Kesempatan

Kesempatan
BAB 61 | Akhir Cerita


__ADS_3

“Aku harus kembali ke duniaku”, ucap Chaca yang berhasil membuat Barra diam mematung menatap Chaca di sampingnya. Ditengah kebingungan Barra, sebuah mobil massuk ke dalam pabrik dan melumpuhkan seluruh penjaga pabrik dengan mudahnya. Chaca bangkit dan menghajar mereka yang telah berulah di pabriknya seorang diri, tanpa bajtuan Shena ataupun Kimmi yang ikut dengannya.


“Siapa yang menyuruhmu melakukannya? Jawab aku!”, seru Chaca dengan tatapan mengancam.


Kelima orang dari mereka yang telah tertangkap basah masih dapat bungkam dan tak mengatakan apapun pada Chaca. Sebuah pukulan menghantam wajah salah satu dari mereka. Chaca kembali lagi menanyakan pertanyaan yang sama.


“Sia ayang menyuruhmu melakukannya keparat?!!”, tanya Chaca, kali ini dengan nada tinggi, matanya yang membola memancarkan amarahnya yang sangat membara, untuk pertama kalinya Barra melihat kekasihnya marah sampai seperti ini.


“Dia seorang wanita bernama Gina”, jawab salah satu dari mereka dengan wajah ketakutan. Setelah mendengar jawaban dari mereka, Chaca bangit sambil mengepalkan kedua tangannya seperti hendak meluncurkan kembali serangannya. Namun nyatanya tidak. Chaca tertunduk dan tubuhnya bergetar, ia menangis mendegar jawaban yang tak ingin ia dengar. Jauh didalam lubuk hatinya Chaca masih berharap bahwa Gina bukanlah pelakunya, meski kini hubungan mereka telah rusak namun kenangan indah mereka masih tersimpan rapi di hati Chaca.


Barra menghampiri Chaca dan memeluk kekasihnya itu, sekali kali ia tak pernah melihat Chaca serapuh dan sehancur ini, meski ia tak mengerti dengan jelas apa yang terjadi.


“Aku sudah mengetahui segalanya, perjalananku selama tiga buan hanya untuk mencari kebenaran tentang siapa yang menghancurkan pabrik dan impianku. Kini segalanya telah berakhir”, lirihnya disertai isak tangis yang ia lampiaskan didalam dekapan Barra yang memeluknya dengan lembut. Waktunya bersama Barra kini hanya tersisa tak sampai satu jam.


Sama seperti Chaca, Barra pun merasakan sakit didalam hatinya, ketidak jujuran Chaca tak hanya menyakiti Chaca seorang, ia tak sadar bahwa Barra pun ikut tersakiti.


“Jadi ini rahasia terakhirmu?”, tanya Barra kecewa bercampur sedih. Yang ia lakukan hanya memeluk Chaca erat erat dan tak ingin berpisah dengannya meski ia merasa kesal sekalipun.


“Maafkan aku. Seharusnya kamu tak pernah ada di kehidupanku, seharusnya kita tak pernah bertemu. Seharusnya ini semua tak pernah terjadi”, sesal Chaca sambil terus mendekap Barra.


“Namun aku nyata, perasaanku nyata, hubungan kita juga nyata, bagaimana mungkin kamu mnegatakan bahwa seharusnya semua ini tak pernah terjadi?”


“Tinggalah disini denganku. Atau biarkan aku ikut keduniamu”pinta Barra berharap.


Chaca menggelengkan kepalanya sambil menangis, semua itu tak mungkin terjadi.


“Shena dan Kimmi ada di duniaku, namun berbeda denganmu. Aku tak pernah bertemu denganmu, aku bahkan tak tahu apakah kamu ada dan nyata di duniaku atau hanya di sini saja” lirih Chaca.


“Lalu bagaimana denganku? Setelah kamu pergi mungkin kamu akan bertemu denganku disana, lalu aku?”, tanya Barra kesal.


“Tidak Barra, dimensi ini hanyalah masa laluku, setelah aku kembali semua yang ada disini akan berhenti, perasaanmu akan berhenti” balas Chaca.


Waktunya sudah tak banyak lagi, segera ia meminta Shena dan Kimmi mengantarnya ke rumah, sebab dari sanalah segalanya bermuala. Lagi lagi langkah Chaca terhenti, Barra menggenggam tangannya sambil menunduk.


