
Dalam ruangan yang serba tertutup, hanya ada Shena seorang yang belum sadarkan diri. Sebuah ruangan yang tertutub oleh plastik diseluruh bagiannya hingga udara terasa sangat lembab bahkan sulit untuk seseorang bernapas didalam sana, aroma anyir darah juga cukup terasa memenuhi ruangan itu.
Perlahan Shena menggerakkan jemarinya dan kesadarannya mulai kembali, membka matanya untuk pertama kali secara perlahan dan akhirnya ia menyadari bahwa ia berada di tempat yang tak seharusnya ia berada, meski pandangannya masih sedikit kabur namun Shena berusaha keras untuk memulihkan kesadarannya dengan sempurna.
“Dimana, dimana ini? Bau ini. Bau darah”, lirihnya sambil memegangi kepalanya yang sangat sakit ia rasakan. Perlahan Shena mencoba menarik napas panjang karena ia kesulitan bernapas didalam ruangan yang bahkan udara pun sulit untuk masuk.
“Bu Chaca”, lirihnya lagi, orang pertama yang terpikirkan olehnya adalah Chaca yang saat itu mengalami kecelakaan bersamanya, berusaha untuk tenang dan mengingat seluruh kejadian yang terjadi padanya membuat kepala Shena terasa sangat sakit hingga ia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat lalu mmebuka pintu dan masuk ke dalam.
“Lihatlah dirimu sekarang. Sangat menyedihkan”, ucap Belalang Merah yang perlahan menyentuh wajah Shena yang setengah tersadar sambil sedikit mengoyang goyangkan wajahnya membuat Shena melihat dirinya.
“Tak kusangka kamu masih hidup. Selama hampir empat tahun kami semua mengira bahwa Anjing Gila telah mati, sekarang kamu kembali”, ucapnya seraya menyeringai menatap Shena dengan tajam sambil mendekatkan wajahnya pada Shena, membuat Shena mencoba untuk menghindari tatapan mata itu.
“Dimana.. Dimana Bu Chaca?”, tanya Shena dengan lemah namun berusaha untuk melawan Belalang Merah yang menekan rahangnya dengan keras.
“Chaca? Aku berencana menjual wanita itu. Dia sangat cantik dan juga cerdik, pasti banyak orang diluar sana yang menginginkannya”, jawab Belalang Merah pada Shena.
Perkataan dari Belalang Merah membuat kesadaran Shena pulih sepenuhnya mendengar bahwa dirinya hendak menjual Chaca sepert yang pernah ia lakukan dahulu. Bersamaan dengan amarah yang mulai meledak, Shena mengepalkan tangannya dan menghantam Belalang Merah tepat di pelipisnya.
__ADS_1
“Bajingan!!”, teriak Shena sambil melunjurkan pukulan yang mengarah ke pelipis Belalang Merah.
Terlihat sangat santai dan seperti tak merasakan apapun, Belalang Merah menatap Shena sambil menyeka darah yang menetes keluar dari pelipisnya dengan sapu tangan di saku celananya sambil tersenyum menerima sebuah pukulan dari Anjing Gila.
“Aku memang bajingan sejak dahulu”, balas Belalang Merah dengan seringainya yang khas dan sangat menyebalkan. Beberapa orang lainnya datang setelah Shena menghatam pelipis Belalang Merah sambil memawa peralatan bedah dan sebuah butiran berwarna putih dalam kantung, mereka berjalan ke arah Shena dan memegangi kedua tangannya dengan cepat.
“Sialan!! Apa yang kalian lakukan? Cari mati kalian?”. Teriak Shena sambil mencoba melepaskan diri dari beberapa orang yang memegangi tangan dan sebagian berjaga di belakang Shena awas awas jika Shena menyerang.
“Apa itu, apa yang akan kamu lakukan padaku?”, tanya Shena dengan nada berteriak sambil terus melepaskan dirinya.
