Kesempatan

Kesempatan
BAB 24 | Lawan yang Tangguh


__ADS_3

“Makanan disini sangat lezat. Darimana kamu menemukannya?”, tanya Pak Umar, ayah Chaca sambil terus menikmasti makanannya.


“Kafe ini milik teman Chaca, dan barista yang berdiri disana adalah pemiliknya. Ia juga memiliki salah satu hotel bintang lima yang selalu kita datangi ketika rapat besar”, ucap Chaca membanggakan temannya yang sangat hebat dihadapan ayahnya.


“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan dengan papa?”, tanya Pak Umar sambil menyendokkan satu suapan dalam mulutnya.


“Yang ingin Chaca bahas adalah PT Warna Cakrawala. Desas desusnya, perusahaan itu akan segera bangkrut. Tahukah papa potensi dari perusahaan itu sangat besar dan sangat hebat? Namun sialnya karena hutang mereka yang menumpuk dan Direktur Utama yang tak ingin mem – PHK baik buruh atau karyawannya menjadikan pengeluaran mereka sangat membengkak dan membuat perusahaan itu berguncang” ucap Chaca mengawali pembicaraan.


“Jadi?”


“Apakah mungkin jika perusahaan kita mengakusisi PT Warna Cakrawala?”. Tanya Chaca yang membuat Pak Umar meletakkan peralatan makannya lalu melihat kearah putri semata wayangnya itu.


“Apa yang kamu pikirkan? Bukankah kita sudah mempunyai Pak Broto dan Pak Lukman? mereka berdua adalah pemilik perusahaan kain yang baik bukan?” jawab Pak Umar tak mengerti dengan apa yang dipikirkan anaknya itu.


“Namun papa. Itu bukan milik kita. Mereka hanya bekerjasama dengan kita. Jika kita memiliki perusahaan kain sendiri, bukankah segalanya akan jauh lebih mudah? Ditambah lagi, ini akan memberikan papa dukungan yang lebih besar lagi”. Balas Chaca mencoba meyakinkah ayahnya untuk segera mengakusisi PT Warna Cakrawala sebelum Pak Karto berhasil mengakusisinya menjadi milik pribadi.


“Katakan ucapanmu benar, lalu bagaimana kita bisa mendapatkan uang yang sangat banyak untuk mengakusisinya? Bukankah harga dibuka mulai dari 500M? Paling tidak kita membutuhkan 750 – 800M”. Balas Pak Umar memberikan argumennya.


Suasana hening sekeitika, Chaca melupakan hal itu. Mudah saja jika Chaca ingin mendapatkan PT Warna Cakrawala namun bagaimana ia dapat membayarnya?

__ADS_1


“Berikan saja Chaca perintah papa. Sisanya Chaca yang akan mengurusnya”, seru Chaca dengan percaya diri.


“Asalkan ku dapatkan PT Warna Cakrawala, maka segalanya akan baik baik saja. Untuk pembayaran aku akan memikirkannya nanti”, gumamnya dalam hati.


...****************...


“Bagaimana? Sudah berhasil mendapatkan PT Warna Cakrawala?”, tanya Pak Karto pada Pak Hendra yang kala itu berada di ruangannya bersama dengan Pak Broto, Pak Hadi dan Pak Lukman.


“Sangat sulit untuk mendapatkannya. Disamping harga yang terlalu mahal, musuh kita juga sangat mustahil untuk dihadapi”, keluh Pak Hendra menjawabnya.


“Jadi? Kamu tak bisa mendapatkannya? Katakan saja jika dari awal tak mampu untuk melakukannya, aku akan menyuruh yang lain untuk mendapatkannya”, jawab pak Karto kesal dengan hasil yang diberikan Pak Hendra, bagaimana pun caranya, PT Warna Cakrawala harus menjadi miliknya seperti apa yang diinginkan.