“Biarkan aku mengantarmu”, pinta Barra, Chaca tak menolak keinginan Barra, karena ia masih ingin menghabiskan waktunya bersama Barra. Dalam mobil tak ada satupun dari mereka yang berbicara, sesekali hanya isak tangis yang terdengar dari diri mereka, tangan mereka masih terus menyat seakan tak membiarkan salah satunya pergi.


“Seandainya kamu mengatakannya sejak dulu, mungkin rasanya takkan sesakit ini Cha”, lirih Barra.


“Seandainya aku tak memulainya, mungkin kamu takkan tersiksa sampai seperti ini” balas Chaca.

__ADS_1


“Apakah kamu menyesalinya?” tanya Barra lagi.


“Tak pernah, meski kamu tak pernah ada di duniaku, aku akan hidup dengan seluruh kenangan ini”, balas Chaca.


“Bisakah aku meminta satuhal padamu? Jangan pernah berhenti mencariku, temukan aku dan buat aku mencintimu seperti saat ini. Bisakah kamu lakukan itu? Sungguh aku tak ingin berpisah denganmu”, lirih Barra. Chaca hanya mengangguk, sebuah kecupan lembut mendarat di kening Chaca.


Sebuah mobil taksi telah menunggu Chaca, seperti apa yang dikatakannya, ia akan menjemput Chaca dan kembali ke dunia asalnya dan meninggalkan masa lalu juga cintanya disini.


“Barra.. Barr..!!”, teriak Chaca ketika mobil taksi itu memasuki dimensi waktu dan kembali ke dunianya.


Chaca tersadar, ia melihat keadaan sekitar, ia tak lagi berada di depan rumahnya melainkan di depan apartemen miliknya dengan menggunakan pakaian yang sama seperti saat ia sampai setelah perjalanan jauh yang ia tempuh.


“Kini saatnya. Kalian berdua, akan kembali hancur bersama sama”, gumam Chaca dalam hatinya.


“Sekarang bereskan segalanya dan hiduplah bahagia nona cantik. Saya akan mengakhiri pelayanan taksi untuk anda, terimakasih telah menggunakan jasa taksi ini”, seru sopir taksi itu tersenyum pada Chaca.


Chaca turun dari taksi dan masuk kedalam apartemennya. Selangkah demi selangkah, Chaca merogoh ponsel dalam tasnya dan menghubungi Shena , sekertarisnya.


“Shena, bakar habis pabrik milik Gina malam ini dan buat semua itu seakan akan mengarah padanya, aku akan membalas apa yang ia lakukan padaku. Lakukan segalanya sekarang. Dan untuk bisnis Ryan, tarik semua investasinya dan umumkan pada investor bahwa aku menarik semua investasiku, mereka pasti ikut menarik investasinya. Lalu hancurkan seluruh bisnisnya. Lakukan kedua pekerjaan itu malam ini!”, perintah Chaca pada Shena.


Perlahan Chaca berjalan memasuki lift dan berhenti tepat di depan unit apartemen miliknya, ia mengetahui apa yang sedang terjadi didalam sana, sebuah perselingkuhan antara kekasih dan juga sahabatnya. Tak ada lagi kesabaran, bahkan ia tak lagi memiliki cinta untuk Ryan. Chaca memasukan kode keamanan dan membuka pintu itu dengan kencang.


Suara pintu sangat mengejutkan mereka yang sedang menghabiskan malam bersama diatas ranjangnya tanpa sepengetahuan sang pemilik rumah. Chaca masuk kedalam dan ia melihat sama persis seperti apa yang ia lihat pertama kali, Gina menutupi tubuhnya dengan selimut sedangkan Ryan tertangkap basah tak mengenakan pakaian apapun, mereka berdua seperti melihat hantu saan Chaca menatap tajam mereka.


“Ch.. Chaca.. Aku..Ini tak seperti yang kamu lihat. Ular itu yang menggodaku, aku terpengaruh alkohol dan dia memperdayaku, demi Tuhan di yang memulainya”, ucap Ryan segera ketika ia melihat Chaca, ketakutannya membuatnya berbohong dan mengambing hitamkan Gina, namun Chaca yang telah mengetahui segalanya hanya diam dan menatap Ryan tajam tajam sedangkan Gina yang tak bisa mengatakan apapun lagi hanya tertunduk ketakutan.


“Tenanglah kalian, aku yang terlalu bodoh terlalu mempercayai kalian, perselingkuhan kalian dibelakangku, aku tak memperdulikannya. Aku datang untuk memutuskan hubungan dengan kalian berdua. Mari kita putus Ryan, dan untukmu Gina, pungut saja sampah yang telah ku buang. Bukankah selama ini kamu hanya menggunakan sisa sisa dari milikku?”, seru Chaca dengan kasar dan menusuk. Gina masih terdiam dan tak mampu berkata kata.


