca justru menanyakan keadaan sopir terlebih dahulu.


“Ah.. Sopir selamat Bu Chaca, tak ada luka serius. Hanya tulang kaki dan tulang rusuknya patah”, jawab manejer pabrik pada Chaca. Mendengar itu Chaca sangat kesal ketika manejer pabrik mengatakan tak ada luka yang serius disaat beberapa tulang sopir itu patah.


“Tak ada yang serius? Dia patah tulang dan kamu menyebutnya buka hal serius? Apa tak ada pengecekan kendaraan? Mengapa begitu ceroboh?!!”, amuk Chaca dihadapam seluruh buruh.

__ADS_1


“Maafkan kecerobohan saya Bu Chaca”, seru manejer pabrik itu dengan sangat menyesal.


“Shena, urus sopir itu. Pastikan ia mendapatkan perawatan yang baik di rumah sakit. Naikkan kelasnya menjadi kelas II di rumah sakit, jika jaminan kesehatan miliknya tak memenuhi, gunakan uang perusahaan” perintah Chaca pada Shena dengan segera.


“Cari tahu dimana letak kesalahannya dan kali ini pastikan tak ada truk yang bermasalah seperti ini. Segera laporkan pada saya!!”, perintah Chaca pada manejer pabrik.


Setelah Chaca mengurus segalanya, ia kembali ke perusahaan dan menyerahkan sisanya pada Shena. Seperti ingin pecah rasanya kepala Chaca, seluruh beban pekerjaan yang cukup berat ditambah masalah kali ini cukup menguras tenaga dan pikirannya. Chaca menggenggam telepon di hadapannya dan menghubungi Kimmi, sekertarisnya.


“Kimmi, berikan laporan kerugian kita hari ini. Segera!!”, perintah Chaca pada Kimmi


Chaca melanjutkan pekerjaannya sembari menunggu laporan yang dikerjakan oleh Kimmi, namun sebuah berita buruk kembali diterima oleh Chaca dan membuatnya sangat kesal dan tak tahu harus berbuat apa.


“Bu Chaca. Sebuah mesin pembuat kain telah terbakar dan merambat ke mesin lain, pabrik hampir terbakar”, ucap Kimmi dengan segera mengatakannya pada Chaca.


BRAAKK!!!


“Apaa??!!”, teriak Chaca terkejut hingga ia menggebrak meja kerjanya. Matanya membola dan wajahnya sangat marah dengan kejadian ini.


“Pada akhirnya, hal yang ku takutkan terjadi. Pabrik terbakar sama seperti saat itu. Alasan mengapa aku kembali ke tiga bulan sebelumnya”, ucapnya terkejut.


“Aku harus mendapatkan orang ini agar aku bisa menghabisinya!!!”, geram Chaca. Kini ia menindak lanjuti masalah ini dengan sangat serius. Tatapannya seakan mengatakan bahwa tak ada saupun yang dapat bermain main dengannya kali ini.


“SHENAA!!!!!”, teriak Chaca dari dalam ruangannya dengan suara yang kencang hingga beberapa orang yang lalu lalang didepan ruangannya terkejut mendengar teriakan Chaca yang tak biasa itu.

__ADS_1


“Cari tahu apa yang terjadi di pabrik. Dapatkan orang yang berusaha membakar pabrik. Kesampingkan dahulu kelima dewan direksi, ini lebih pinting”, perintah Chaca pada Shena dengan amarah yang terpancar dari wajahnya, kemarahan Chaca yang tak bisa mampu memecahkan sebuah gelas kaca yang ia pegang.


“Biadab!!! Mati kamu bajingan!!!”, umpatnya dalam hati. Kali ini Chaca tak lagi bermain main dan berniat segera mengakhirinya.


__ADS_2