Kesempatan

Kesempatan
BAN 59 | Semuanya Telah Berakhir


__ADS_3

“Semuanya, berpencar!”, perintah Chaca pada Shena dan Kimmi. Chaca maju ke depan, Shena mengambil kana dan Kimmi mengambil kiri. Mereka sibuk dengan urusannya masing masing, serangan demi serangan berhasil dihindari oleh mereka. Ketiga wanita itu bertarung dan terus bertarung, seratus pria menlawan tiga wanita, mungkinkah itu? Kegilaan mereka dalam bertarung menjadikan hal itu wajar saja begi mereka ditambah kehetana mereka tak bisa diremehkan ketika mereka menyerang lawan lawan mereka secara merata.


“Apa apaan ini, mereka semuanya lemah”, seru Kimmi meremehkan kekuatan mereka.


“Sepertinya aku saja mampu menghabisi mereka semua”, sambungnya denga menyombongkan diri pada kedua rekannya yang sedang bertarung di sisi lain.


“Cih, dasar anak baru sombong. Aku sudah mengalahkan dua lima belas orang, asal kamu tahu”, balas Shena yang tak ingin kalah dari Kimmi.


“Ha ha.. Saat ini aku tujuh belas. Maaf aku lebih unggul darimu senior”, balas Kimmi yang terus merasa bahwa dirinya lebih baik dari Shena. Chaca diam saja dan tertawa melihat kelakuan kedua rekannya yang masih sempat bercanda disaat seperti ini.


“Diamlah kalian semua, mereka memang lemah namun jumlah mereka yang banyak tak bisa kita remehkan” ujar Chaca sambil terus melayangkan serangannya pada siapapun yang berada di hadapannya.


Disaat mereka semua sedang beraksi, kedua pria berbadan tinggi dan kekar datang, seperti dalam serial goblin yang pergi membeli daun bawang, seperti itulah mereka datang. Suasana yang sangat menegangkan dipenuhi oleh teriakan teriakan yang menambah gairah Barra dan Jo untuk bertarung, hasrat mereka kembali bangkit seperti seekor singa yang memantau mangsanya.


Mata Barra tertuju pada Chaca yang cukup santai bertarung dengan lawan lawannya sedangkan Jo menatap Shena dengan kagum, ia sedang melihat Shena bersenang senang seperti lawannya adalah mainan baginya yang bisa dihajar bahkan dibanting sesuka hatinya.


“Lihatlah gadisku, betapa menyeramkannya ia. Aku semakin jatuh cinta padanya”, ucap Jo kagum melihat kehebatan Shena dalam bertarung.


“Diam bodoh, cepat bidik lawanmu jangan sampai kita kalah dari mereka bertiga”, balas Barra


Kini anak buah Belalang Merah harus berhadapan dengan lima orang dengan gaya bertarung mereka masing masing yang tak mudah untuk dikalahkan.


“Sial, mereka bertambah, kita makin sulit mengalahkan mereka”, seru salah seorang dari anak buah Belalang Merah.


“Mengalahkan tiga wanita saja kita kewalahan”, sambung yang lain.


Jumlah mereka semakin lama semakin sedikit, Belalang Merah sungguh sangat kesal dengan anak buah yang tak bisa ia harapkan, melihat hampir dari mereka berhasil ditaklukkan, Belalang Merah berdiri dari tahtanya dan menatap Shena seolah menantangnya untuk satu lawan satu.


“Shena!!”, panggil Chaca dengan suara kencang, ia menoleh ke arah Belalang Merah yang berhenti menatap Shena.

__ADS_1


“Pergilah, biar kami yang atasi mereka. Lakukan tugasmu. Bunuh Belalang Merah”, seru Chaca pada Shena. Segera ia meninggalkn pertarungannya dan berhadapan dengan Belalang Merah.


“Apa kamu berpikir bisa mengalahkanku? Shena si Anjing Gila?”, tanya Belalang Merah dengan maksud meremehkan Shena yang berdiri dihadapnnya.


“Kamu tak lagi seperti dahulu, dahulu kamu bertarung dengan hasrat ingin membunuh namun tidak untuk sekarang. Lihatlah, salah satu dari mereka tak ada yang mati ditanganmu. Masihkah kamu berpikir bisa mengalahkanku?”, sambung Belalang Merah berusaha menjatuhkan mental Shena yang sedang berhadapan dengannya.


Dengan cepat Belalang Merah melayangkan tinjunya tepat di uluh hati Shena hingga ia jatuh tersungkur kesakitan.


“Akkhhh!!!”, rintihnya memegangi perutnya.


Bugghh


Bugghh


Bugghh


“Sial, benarkah aku tak bisa mengalahkannya? Sepertinya benar ucapannya, membunuh saja tak dapat lagi ku lakukan”, lirih Shena dalam hatinya dengan kondisi tubuh mulai melemah sedang Belalang Merah terus saja meluncurkan serangannya pada Shena tanpa mendapat balasan sedikitpun.