“Lalu jangan sia siakan kepercayaanku. Kembalilah ketika kamu telah mendapatkannya. Aku menunggu kabar baik darimu”, seru Pak Karto dengan tatapannya yang cukup menyeramkan sambil mengangkat kedua kakinya naik ke atas meja di hadapannya.


Hari telah berganti, tanpa membuang buang waktu Chaca segera menghubungi Hanna untuk kembali membahas hal yang sangat penting bagi mereka berdua di sebuah kafe milik Barra


“Ya, aku akan melakukannya. PT Warna Cakrawala akan menjadi salah satu dari anak perusahaan Terang Abadi. perusahaan induk akan mengakusisi PT Warna Cakrawala. Jadi sampaikan berita ini pada Direktur Utama, takkan ada pemecatan karyawan ataupun buruh. Kami yang akan menanggung semuanya dan selebihnya akan dibicarakan kembali ketika kedua Direktur Utama bertemu”, ucap Chaca memberikan sebuah berita yang sangat membahagiakan bagi Hanna.


“Ahh.. Chaca, terimakasih. Aku akan sampaikan ini pada Direktur Utama”, ucap Hanna dengan tangis penuh haru.

__ADS_1


Sengaja tak segera kembali karena ia merasa nyaman berada di kafe ini dan merenung seorang diri dengan melihat jalanan yang sangat ramai itu, hingga akhirnya Barra menghampirinya dengan secangkir latte dengan bentuk hati di tengahnya.


“Mungkin ini akan menjernihkan pikiranmu dari bisingnya dunia”, ucap Barra yang menyadarkan Chaca dari lamunannya. Sudah sejak tadi Chaca terus saja menatap jalan dan berdiam diri tanpa melakukan apapun.


“Sepertinya banyak yang kamu pikirkan”, ucap Barra tersenyum pada Chaca untuk menghibur wanita pujaan hatinya. Chaca memiringkan sedikit kepalanya dan melihat banyak pelanggan yang sedang mengantre memesan sedang hanya ada satu barista dan satu kasir di tempat.


“Sepertinya mereka lebih membutuhkanmu dari pada aku. Pergilah bekerja terlebih dahulu”, ucap Chaca melihat para karyawan Barra seperti kesulitan menanggapi para pelanggan tanpa Barra.


“Mereka sudah ku latih, biarkan saja. Kamu lebih penting, ada apa?”, tanya Barra sekali lagi dengan mengusap kepala Chaca hingga membuatnya tertunduk malu.


“Tak ada apa apa, hanya masalah pekerjaan saja yang semakin lama semakin berat. Ketika seseoran berhasil mencapai puncak, akan selalu ada orang lain yang mencoba menariknya turun dan bahkan menjatuhkannya hingga ke jurang yang paling dalam, sampai orang itu tak bisa bangkit lagi. Sepertinya itu yang sedang terjadi padaku”, ucap Chaca mencoba berbagi perasaannya pada Barra sambil menyeruput secangkir latte dengan karakter hati ditengahnya yang berhasil membuatnya tersenyum walau sangat tipis.


“Meski orang itu dijatuhkan bahkan hingga ke jurang paling dalam sekalipun namun ingatlah, akan ada orang lain yang mengulurkan tangannya dan membantumu hingga mencapai puncak kembali, meskipun dunia ini dipenuhi oleh orang jahat, namun akan selalu ada orang baik disekitarmu”, balas Barra mencoba menghibur dan menyemangati Chaca dengan ucapannya.


“Terimakasih, telah menjadi salah satu orang baik disekitarku Barra”, ucap Chaca tersenyum manis pada Barra yang berhasil membuat jantung Barra berdetak tak karuan hingga ia memalingkan wajahnya dari Chaca karena merasa tak tahan melihat betapa manisnya Chaca ketika sedang tersenyum.


“Hentikan itu. Berhentilah tersenyum seperti itu dihadapanku”, seru Barra memalingkan wajahnya dan menutup matanya.


“Astaga, gadis ini. Dia tak tahu apa yang telah dilakukannya, aku semakin ingin mendapatkannya” gumam Barra dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2