
Suasana genting tengah terjadi didalam ruang rapat pagi itu , mencoba tenang ketika dirinya sedang tersulut oleh emosi yang ditimbulkan karena ulah Chaca, Pak Karto mencoba tenang dan mengendalikan kondisi agar tak menjadi senjata untuk menyerangnya. Wajahnya yang terlihat tenang seolah tak terjadi apapun membuat Dewan Direksi lainnya tak terlalu mencurigai Pak Karto, malahan mereka sedikit mempercayai ucapan Pak Karto bahwa Pak Lukmanlah yang melakukannya.
“Apa? Apa yang anda katakan? mengapa jadi aku?”, tanya Pak Lukman kebingungan dengann menatap Pak Karto dan ketiga rekannya yang bungkam seribu bahasa ketika Pak Kaerto menuduh Pak Lukmanlah yang melakukannya.
“Tidak.. Aku bahkan tak tahu apapun tentang ini semua”, jawab Pak Lukman dengan terbatah batah.
“Namun bukankah Pak Lukman yang mengirim seluruh kain ini?”, tanya Pak Karto mulai memojokkan rekannya itu.
Kini Pak Lukman seolah tak mampu berkata kata lagi ketika lawan bicaranya adalah Pak Karto, meski ingin menyangkal bahwa dirinya tak melakukannya namun pada kenyataannya memang dirinyalah yang mengirimkan semua roll kain itu dengan obat obatan terlarang didalamnya. Kini seluruh mata tertuju pada Pak Lukman seorang dan merasa kecewa pada apa yang dilakukannya. Menjual obat obatan terlarang dengan dalih mengirimkan pesanan pada para buyer miliknya. Kejadian ini membuat Pak Lukman pada akhinya dikeluarkan dari Dewan Direksi, lalu bagaimana dengan keempat Dewan Direksi lainnya? Tak ada satupun dari mereka yang berdiri disampingnya, bahkan untuk sekedar membelanya saja tak ada satupun yang melakukannya, tidak Pak Karto dan tidak ketiga lainnya.
Niat hati ingin mendepak langsung kelima Dewan Direksi itu terlebih Pak Karto namun nyatanya rencana miliknya gagal, meski tak gagal sepenuhnya namun tetap saja Chaca merasa sedikit kecewa pada hasil yang ia dapatkan ketika ia sudah bersusah payah sampai seperti ini. Pandangannya tertuju pada Pak Karto yang sedari tadi memandanginya dengan tatapan yang sangat tajam sambil sesekali menyembunyikan senyuman yang terlihat seperti sedang menghinanya. Ia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pada Chaca seakan mengisyaratkan bahwa tak semudah itu Chaca bisa menyingkirkan dirinya dengan sangat mudah. Seperti hampir meledak rasanya amarah yang sedang ditahan oleh Chaca melihat Pak Karto yang seperti ini.
__ADS_1
“Lihatlah kelakuan orang tua itu. Sangat menjijikan saat dia mengorbankan rekannya sendiri demi mengamankan dirinya”, ucapnya berbisik pada Shena yang berdiri tepat disampingnya tanpa berbicara apapun sejak ia datang.
“Apapun perintah anda Bu Chaca. Menghabisinya sekarang juga pasti akan ku lakukan jika perintah itu datang dari anda”, balas Shena yang rupanya juga tersulut emosinya melihat Pak Karro dapat lolos dengan mudahnya
“Tidak, tidak untuk saat ini”, balas Chaca membalas tatapan Pak Karto sambil mengeratkan kepalan tangannya menahan emosi.
Suara pintu kafe berbunyi dengan sedikit lebih kencang, Chaca segera duduk ditempat dimana ia biasa duduk sambil melihat ke jalan seperti yang selalu ia lakukan jika ia sedang berada di kafe milik Barra. Melihat Chaca yang sepertinya sedang tidak baik baik saja, Barra segera membuatkan latte kesukaan Chaca dengan karakter beruang yang sedang tersenyum untuk menghibur Chaca yang terlihat sedang mengamuk.
“Pffttt.. Apa apaan gadis itu? Bahkan saat ia mengamuk seperti itu ia tetap terlihat menggemaskan”, gumamnya dalam hati sambil membuat karakter beruang yang sedang tersenyum dengan terus saja menatapmu yang masih cemberut.
“Are you good? How’s your day?”, tanya Barra yang tiba tiba berdiri tepat di sampingnya dengan membawa secangkir latte di tangannya. Barra memberikan latte itu dan duduk berhadap hadapan dengan Chaca sambil memperhatikan wajahnya ketika ia sedang kesal. Bahkan pertanyaannya saja tak dijawab oleh Chaca saat itu.
__ADS_1
“Ada apa?”, tanya Barra sekali lagi dengan melemparkan senyuman yang terlihat berhasil membuat Chaca tersenyum meskipun itu sangat tipis. Chaca hanya menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan sambil memandangi karakter beruang yang sangat imut menghiasi secangkir latte miliknya.
“Tak ada apa apa. Hanya merasa kesal”, jawab Chaca singkiat dengan mata yang terus tertuju pada secangkir latte.
“Wajahmu tak bisa berbohonng. Ada apa?”. Tanya Barra lagi dan kali ini sambil menopang dagu dengan kedua tangannya dan mencoba mendapatkan tatapan Chaca. Pada akhirnya Chaca luluh pada tingkah manis pria di hadapannya, kini senyuman kembali menghiasi wajahnya meski itu butuh waktu untuk cepat kembali.
“Itu cukup untuk hari ini. Melihatnya tersenyum sudah cukup bagiku”, gumamnya dalam hati melihat betapa manisnya senyuman Chaca, bak pelangi sehabis hujan yang terlihat sangat indah.
“Aku hanya merasa kesal karena rencanaku tak berjalan sesuai apa yang ku inginkan. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin namun hasil akhirnya seperti tak berpihak padaku”, lirih Chaca mencoba mengatkan keluh kesahnya.
“It’s ok. You have me. Katakan dan lampiaskan seluruh kekesalanmu padaku, kamu bisa mengadu padaku”, jawab Barra tersenyum pada Chaca. satu hal yang tak diketahui Barra, ketika seorang wanita sedang mengamuk maka ia bisa mengeluarkan 5.000 kata dalam sekali amukan, dan ketika Chaca mendengar bahwa Barra siap menampung seluruh rasa kesalnya, benar saja, ia menjadikan Barra sebagai pelampiasan kekesalannya. Chaca menceritakan dengan sangat cepat bagaimana dan apa yang membuatnya kesal tentang kelima Dewan Direksi yang sangat menyebalkan itu, sesekali Chaca mengutuki mereka karena terlalu menyebalkan dan mengesalkannya mereka, termasuk kejadian kejadian yang sedang terjadi pada dirinya.
__ADS_1
Perkataan dan amukan Chaca membuat Barra terdiam sambil melipat kedua tangannya dan menyadarkan dirinya di kursi tempatnya duduk sambil berulang kali menghela napas panjang mendengar ocehan Chaca yang seakan tak ada habis habisnya itu. Kini Barra bingung bagaimana caranya agar Chaca berhenti mengomel, sudah lebih dari lima belas menit Chaca terus saja mengomel tanpa berhenti.
“Ya Tuhan, seharusnya aku tak mengatakan bahwa aku bersedia menjadi tempat pelampiasannya. Dia bahkan tak berhenti mengoceh” gumamnya dengan sedikit menyesali ucapannya