“Ayolah, mengapa kamu lemah sekali? Lawan aku, habisi aku seperti perintahnya bodoh!!”, seru Belalang Merah sambil menendang wajah Shena. Kini tubuh dan wajahnya penuh dengan darah, mengatur napas saja sulit untuk ia lakukan.


“Sepertinya aku akan berakhir disini, aku akan mati di tangan Belalang Merah dan begitulah akhirnya”, lirihnya sambil melihat kearah rekan rekannya yang sedang bertarung.


Setelah sekian lama, ia kembali merasakan putus asa dan kehilangan harapan, sama seperti dahulu ketika Belalang Merah menghajarnya habis habisan dan kini terjadi lagi, keadaan yang sama terulang kembali, Shena meraasa bahwa dirinya tak memiliki satupun kesempatan untuk menang dari masa lalu dan dri Belalang Merah. Hingga sebuah suara menyadarkannya.


“Shena!! Kamu adalah Shena si Anjing Gila, bangkitkan Anjing Gila dalam dirimu, hajar dan lawan dia sebagai Anjing Gila, bukan sebagai Shena. Aku memberikanmu perintah untuk menggila dan menang dipertarungan ini!!”, teriak Chaca pad Shena.


Deegg


Deegg

__ADS_1


Suara dan semangat yang diberikan Chaca seakan kembali mengembalikan detak jantung Shena dengan cepat, tatapannya yang ,erasa dirinya lemah kini berubah. Ia menatap Belalang Merah yang mencengkram kerah bajunya, mencoba menggenggam erat tangan Belalang Merah dan mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya dalam dirinya.


“Hiiiiiyaaaaaa!!!!”, teriak Shena, kekuatannya semakin lama semakin bertambah, Belalang Merah bahkan merasakan ketakutan ketika ia bertatapan dengan Shena, ia mulai menyadari bahwa saat ini yang sedang bertarung dengannya adalah Anjing Gila.


“Apa?” ucap Belalang Merah terkejut.


Seluruh kekuatannya ia kerahkan untuk mengalahkan Belalang Merah, hajar dan terus meluncurkan tinjunya, tak peduli berapa kali ia menghantam wajah bahkan bagian tubah Belalang Merah yang lain, satu tujuannya yaitu untuk membunuh Belalang Merah dengan tangannya sendiri.


“Tak ada ampun bagimu bajingan!!”, teriak Shena dengan mengumpat alih alih menyemangati dirinya.


Setiap pukulan yang mendarat di wajah Belalang Merah semakin lama semakin membuat wajahnya tak berbentuk. Tak hanya memukulya dengan tangan kosong, ia juga mengambil batu disampingnya dan menghajar wajah dan tubuh Belalang Merah hingga mematahkan hampir semua tulang pada tubuhnya. Kemarahannya memuncak, Shena sungguh sungguh menggila dipertarungan kali ini.


“takkan ku maafkan, akan ku kejar walau ke neraka sekalipun bajingan!!”, teriak Shena dengan kemarahannya dan air mata yang mengalir mengingat seluruh perlakuan buruk Belalang Merah padanya.


Kini Belalang Merah sepenuhnya tak sadarkan diri, detak jantungnya yang mulai melambat membuatnya tak lagi bisa bertahan hidup. Namun Shena tak ingin berhenti disini, ia takkan puas jika ia belum memastikan Belalang Merah mati ditangannya. Shena pergi mengambil belatih dan menusuk Belalang Merah tepat di jantungnya berkali kali.


Chaca memegangi Shena yang semakin tak terkendali dan menghentikannya, hatinya tak tahan melihat Shena dengan siksaan batin seperti ini.


“Sudah cukup. Sudah selesai, ia sudah mati Shena. Kembalilah”, ucap Chaca berusaha mengembalikan kesadaran Shena yang dilingkupi oleh kemarahan dan kebencian yang mendalam.


Shena menangis dan menangis dalam pelukan Chaca, kini ia terbebas sepenuhnya dari Belalang Merah, ia terbebas dari bayang bayang masa lalu yang mengekang hidupnya.


“Kamu menang, kita menang. Tenanglah Shena”, ucap Chaca lembut padanya.


Tanpa mereka sadari, Gina tak ada di sana, tak ada satupun yang mengetahui kemana ia akan pergi.


“Hah!! Sial, Belalang Merah telah di habisi, bagaimana denganku? Apa yang harus ku lakukan?”, geram Gina dengan kesal dan tubuh yang bergetar, ia memastikan bahwa tak ada satupun dari mereka yang mengikutinya.


“Kini akan ku hancurkan apa yang menjadi kebangganmu Chaca. Aku sudah muak dengan semuanya” seru Gina.

__ADS_1


__ADS_2