
Mobil Gina berbelok ke sebuah gang dan berhenti di gedung terbengkalai yang sudah lama tak terpakai.Suasana dan aura yang mereka rasakan sama seperti saat mereka mendatangi markas besar Belalang Merah sebelumnya. Kedatangan Gina, Chaca, Shena da Kimmi disambut oleh anak buah Belalang Merah dengan sangat meriah sambil membawa berbagai macam senjata pada tangan mereka.
“Bukankah sambutan ini terlalu meriah bagi kita?”, sindir Kimmi yang melihat mereka semua bersenjatakan benta tajam maupun benda tumpul.
“Sepertinya mereka terlalu bersemangat hari ini”, balas Shena menambahi sindiran Kimmi.
Chaca hanya tersenyum mendengar dua rekannya itu saling menimpahi sindiran. Bersamaan dengan tatapan maut yang diberikan anjing penjaga Belalang Merah, mereka masuk kedalam gedung mengikuti langkah Gina sedangkan Barra dan Jo menunggu waktu yang tepat untuk mereka masuk menyusul kedalam.
Suara teriakan yang terdengar seperti menghina dilontarkan mereka semua pada ketiga wanita yang sedang berjalan menuju singgah sana Belalang Merah, hingga mereka melihat sosok pria menyeramkan dengan tatoo disekujur tubuhnya, dari balik tubuhnya saja mereka bisa mengenali kalau ia adalah Belalang Merah.
“Disini rupanya persembunyianmu Belalang Kecil”, hina Shena dengan maksud menyapanya.
Belalang Merah membalikkan tubuhnya dan menyeringai mendengar Shena yang menyapanya seperti itu, tak lupa tatapan tajam ia berikan hanya pada Shena seorang, ketika mereka berdua saling menatap satu sama lain dari kejauhan, Chaca maju di hadapan Shena dan menghentikan aksi tatap menatap mereka.
__ADS_1
Dari arah sebaliknya, Gina datang dan berdiri disamping Belalang Merah dan menatap rendah Chaca dengan tatapan sinisnya.
“Dasar bodoh, mudah sekali memperdayamu Cha”, seru Gina dengan nada sedikit berteriak.
“Cih.. Lihatlah siapa yang berbicara. Sejak awal aku mengetahui bahwa kamu berbohong. Alasan aku setuju untuk membantumu adalah karena kami sedang mencari keberadaan Belalang Merah yang tersembunyi. And thank’s to you, you bring us to him darling”, balas Chaca. Kini Gina terlihat seperti orang bodoh, ia tak berpikir sampai sejauh ini, niat hati ingin memberi pelajaran pada Chaca namun kenyataannya ia yang menjadi terlihat bodoh didepan semua orang.
Anak buah Belalang Merah serentak menatap Gina ketika mereka mendengar ucapan Chaca. Kini terasa bahwa Ginalah yang bersalah .
“Apa yang kamu lakukan? Mengapa diam saja melihat dia mengatakan omong kosong seperti itu? Cepat suruh anak buahmu menghabisi mereka semua!”, seru Gina kesal pada Belalang Merah yang diam saja melihat dirinya seakan dipermalukan dihadapan orang banyak.
Gina yang terkejut terdiam dan tak mampu lagi mengatakan apapun. Sementara mereka sedang berbicara, di luar Barra dan Jo sudah tak sabar ingin segera masuk, mereka keluar dari tempat persembunyiannya lalu menerobos penjagaan yang dijaga cukup ketat oleh mereka.
“Siapa kamu?”, tanya salah satu dari mereka
__ADS_1
Buughh
Bughh
Satu persatu dari mereka dihajar oleh Barra dan Jo, mereka semua bersenjataakan benda tajam atau benda tumpul sedangkan Barra dan Jo bertarung dengan tangan kosong, sungguh tak adil sekali bagi mereka. Namun meski dengan tangan kosong sepuluh orang dari mereka dengan mudah dikalahkan oleh Barra dan Jo, melihat lawan mereka telah berhasil ditumbangkan Barra dan Jo masuk ke dalam tanpa ada siapapun yang menghalangi.
“Cih.. Mereka bahkan lebih lemah dari pada anak buah Belalang Merah di markas sebelumnya”, ucap Jo pada Barra sambil membersihkan kotoran yang menempel pada wajahnya.
“Entahlah, dari mana Belalang Merah mendapatkan badut badut seperti mereka? Bertarungpun tak bisa mereka lakukan”, balas Barra.
Ditengah perdebatan mereka Belalang Merah kembali duduk di singgah sananya dan perlahan ia mengangkat tangannya mengisyaratkan anak buahnya untuk menyerang Chaca, Shena dan Kimmi.
“Mari kita mulai permainannya. Serang mereka!”, perintah Belalang Merah pada mereka semua..
__ADS_1
“Hiiyyaaa!!!”, teriak mereka mulai menyerang Chaca, Shena dan Kimmi.