“Apa? Apa yang kamu katakan sayang? Sudah ku katakan bahwa aku diperdaya oleh sahabatmu, percayalah padaku”, seru Ryan ketakutan dan menggenggam tangan Chaca. Gina yang sudah tak tahan berteriak dengan kencang memanggil nama Ryan.


“Ryaann!! Katakan saja yang sebenarnya bahwa selama ini Chaca tak pernah membuatmu puas, katakan saja bahwa kamu sudah tak lagi mencintainya dan hanya mencintaiku, biar dia sadar akan posisinya bahwa dia tak lebih baik dariku”, geram Gina yang kesal karena Chaca telah menghinanya.


“Dasar jal4ng!! Diamlah wanita hina!!”, bentak Ryan pada Gina.


Chaca melepaskan genggaman tangan Ryan, seketika ponselnya berbunyi. Pesan singkat dari Shena berhasil membuatnya tersenyum.


“Aku pergi, bereskan kekacauan ini sebelum kalian meninggalkannya, sepertinya aku akan menjual unit ini karena telah menjadi sarang penyamun”, ucapnya lalu meninggalkan merreka begitu saja.


Tak lama ponsel milik Ryan berbunyi, ayahnya menghubunginya malam malam.

__ADS_1


“Ada apa?”, tanya Ryan


“Anak bodoh. Kita bangkrut, semua investor telah menarik investasi mereka, Chaca pun begitu dan lagi semua usaha kita habis tak bersisa. Kemarilah kamu anak sialan!!”, maki ayah Ryan padanya ketika ia melihat salah satu konveksinya berantakan dan rusak tak karuan.


Ryan segera bangkit dan menggunakan seluruh pakaiannya dan meninggalkan Gina seorang diri.


Sama halnya dengan Ryan, Gina mendapat panggilan dari ayahnya.


“Dimana kamu? Apa yang kamu lakukan pada pabrik, Gina?!”, teriak ayahnya pada Gina.


Gina yang tak tahu apapun hanya terdiam.


“Pabrik terbakar hebat karena ulahmu, polisi menemukan identitasmu dan bukti bahwa kamu yang membakar pabri, apa yang kamu pikirkan? Mulai detik ini, kamu bukan lagi anak papa. Sudah cukup semua masalah yang kamu timbulkan anak sial!!”, bentak ayahnya.


Chaca berjalan dengan tenang dan mengakhiri segalanya sampai disini. Dari salam mobil ia melihat Ryan berlari panik lalu disusul dengan Gina yang berlari sambil menangis, misinya telah selesai. Segalanya telah ia akhiri sesuai keinginannya.


Satu Tahun Kemudian.


Sebuah berita duka ia dengar. Ryan memutuskan untuk gantung diri dan mengakhiri hidupnya disalah salah satu konveksi miliknya sedangkan Gina, kini ia berada di rumah sakit jiwa, ayahnya sudah tak lagi menganggapnya begitu juga dengan Pak Karto yang tak lagi memperhatikan Gina seperti dahulu.


Disisi lain, Chaca masih terus berjuang tiada henti. Ia mencari keberadaan Barra, ia bahkan tak pernah istirahat untuk mencari tahu tentangnya. Hingga suatu hari ia tiba disebuah kafe baru, suasana yang sama juga keadaan yang sama.


Mata Chaca tertuju pada satu barista yang sedang menyiapkan pesanan pelanggan. Tatapannya yang berbinar juga berkaca kaca seperti terasa sangat melegakan baginya, pencariannya selama ini pada akhirnya tak sia sia, ia menemukan Barra didunianya.


“Aku menemukanmu Barra”, lirihnya dalam hati menatap Barra dengan perasaan rindu yang tak terkatakan.


“Selamat siang”, sapa Barra.


Seperti Chaca, Barra pun memandangi Chaca, tatapan mereka saling bertemu dan Barra merasakan hatinya berdebar.


“Siapa dia? Mengapa dia sangat cantik?”, tanya Barra dalam hati.


Pada akhirnya Chaca bertemu dengan Barra didunianya, Chaca menepati janjinya untuk menemukan Barra hingga ia dapat, perasaan bahagia dan lega bercampur aduk didalam hatinya kala itu.


“Kali ini, biarkan aku yang memulainya Barra”, gumamnya dalam hati.


.


~end

__ADS_1


__ADS_2