Kesempatan

Kesempatan
Chapter 8 : Berbagi Pengalaman


__ADS_3

Namun, semakin kuat usaha Sandra, aku akan lebih kuat lagi untuk tidak menceritakannya. Selain malu, aku juga takut. Malu karena hubunganku dengan Reza yang hanya sebatas hubungan tanpa status dan takut jika aku akan merasakan sakit hati kembali. Sebab setiap kalimat yang ia ucapkan saat terakhir kali itu, sangat membekas dalam ingatanku. Begitu perih rasanya jika kalimat itu harus aku lontarkan dengan mulutku sendiri.


Aku menghela napas, kali ini terasa lebih berat dari sebelumnya. Tidak banyak yang tahu tentang hubungan itu. Hanya beberapa temanku, temannya, keluargaku dan mungkin keluarga kecilnya. Namun, semuanya menganggap kami memiliki hubungan spesial satu sama lain, padahal tidak. Sama sekali tidak. Semuanya biasa saja.


“Ayolah, Del! Cerita sedikit aja!” Sandra kembali memaksa sambil menggenggam erat jemariku di atas meja. Kedua matanya begitu lekat menatapku. Sandra benar-benar penasaran, mungkin.


“Apa yang mau diceritakan? Semuanya sudah selesai dan nggak ada lagi yang perlu dibicarakan.”


“Selesai bagaimana maksud kamu? Nggak ada hubungan apa-apa lagi?”


Aku menganggukkan kepala mantap.


Memang tidak ada lagi yang perlu aku ceritakan pada Sandra. Aku pikir dengan berakhirnya hubungan itu, maka aku tidak perlu lagi kembali bercerita, walaupun hanya tentang hari itu. Hari di mana aku merasakan duniaku hancur lebur. Di mana kedua kaki ini tidak sanggup rasanya untuk menopang tubuhku.


Tapi tidak bagi Sandra, dia tidak merasakan apa yang aku alami, hingga dia akhirnya terus-terusan memaksaku untuk menceritakan kembali tentang pertemuan terakhir dengan Reza saat itu. Rasa penasaran yang Sandra alami membuatnya kehilangan empati kepadaku. Secara tidak sadar, dia benar-benar membuka luka hatiku yang hampir kering.


“Memang Reza bilang apa waktu itu?” selidiknya.

__ADS_1


Aku mengembuskan napas beratku sambil menatap kedua mata wanita di hadapanku ini, lalu perlahan menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi dan mulai bercerita.


Hari itu, saat mentari pagi perlahan mulai beranjak naik untuk menyinari dunia, aku terbangun dari mimpi indah yang selama itu aku jalani. Melewati hari demi hari dengan senyuman yang selalu terhias di kedua sudut bibirku, memperlihatkan kedua lubang lesung pipi yang menawan. Rencananya, hari itu aku akan bertemu dengan Reza, setelah dua hari lamanya kami tidak bersua.


Rindu. Itu yang aku rasakan walaupun hanya dua hari tidak menatap wajahnya. Entah mengapa malam sebelum hari itu, ia menghubungiku. Mengatakan jika ia ingin bertemu denganku. Biasanya, ia tidak pernah berkata seperti itu, ia akan langsung mengajakku untuk jalan-jalan atau sekedar makan bersama, bukan dengan alasan to the point seperti itu.


Tidak ada rasa curiga saat itu, yang ada hanya rasa senang, gembira dan juga bahagia. Aku memang merindukannya.


Setelah mendekati waktu yang telah dijanjikan, aku bergegas untuk bersiap pergi. Bertemu di sebuah kedai kopi favorite kami berdua. Lelaki itu sudah lebih dulu tiba, aku melihatnya duduk di salah satu sudut ruangan, dengan menopang dagunya dan kedua matanya yang menatap ke arah luar jendela.


“Sudah lama?” sapaku saat sudah berada di depannya.


“Makan dulu,” ucapnya memerintahku.


Semua berjalan normal, tidak ada satu pun yang mencurigakan. Aku dan Reza tetap bersenda gurau bersama. Sesekali, sikapnya yang menyelipkan anakan rambut ke telingaku itu sungguh membuatku merasa disayangi sepenuhnya. Seolah ia benar-benar mengasihiku dengan segenap jiwa raganya, hingga aku melupakan statusnya yang milik wanita lain.


Salahkah hubungan aku dengannya itu?

__ADS_1


Aku tidak bisa menolak saat perasaan teduh itu menaungi isi hatiku. Aku terlalu lemah untuk menggunakan otakku selama ini. Logika ini selalu kalah jika berurusan dengan hati. Aku tidak sanggup!


Semuanya, secara detail aku ceritakan pada Sandra hingga akhirnya wanita itu merasa kesal sendiri mendengarkan aku bercerita. Sesekali dia bertanya, aku menjawab lalu kembali bercerita. Tidak ada yang aku tutup-tutupi dari Sandra saat ini. Semuanya habis aku ceritakan, bukan tanpa alasan, semua itu karena aku juga ingin meminta pendapatnya. Menurut sudut pandangnya, jika dia yang berada dalam posisiku.


“Udah? Tu cowok bilang gitu doang? Trus kamunya diam aja, gitu?” cerca Sandra sambil mengambilkan selembar tissu kepadaku.


Aku mengangguk. “Mungkin dia nggak nyaman, karena kalau jalan sama aku selalu sembunyi-sembunyi dari pacarnya. Atau mungkin, aku bukan tipenya.”


“Kalau memang nggak nyaman dan bukan tipenya, ngapain dari awal ngedeketin? Pake acara ikutan pulang ke rumah orang tua kamu segala.” Sandra mulai tegas.


“Entahlah, San. Aku mau ngelupain semuanya. Lagian udah lama juga, masa nggak move on, sih!” ucapku terdengar pasrah.


“Iyalah, ngapain juga sama cowok yang begitu! Buang waktu, Del! Mending kamu fokusin ke karir sekarang.”


Lagi-lagi aku mengangguk, kali ini aku setuju dengan pendapat Sandra, dia semakin lebih bijak dari biasanya. Caranya mendengarkan ceritaku pun sudah tidak menggebu-gebu seperti dulu lagi, dia semakin dewasa.


Tidak terasa, kami berdua melalui waktu hingga sore hari menyapa, duduk mengobrol mengisahkan tentang kehidupan dan cara menjalaninya. Berbagi pengalaman dan saling meminta pendapat. Sandra memang termasuk wanita strong, dia kuat melakukan apa saja serba sendirian. Aku banyak belajar darinya tentang hidup ini.

__ADS_1


***


__ADS_2