
Pesawat mendarat tepat pukul delapan malam. Tanpa menghubungi Chaca, Barra segera memanggil taksi dan pergi menemui Chaca di kantornya. Ia sangat yakin bahwa Chaca masih berada di kantornya meski sudah larut malam. Dirinya sungguh tak sabar untuk melihat Chaca dan berharap dirinya dalam keadaan baik baik saja selama hampir dua minggu ia meninggalkannya.
Langkah kakinya membawanya masuk ke dalam perusahaan Chaca keika ia melihat lampu ruangannya masih menyala, satpam sudah sangat mengenali Barra dan membiarkannya masuk untuk menemui Chaca, Barra mempercepat langkahnya hingga ia tiba tepat di depan pintu ruangan Chaca.
Barra membuka pintu dan melihat sosok wanita yang sangat ia rindukan, sejenak ia mengingat kembali mimpi yang siang tadi mengunjunginya, tak bisa dibayangkan jika hal itu terjadi padanya, Barra menghampiri Chaca dan memeluknya erat erat.
“Barra!!”, ucap Chaca terkejut melihat Barra yang tiba tiba berada dihadapannya dan langsung memeluknya.
Barra mendekap Chaca dengan erat seakan tak ingin melepaskannya, ketakutan dalam dirinya meningkat semakin tinggi dan ia terus terbayang bayang saat dimana Chaca meninggalkannya, meski itu hanya mimpi namun Barra merasa bahwa hal itu mungkin saja terjadi.
__ADS_1
“Mengapa tak menghubungiku jika kamu pulang lebih awal? Bukankah besok?”, tanya Chaca yang masih berada di dekapan Barra.
Barra tak menjawab Chaca dan terus saja mendekapnya semakin lama semakin erat, Chaca membiarkannya dan balas memeluknya, cukup lama mereka berpelukan sampai akhirnya Barra melepaskannya.
“Ada apa? Sesuatu terjadi?”, tanya Chaca lembut pada Barra dan menggiring Barra duduk di sofa.
“Tak ada, aku hanya mendapatkan mimpi buruk Cha”, jawab Barra termenung dan menundukkan kepalanya sambil menggenggam tangan Chaca.
Barra menatap Chaca dan menyentuh lembut wajahnya, wanita yang sangat ia cintai kini berada di hadapannya dan masih dalam keadaan sehat juga baik baik saja. Barra mengurungkan niatnya untuk mengatakan pada Chaca mimpi apa yang ia dapatkan, Barra tak ingin mimpinya menjadi beban pikiran Chaca.
__ADS_1
“Lupakanlah, melihatmu baik baik saja sudah melegakanku. Kamu tak terlibat sesuatu yang membahayakan bukan? Jangan membuatku khawatir Cha, meski kamu lihai dalam bertarung dan sangat hebat namun tetap saja, jangan terlibat masalah yang membahayakan, ku mohon”, pinta Barra dengan tatapan yang sangat tulus dan khawatir. Chaca menatap Barra dengan cukup curiga, ia tak pernah mendapati Barra bersikap seperti ini padanya selama ini. Mimpi apa yang didapatkan Barra hingga ia cukup ketakutan? batinnya.
“Ceritakan padaku Barra. Apa yang membuatmu takut dan khawatir? Mimpi apa yang kamu dapatkan? Jangan sembunyikan apapun dariku”, pinta Chaca yang tak bisa melihat Barra dengan kekhawatirannya.
“Entah sudah berapa kali aku memimpikannya. Mimpi itu berulang ulang mendatangiku, membuatku merasa jika hal itu mungkin saja akan terjadi di kemudian hari”, ucap Barra.
“Saat itu tengah malam, ada aku Shena dan juga kamu. Kamu menangis dan terus saja memangil namaku. Aku melihatmu pergi dengan taksi dan menghilang. Kamu tak pernah kembali Cha, seperti memasuki dimesni yang berbeda” sambung Barra.
Chaca terdiam dan membolakan kedua matanya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat ketika ia mendengar cerita Barra. Tubuhnya mulai gemetar bahkan ia mulai sulit untuk bernapas, mimpi yang didapatkan Barra benar adanya, kurang dari satu minggu lagi, ia harus kembali ke dunianya dan meninggakan Barra di tempat ini.
__ADS_1
“Itu.. Itu hanya mimpi Barra, mimpi hanyalah bunga tidur. Kamu terlalu mencintaiku hingga ketakutan akan kehilanganku sangat besar, mungkin karena itu kamu terus bermimpi hal yang sama. Tenanglah, semua akan baik baik saja, jangan pikirkan lagi mimpi itu” ujar Chaca dengan nada yang sedikit bergetar mencoba menenangkan Barra alih alih menenangkan dirinya sendiri.