
Semua keluarga yang ada di Bogor, kini sudah berkumpul di taman belakang rumah orang tuaku. Sedangkan aku masih berada di dalam kamar, memerhatikan mereka semua dari jendela kamarku. Dari sini, aku dapat melihat lelaki itu yang sedang asyik di tengah-tengah keluarga besarku.
Dia tertawa lepas, bersenda-gurau dengan semuanya. Tanpa beban, benar-benar seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara kami berdua. Manipulatif, itu yang ada di otakku saat ini.
Lelaki itu sungguh ahli mengambil hati keluargaku, membuat mereka nyaman dengan kehadirannya, tetapi malah membuatku sulit untuk melupakannya, bahkan sulit untuk menjauhkannya dari keluargaku. Di saat yang bersamaan, pintu kamarku diketuk.
Tok tok tok!
Aku membukanya, ternyata Monica, temanku semenjak kecil. Dia memang tinggal di Bogor. Dan kebetulan beberapa hari lagi acara ulang tahunnya. “Hai, masuk!”
“Aku pikir kamu di belakang, tapi katanya kamu di kamar. Kenapa nggak turun?” tanya Monica yang melangkah di belakangku kemudian duduk di bibir ranjang. Sedangkan aku kembali berdiri di dekat jendela, kembali memerhatikan Reza di bawah sana.
__ADS_1
“Apa maksud dia balik lagi ke kehidupanku, sih?” ucapku membelakangi Monica.
“Kamu nggak tanya dia? Lagian hubungan kalian itu nggak jelas, Del. Dia punya pacar.”
“Aku tahu, justru itu aku bingung dengan sikapnya sekarang.”
Monica adalah orang yang paling mengetahui duduk persoalan antara aku dan Reza. Aku sering bercerita dengannya walaupun hidup kami terpisah, antara Jakarta dengan Bogor. Monica pula yang sering menyadarkan aku dahulu, saat masih bersama dengan lelaki ‘petakilan’ itu. Hanya saja, saat kebersamaan itu, aku terlalu egois. Hanya mementingkan perasaanku sendiri, tanpa menyadari jika ternyata perasaan itu tidak terbalaskan. Malah membuat sakit hati.
“Tadi siang dia meminta maaf padaku,” tambahku lagi.
Aku berbalik arah, melangkah mendekat di mana Monica berada. Lagi-lagi aku menghela napas, pasrah. “Entahlah, aku nggak ngerti.”
__ADS_1
Raut wajah Monica seolah jengah, mungkin dia sama kesalnya denganku. Dan mungkin dia bisa merasakan apa yang sudah aku alami selama ini. “Adel, denger ya, dia udah nyakitin kamu. Dia anggap kamu cuman sebagai pelampiasannya. Di kala dia sedang ada masalah dengan pacarnya, dia lari ke kamu, having fun. Dan saat dia memutuskan untuk nggak lagi berhubungan sama kamu, itu artinya dia sayang sama pacarnya. Don’t be a stupid girl!” Monica menasihatiku.
Sejenak otakku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Monica. Rasanya terlalu bodoh jika aku harus egois demi mencari bahagiaku saja dan memanipulasi diri sendiri dengan kebahagiaan yang semu itu. Dan nyatanya, aku juga orang yang manipulatif.
Aku mengangguk pelan, lalu mengembuskan napas sebagai tanda bahwa aku sudah menemukan jawabannya. Semua memang sudah berakhir, dan aku harus bisa menghadapinya, berdiri di depannya tanpa ada rasa apa pun. Tanpa terbawa hati.
Akhirnya aku dan Monica memutuskan untuk keluar dari kamar dan bergabung dengan keluarga besarku di taman belakang rumah. Bertemu kembali dengan Reza, lelaki yang berkali-kali menggoyahkan pendirianku tanpa ia sadari. Aku harus berani menatapnya dengan berlapang dada, karena dia memang bukan jodohku.
“Adel ... udah lama kamu nggak ke sini! Kenapa tiap kali Reza ke sini, kamu nggak pernah ikut?” celetuk salah seorang saudara bunda yang sedang menata hidangan di atas meja. Tante Ayu namanya. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan beliau.
Kemudian sekilas aku melirik ke arah di mana Reza berada, pandangan kami bertabrakan.
__ADS_1
“Adel ‘kan sibuk kerja, Tante.” Monica tiba-tiba menyahuti.
“Dih, kamu sok tahu deh, Mon!” balas Tante Ayu. Lagi-lagi aku hanya tersenyum.