Kesempatan

Kesempatan
Chapter 22 : Permintaan Maaf


__ADS_3

Ctaak!!


Reza menjentikkan jarinya, membuyarkan lamunanku dengan cepat. “Mikirin apaan, sih?” tanyanya sambil sesekali menoleh padaku diselanya mengemudikan mobil.


Aku mengedipkan mata, mencoba untuk kembali tersadar akan masa sekarang yang aku jalani saat ini. Menoleh padanya lalu kembali membuang pandangan keluar jendela, aku benci saat dia melontarkan pertanyaan itu. “Nggak ada,” jawabku singkat.


Perjalanan dari rumah ke pasar tradisional di sini hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit, jika menggunakan mobil seperti sekarang. Tidak ada kemacetan seperti di Jakarta. Aku langsung mematikan AC mobilnya lalu membuka jendela, merasakan udara pagi yang sejuk.


Pemandangan di sini pun terlihat lebih asri dan juga indah. Berbeda dengan Jakarta yang dipenuhi oleh kemacetan. Ruang terbuka hijau pun seakan tidak bisa mengalihkan rasa kesal akibat padatnya jalan raya di sana.


Jauh aku lempar pandanganku ke luar jendela mobil, memerhatikan orang yang masih dengan santai melakukan kegiatan paginya. Ada yang sedang jogging, bersepeda, duduk istirahat menikmati alam sekitar, dan masih banyak yang lainnya. Rata-rata mereka terlihat gembira tanpa beban hidup, tanpa kesedihan dan permasalahan yang ada.


Ya, selalu itulah yang tampak dari luar, itulah yang orang-orang lihat dengan mata telanjaang. Padahal setiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri, dengan tingkat kesulitannya sendiri, sesuai kemampuan.


Begitu halnya dengan aku, yang saat ini mencoba menenangkan hati karena duduk di samping lelaki yang beberapa bulan lalu menyakiti hati ini. Menggores luka yang tidak akan pernah bisa sembuh hanya dengan sebuah kata ‘maaf’.

__ADS_1


Tidak lama kemudian kami sampai, dan tidak butuh waktu lama bagiku untuk berkeliling dalam pasar tradisional, membeli semua kebutuhan yang tertulis di dalam daftar belanjaan. Reza juga ikut membuntutiku, mengangkat semua belanjaan itu. Kami tidak saling berdiskusi, aku terus melangkah di depannya dan dia terus berada di belakangku.


Aku hanya menoleh padanya saat memberikan satu per satu belanjaan yang berhasil dibeli. Hingga akhirnya dia menegurku saat langkah kaki ini menuju keluar pasar. “Sudah semuanya?” tanyanya.


Aku hanya menoleh sekilas, lalu mengangguk beberapa kali. Kemudian kembali berjalan cepat menuju parkiran. Sebenarnya aku kasihan, melihat kedua tangannya yang penuh dengan kresek belanjaan, tidak tega melihat raut wajahnya yang letih.


Reza langsung membuka bagasinya untuk memasukan semua belanjaan itu, sedangkan aku yang tidak tahu diri ini, langsung masuk ke dalam mobilnya, duduk bersantai menunggunya selesai menata belanjaan di bagasi sana.


“Kamu mau makan dulu nggak?” tanya Reza lagi, begitu dia sudah berhasil duduk dibalik kemudi setir, di sampingku.


“Enggak, langsung pulang aja. Daging harus cepat masuk freezer.” Aku beralasan.


“Kamu kenapa, sih? Ketus banget sama aku?”


“Aku memang begini dari dulu,” jawabku santai sambil memandang lurus ke depan, tanpa menoleh sedikit pun.

__ADS_1


Helaan napasnya terdengar begitu kasar di telingaku. “Maaf kalau dulu aku bikin salah,” ucapnya lirih.


“Aku nggak memerlukan ucapan maaf kamu yang dulu mau pun yang sekarang. Karena semestinya aku yang tahu diri buat memusnahkan segalanya yang tumbuh dengan liar, sebelum tersiram kembali.”


Mengapa aku jadi menjawabnya seperti itu? Bukankah itu terdengar terlalu sensitif? Berarti aku membutuhkan maaf darinya, 'kan? Sial!!


“Aku janji nggak akan bikin kamu sakit hati lagi,” sahutnya lagi.


“Enggak usah janji kalau nggak bisa ditepati. Lagian buat apa kasih janji ke aku kalau hanya berlandaskan hati? Bukan Tuhan?” Aku menoleh menatapnya sekilas.


Pandangan mata kami sempat bertemu, yang kemudian aku alihkan dengan cepat. Aku masih tidak sanggup untuk menatapnya lama-lama. Tidak ada lagi kata yang terucap dari mulutnya, dia diam seribu bahasa.


Aku juga demikian, membungkam mulutku sendiri, karena aku merasa apa pun kalimat yang aku ucapkan padanya, pasti terdengar kasar di telingaku sendiri. Apalagi di telinganya?


***

__ADS_1


__ADS_2