Kesempatan

Kesempatan
Chapter 15 : Penawaran Penting


__ADS_3

Dua minggu berlalu setelah kejadian aku kabur dari kedai dan berpapasan dengan lelaki itu, tanpa meliriknya sama sekali. Namun, aku masih ingat jelas raut wajahnya saat ia turun dari mobilnya. Aku juga masih merasakan degup jantung yang menggebu di kala itu.


“Del, kamu ambil cuti tahunan ya?” tanya Sandra yang tiba-tiba muncul di samping meja kerjaku.


“Hmm.” Aku menjawab dengan dehaman, “kenapa?”


“Kamu habisin cutinya?”


“Iya.”


“Ke mana?”


“Paling pulang ke rumah.”


“Bogor?”


“Ke mana lagi?” Aku menjawab seadanya.


Sandra menghela napas panjang. Kemudian dia menarik kursi kerjanya dan duduk tepat di sampingku. “Kamu kenapa lagi? Beberapa hari ini kek lagi tertekan.”


“Hm? Nggak apa-apa kok! Aku cuman kecapekan. Butuh istirahat.” Aku masih mengerjakan tugas terakhir kantorku, sebelum akhirnya aku menikmati libur cuti yang aku ambil selama 12 hari.

__ADS_1


“Kamu tahu, ‘kan? Kamu bisa cerita apa aja sama aku.”


Jemariku yang tadinya begitu lincah menari di atas keyboard, kini terhenti sempurna begitu mendengar ucapan Sandra. Aku menoleh padanya dan menatap kedua bola matanya yang ternyata sedari tadi asyik menatapku dari samping.


“Makasih ya, San, kamu selalu bisa jadi pendengar yang baik kalau aku lagi sesak. Tapi mungkin, buat sekarang, aku belum bisa cerita banyak. Aku butuh waktu sendiri lagi.”


Sandra mengelus puncak kepalaku. Dia sudah bagaikan seorang saudara bagiku. Dia benar-benar bisa mengerti aku di saat kapan pun. Bahkan di saat aku menyimpan masalah sendiri, dia bisa merasakannya. Tepat seperti sekarang ini.


Setelah pekerjaan selesai, aku segera menyerahkannya pada atasanku. Mendatangi beliau ke ruangannya. Aku mengetuk pintu ruangan beliau yang sedang terbuka lebar. “Permisi, Bu.”


“Oh, Adella, masuk masuk.” Beliau mempersilakanku masuk dan duduk di depan meja kacanya.


Kemudian aku menyerahkan sebuah map yang isinya adalah tugas terakhirku di bulan ini. Bulan Desember. “Ini laporan kerja yang Ibu minta, sudah saya selesaikan.”


Memperlakukan kami semua layaknya seorang keluarga, bukan seorang bawahan, dan itu membuat kami semua sebagai karyawan merasa diayomi. Tidak ada karyawan yang berumur pendek di perusahaan ini, semua dalam hitungan tahunan.


“Saya dengar dari bagian HRD, katanya kamu mengajukan cuti terhitung dari besok, ya?” tanya Ibu Fero sambil memeriksa laporan yang aku serahkan.


“Betul, Bu. Selama satu tahun ini, saya belum pernah mengambil izin cuti. Jadi saya pikir, saya ambil saja sekalian tahun baru.” Dengan hati-hati aku menjawab pertanyaan beliau.


“Mau liburan ke mana?” Beliau masih memeriksa laporanku sambil membalikkan halaman demi halaman yang tersaji di depannya. Aku memerhatikannya.

__ADS_1


“Pulang ke Bogor, Bu. Sudah lama saya tidak pulang ke rumah orang tua saya.”


Ibu Fero menganggukkan kepalanya lalu menutup map di depannya, dia menghentikan aktivitas memeriksa hasil pekerjaanku. “Saya izinkan kamu mengambil cuti itu, karena kamu selalu mengerjakan tugas dengan tepat waktu, bahkan ada beberapa yang kamu selesaikan sebelum deadline.” Beliau menandatangani selembar kertas di atas mejanya, aku melirik isi kertas itu, ternyata surat pengajuan izin cuti milikku.


“Semoga saat kembali bekerja nanti, kamu bisa lebih bersemangat lagi. Rencananya saya ingin mengajukan promosi untuk kamu. Saya memerlukan seorang CFO untuk proyek lapangan awal tahun depan. Bagaimana?” tawar beliau.


Aku sempat terkejut mendengar berita itu, pasalnya aku baru beberapa tahun bekerja di perusahaan ini. Dan tiba-tiba ditawari jabatan setinggi itu.


“Kamu bersedia atau tidak? Jika bersedia, serahkan surat cuti kamu ini ke bagian HRD, jika tidak, saya tidak akan memberikan kamu izin cuti,” tambah beliau lagi.


Otak ini tidak dapat berpikir jernih, hanya saja aku menginginkan izin cuti itu untuk menenangkan hati. “Akan saya pertimbangkan, tapi izinkan saya untuk memikirkannya kembali untuk keuntungan dan kerugian yang saya dapatkan dari posisi jabatan itu,” ucapku tegas.


“Baik, kita akan bicarakan kembali setelah kamu masuk kerja nanti.” Beliau menyerahkan surat izinku. “Selamat liburan,” tambah beliau dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Aku menyodorkan tangan kananku untuk bersalaman, sebagai tanda pamitku. Lalu mengambil surat cutiku yang telah beliau tanda tangani.


Sore hari menjelang, aku sudah merapikan meja kerja, menyimpan beberapa salinan dokumen penting ke dalam laci meja, dan memberikan kunci lacinya kepada Sandra.


“Nih, kuncinya, kalau ada apa-apa atau butuh salinan laporan buat sebulan ini, aku simpan di sana semua. Kamu tinggal cari aja.”


“Ok. Tapi hand phone kamu jangan sampai nggak aktif, ya? Usahain nyala terus,” pinta Sandra.

__ADS_1


“Kalau ada apa-apa langsung telepon aja, paket data mungkin aku matikan.” Aku mengambil tas dan blazer kerja, bersiap untuk pulang. “Aku duluan, ya!” Berpamitan pada Sandra, memeluk dan mengecup pipi kanan dan kirinya. Lalu bergegas pergi.


***


__ADS_2