
“Akan ku buat kamu merasakan bagaimana rasanya hancur Chaca”, geram Gina yang saat ini berada di dalam kamar miliknya.
Sesuatu yang mengganjal terasa seperti mengganggu Chaca siang itu, ia merasakan sesuatu yang aneh didalam hatinya, ia tak tenang meski saat ini sedang bersama dengan Barra, kekhawatiran dan rasa was was seperti terus saja mengintimidasinya, dengan lembut Barra menggenggam tangan Chaca yang terlihat tak tenang saat itu.
“Ada apa?”, tanya Barra.
Chaca hanya menggeleng karena ia pun tak mengetahui apa yang terjadi padanya, Chaca menatap Barra sambil tersenyum, apa yang terjadi padanya? Bukankah semua telah berakhir? Bahkan Belalang Merahpun berhasil dikalahkan dan kini ia bisa tenang untuk sementara, semua pemikiran itu terus saja berputar diotaknya namun Chaca masih tak menemukan satupun jawaban mengapa dirinya merasa sangat khawatir tentang hal yang ia tak ketahui.
Hingga ia melihat seorang anak kecil yang sedang menyalakan korek api di pinggir jalan. Sontak Chaca membolakan kedua matanya dan jantungnya berdetak dua kali lebih kencang, kini ia tahu mengapa ia merasa sangat khawatir dan sedikit takut. Inilah harinya.
“Hari ini, segalanya akan terungkap. Sebelum aku mebuktikan bahwa dugaanku benar, aku harus memastikannya sendiri malam ini”, gumam Chaca dalam hati sambil fokus melihat jalan.
Malam ini adalah malam dimana Chaca kehilangan salah satu miliknya yang berharga. Pabrik yang ia banggakan dan ia dirikan atas hasil keringatnya sendiri akan menyatu dengan tanah, tepat pukul satu malam. Tatapan Chaca telah berbeda dari sebelumnya, ia menatap dengan penuh kebencian didalam dirinya.
“Awas saja jika benar itu kamu Gina, takkan ku ampuni di dimensi ini atau dimensi yang lain. Akan ku hancurkan hidupmu”, geramnya dalam hati berdiam diri sambil menikmati kebencian yang menguasai dirinya.
__ADS_1
Namun ia juga disadarkan oleh hal lain yang tak kalah pentingnya, ketika segalanya telah berakhir, maka ia harus kembali ke hidupnya yang sebenarnya. Chaca menatap Barra yang tengah menyetir disampingnya, tatapannya telah berubah menjadi sedikit takut akan kehilangan cintanya. Bagaimana jika ia hanya ada didunia ini? Bagaimana jika aku tak menemukan Barra ditempatku berada? Jika memang ia tak pernah ada dalam hidupku lalu bagaimana aku hidup hanya berpegang dengan seluruh kenangan ini? Apakah ini semua palsu?. Pertanyaan pertanyaan itu terus saja berputar putar dalam pikirannya, ia bahkan tak berhenti menatap Barra saat ia memikirkan hal yang mengerikan itu.
“Berhentilah menatapku seperti itu, tatapanmu sangat mengerikan”, ucap Barra yang sadar bahwa Chaca terus saja menatapnya.
Chaca hanya membalas dengan senyuman lembut ucapan Barra itu laluu menggenggam tangannya.
“I just wanna say thank you”, ucapnya lembut pada Barra di sampingnya.
“Thank you for?”
“Hentikan Cha, kamu terdengar seperti akan meninggalkanku. Kamu tak memiliki niatan itu bukan? Jangan membuatku khawatir dan takut”, balas Barra tersentuh juga merasakan takut dalam hatinya ketika ia mendengar ucapan Chaca yang sangat indah namun sedikit aneh.
“Malam ini, ikutlah denganku. Aku akan mengatakan rahasia terakhir, siapa sebenarnya aku dan mengapa aku terlibat dengan semua keadian mengerikan ini. Tepat pukul sebelas malam, temui aku di pabrik Barra”. Lagi lagi perkataan Chaca yang tak masuk akal membuat Barra tak begitu mengerti, sebenarnya apa maksud Chaca? Sesaat ia merasakan takut yang luar biasa dalam hatinya, pikirannya melayang dan ia terbayang bayang tentang mimpi yang ia dapatkan hampir tiap malam. Dugaan kuat bahwa Chaca akan meninggalkannya sangat terasa dalam hatinya namun Barra membuang pikiran buruk itu.
Malam hari mulai datang, Chaca sudah berada di pabrik bersama Shena dan Kimmi sejak para buruh pulang. Chaca mengitari pabrik yang masih berdiri dengan kuat yang menjadi kebanggannya selama ia berkarir. Berbeda dengan Shena, Kimmi dan Shena telah mengetahui segalanya sejak awal terus saja berada di sisi Chaca hingga pada akhirnya waktu membawanya kembali ke tempat asalnya.
__ADS_1
Malam semakin larut, tepat pukul sebelas malam, Bara telah sampai di pabrik Chaca seperti apa yang ia katakan.
“Aku tak percaya aku datang kemari tengah malam begini. Apa yang akan kamu katakan Cha? Haruskah kita bertemu seperti ini?”, tanya Barra sedikit binggung.
Chaca menghampiri Barra dan mendekat padanya, ia memperlihatkan sekali lagi gedung yang mejadi kebanggaannya pada kekasihnya itu.
“Lihatlah pabrik ini. Di duniaku yang sebenarnya pabrik ini telah menyatu dengan tanah, sampai hari inipun aku tak tahu siapa pelakunya. Aku Chaca datangg dari dimensi yang berbeda denganmu Barra”, ucap Chaca menjoba menjelaskan yang sebenarnya pada Barra.
Wajah binggung dan tak mengerti sangat terlihat jelas di wajah Barra, ia mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan kata kata Chaca.
“Apa maksudmu? Dimensi lain yang berbeda denganku? Mengapa pabrikmu bisa terbakar? Katakan dengan jelas Chaca, jangan membuatku bingung”, ujarnya semakin penasaran.
“Ya.. Seperti ucapanku, aku bukan datang dari sini, dimensi ini adalah dimensi masa laluku, dimana aku masih dapat berdiri dan menjaga pabrikku dengan baik, aku kembali tepat tiga bulan sebelum peristiwa kebakaran terjadi. Dan hari ini adalah harinya, hari dimana pabrikku akan terbakar. Aku hanya ingin tahu siapa yang melakukannya. Aku sudah mencoba berbagai cara menemukan pelakunya namun semua dugaanku salah. Kini aku akan menngetahui siapa dalang sebenarnya, ku mohon temani aku sampai saat itu tiba” pinta Chaca, meski tak masuk akal namun Barra mengangguk dan tetap berada di samping Chaca.
“Apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui segalanya?”, tanya Barra
__ADS_1
“Aku akan kembali ke dimensiku”. Ucapan Chaca sontak membuat Barra mematung terdiam, jantungnya seakan berhenti untuk sejenak.