Kesempatan

Kesempatan
Chapter 20 : Bersilat Lidah


__ADS_3

Baru saja kakiku menginjak di ambang pintu dapur, ayah langsung menyambutku. “Pagi, anak ayah!” ucapnya sumringah. Aku hanya menggelengkan kepala, ayah tidak berubah, masih menganggapku putri kecilnya yang berumuran belia. Remaja. Bukan wanita dewasa.


“Pagi, Yah, Bunda.” Aku menarik salah satu kursi di meja makan lalu mendudukinya. Menuangkan secangkir teh panas dan menyesap perlahan.


Ruang dapur di rumah ini menjadi satu-satunya ruangan terpenting bagi kami sekeluarga, oleh karena itu ruangan ini dibuat terbuka oleh ayah. Terbuka karena dindingnya terbuat dari panel kaca yang pemandangannya langsung mengarah ke taman belakang. Membuat kesegaran mata semakin terasa.


“Kamu izin, ya, Sayang?” tanya bunda sembari menyajikan sepiring omelet untukku.


“Aku ambil izin cuti, Bun. Sekalian mau tahun baruan di sini. Boleh, ‘kan?” tanyaku menatap ayah dan bunda secara bergantian.


“Cuti tahunan?” Ayah memperjelas, aku mengangguk.

__ADS_1


“Bagus dong, kalau gitu biar sekalian aja kita kumpulin keluarga. Sudah lama kita nggak ngumpul.” Bunda memberikan ide.


“Iya, sekalian ada Reza juga, jadi ada yang bantuin,” sahut ayah lagi.


Spontan aku mengangkat wajah lalu menatap ayah dengan membulatkan kedua mataku, aku baru ingat dengan kehadiran dia yang ingin aku pertanyakan. “Nah, iya! Itu yang mau aku tanyakan! Kenapa tadi malam Ayah sama Bunda nggak bilang kalau dia ada di sini? Trus ngapain juga dia ada di sini?” protesku kesal.


“Dia nemenin ayah mancing kemarin,” jawab ayah santai sambil menikmati sarapannya.


“Ayah yang minta dia datang ke sini?” tanyaku masih dalam perdebatan.


Aku sedikit heran kali ini, bahkan bisa dibilang benar-benar heran dan merasa aneh. Mungkin karena aku belum menceritakan kejadian sebenarnya pada kedua orang tuaku, sehingga mereka menyikapi kehadiran Reza dengan biasa aja. Seperti dulu.

__ADS_1


Andai saja mereka tahu apa yang sudah Reza lakukan terhadapku, mungkin mereka tidak akan bersikap sebaik ini pada lelaki yang tidak tahu diuntung ini. Kesal sekali melihat bunda begitu melayaninya. Mengambilkan sendok garpu untuknya, serta menuangkan teh panas ke cangkir di samping piring omeletnya itu. Dasar manja!


“Loh, bunda kirain, kalian berdua janjian buat ketemu di sini?” ucap bunda.


“Ayah kirain juga begitu ... soalnya bulan lalu waktu ayah telepon, katanya Adel, Reza sibuk sama kerjaannya. Jadi ayah mikirnya kalian janjian buat pulang ke sini, liburan sama-sama.” Ayah menjelaskan sambil menatap kami bergantian. Sedangkan bunda juga melakukan hal yang sama, sembari duduk di samping ayah.


“Enggak, kok, Om, Tante, Adel nggak tahu kalau aku mau ke sini, aku juga nggak bilang apa-apa sama dia,” jelas Reza lalu menepuk pundakku.


Ayah dan bunda terlihat memaklumi, mungkin mereka merasa ada kejanggalan di antara kami berdua. Jelas saja, mereka berdua pasti melihat gelagatku yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, dalam memperlakukan Reza. Ya, pasti itu.


Tidak lagi aku berbicara sepatah kata pun. Hanya menikmati omelet yang ada di atas piring makan di depanku. Sedangkan ayah, bunda dan Reza, kembali melanjutkan obrolan mereka tentang hari kemarin, sambil menceritakan apa saja yang terjadi kemarin kepadaku. Dari cerita mereka itu, terdengar jelas jika Reza seakan memperlakukan kedua orang tuaku layaknya orang tuanya juga, hormat dan berbakti. Membuat kedua orang tuaku tidak ada henti-hentinya membandingkanku dengan dia. Memuja dan memuji dirinya serta bangga dengan sifat dan karakter yang dimiliki oleh lelaki itu.

__ADS_1


Memang benar, Reza memang orang yang sebaik itu dan setulus itu, tanpa pamrih. Hanya saja, kejadian yang menimpaku tidak bisa begitu saja aku lupakan. Berbulan-bulan aku mencoba untuk bangkit dan itu butuh perjuangan. Lalu kini, dia kembali datang tanpa rasa bersalah. Ditambah lagi dengan prilakunya yang bersilat lidah pada teman-temanku. Bukankah itu terlalu keji?


***


__ADS_2