Kesempatan

Kesempatan
Chapter 21 : Temani Aku


__ADS_3

Tokk tokk tokk!


Suara pintu kamarku yang diketuk oleh seseorang dari luar sana, memaksaku untuk segera bangkit dari ranjang lalu membukakan pintu itu. Baru saja aku menarik kenop pintunya, sosok Reza sudah berdiri rapi di ambang pintu. Dengan kaos putih polos dan celana jeans yang ia kenakan, membuatku kembali teringat saat-saat di mana dahulu aku pernah mengatakan padanya, jika aku menyukai lelaki yang berpenampilan seperti dirinya saat ini. Aku terperangah.


“Cepetan mandi, siap-siap, temenin aku ke pasar. Kata ayah, kamu yang tahu di mana tempat ayah sering beli daging dan keperluan lainnya.” Reza memberi perintah.


Aku heran dengannya, semenjak kami bertemu tadi pagi, dia bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah tidak pernah menyakiti hati ini. Seolah tidak pernah melakukan kesalahan terhadapku.


Dengan mata yang membulat, aku terus menatapnya yang tidak beranjak dari ambang pintu kamarku hingga akhirnya ayah muncul dari belakang Reza.


“Kamu temenin Reza buat belanja, ini daftarnya yang harus kamu beli, trus ini uangnya. Ayah mau telepon sanak saudara.” Ayah menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu, tetapi aku menolaknya.

__ADS_1


“Enggak usah, Yah, biar aku aja,” tolakku halus sambil mendorong kembali tangan ayah yang berada tepat di depan perutku. “Jangan. Pakai uang aku aja, Yah. Ada kok!”


Ayah mencebik, “Kamu itu, selalu saja ....”


“Mumpung aku ada di sini. Nanti kalau aku balik ke Jakarta, baru Ayah pake uang sendiri.” Ayah tersenyum, kemudian aku menjentikkan jariku untuk menyadarkan Reza yang terlihat seolah sedang melamun memerhatikan kami berdua.


Ctaak!!


“Tunggu lima menit aku siap-siap!” Segera kututup kembali pintu kamar dan bergegas untuk membersihkan diri.


Setelah siap, aku segera pergi ke lantai bawah, mencari keberadaan Reza yang sebelumnya aku minta untuk menungguku bersiap-siap. Tapi aku tidak menemukan batang hidung lelaki itu.

__ADS_1


“Bunda ada lihat Reza?” tanyaku pada bunda yang kebetulan saat itu sedang berada di ruang televisi.


“Barusan ke atas, katanya dompetnya ketinggalan di kamar.”


Mendengar itu, aku langsung melangkahkan kaki lagi, menaiki anak tangga menuju ke kamar tidur tamu. Baru saja aku hendak mengetuk pintunya, sosok Reza sudah keluar dari kamarnya dan tersenyum menatapku.


Lagi-lagi senyuman itu, mengapa aku selalu terjebak dalam lubang yang sama? Semoga saja tidak tenggelam kali ini.


Setelah semuanya, aku dan Reza langsung pergi menuju pasar. Ayah benar-benar ingin mengumpulkan saudaranya, begitu pula dengan bunda yang juga tidak mau kalah dengan ayah. Saat kami pergi tadi, beliau sibuk dengan sebuah ponsel di tangannya, yang juga untuk menghubungi saudaranya.


Keluarga besar ayah dan bunda memang paling banyak ada di sekitaran Bogor, ada pula yang berada di luar Pulau Jawa. Mereka memang sudah jarang untuk kembali berkumpul, semenjak orang tua ayah dan bunda sudah tiada. Bahkan untuk hari-hari besar saja, mereka jarang berkumpul. Dan entah mengapa, kali ini ayah dan bunda memiliki rencana ini. Mungkin juga karena ayah adalah anak pertama sedangkan bunda adalah anak terakhir.

__ADS_1


Aku masih ingat saat kecil dahulu, di mana aku sedang bermain di taman belakang rumah dengan sebuah tenda, bermain kemah-kemahan, lengkap dengan alat masak-memasak. Berbicara sendiri saat itu, seolah memiliki rekan dalam bermain. Hingga ayah kebingungan melihatku.


Bahkan aku sempat mengatakan pada ayah, untuk memberikanku adik. Agar aku memiliki teman untuk bermain. Namun, sepertinya bunda trauma dengan proses melahirkan. Dan itu terbukti hingga sekarang, aku adalah anak satu-satunya yang mereka miliki.


__ADS_2