“Bukankah kamu tak ingin dipisahkan dari wanita yang bernama Chaca itu?. Jadi, lebih baik ku jual saja kalian berdua. Dan matilah kalian bersama dengan membawa benda haram ini bersama kalian”, seru Belalang Merah pada Shena sambil menunjukkan butiran batu berwarna putih yang adalah sebuah narkoba.
Sebuah perlawanan tak hanya dilakukan oleh Shena seorang namun seorang pria tinggi bertubuh besar datang dan membuat keributan di markas besar Belalang Merah. Dengan dua belatih yang ia genggam, pria itu maju dan menghajar mereka semua seorang diri. Hampir lima puluh orang yang berada di markas dihajar seorang diri olehnya.
Adalah Jo. Manejer Personalia Perusahaan induk yang datang ke markas besar Belalang Merah untuk menyelamatkan Shena dari ancaman yang ia dapatkan. Sebuah kebetulan kah semua ini? Tidak.
Ketika kecelakaan terjadi, Jo melihat seluruh kejadian itu dan berusaha untuk menghubungi pihak rumah sakit untuk mengirimkan ambulan bagi Shena dan Chaca namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar bahwa ambulan akan segera tiba. Jo menyukai Shena pada pandangan pertama ketika Shena datang ke perusahaan induk untuk meminta data buyer kelima Dewan Direksi. Namun sebuah kejanggalan ia rasakan. Dari ambulan yang tiba dengan sangat cepat dan terpisahnya Chaca juga Shena ketika mereka berdua dilarikan ke rumah sakit. Jo sengaja mengikuti ambulan yang membawa Shena dan tiba di sebuah pabrik yang telah terbengkalai. ia melihat Shena dibawa masuk kedalam dengan penjagaan yang sangat ketat hingga ia pun tak mungkin dapat menembusnya begitu saja.
__ADS_1
Jo maju dan melawan mereka semua tanpa merasakan sakit yang ia rasakan ketika ia pun dihajar oleh mereka semua.
“Beraninya kalian membawanya ke tempat yang seperti ini bajingan!!”, seru Jo dengan amukannya disertai pukulan keras yang ia layangkan pada siapa saja yang berada dihadapannya. Matanya yang membola dan terlihat menyermkan terus ia layangkan pada mereka yang berani menculik Shena, wanita yang disukainya.
Dari dalam ruangan, Shena mendengar suara teriakan seperti orang sedang bertarung, suara ituyang membangkitkan semangat Shena untuk melawan mereka yang berusaha memasukkan narkoba kedalam tubuhnya. Shena menghajar mereka semua yang beada diruangan yang sama dengannya tanpa ada satupun yang tersisa, lalu ia keluar untuk melihat siapa yang ia lawan.
Pandangannya tertuju pada seorang pria yang ia kenal dengan kaca matanya yang khas.
“Pak Jo?”, ucap Shena melihat Pak Jo bertarung melawan anak buah Belalang Merah tanpa henti. Shena berjalan menuju kearah Jo namun lawan yang sebenarnya baru saja tiba, Nomer 1 menghadang jalan Shena tepat dihadapannya sambil menatapnya tajam dan menyeramkan.
“Lama tak bertemu. Anjing Gila”, panggil Nomer 1 pada Shena yang berada tepat dihadapannya.
Niat hati ingin bertarung besama Jo dan melarikan diri namun keadaan tak mendukung rencananya, ia lagi lagi harus berhadapan dengan si Nomer 1 jika ia ingin keluar dari masalah ini.
“Aku muak dengan mu. Haruskah ku habisi sekarang juga?”, geram Shena yang kesal karena ia harus terus berhadapan dengan Nomer 1 ketika ia dalam sebuah pertarungan.
“Sepertinya kali ini kamu yang akan mati ditanganku”, balas Nomer 1 tanpa ragu dan takut.
__ADS_1
Meski dahulu si Anjing Gila adalah orang yang paling ditakuti namun semuanya hanyalah masa lalu, kini Nomer 1 adalah orang paling hebat, tak ada ketakutan ataupun keraguan yang ia tunjukkan dihadapan Shena. Dan pertarungan mereka pun kembali terjadi, antara Anjing Gila dan Nomer 1