
David dan emir berjalan menaiki tangga lantai tiga, menuju ke arah roof top rumah tersebut. David merupakan orang, yang tingkat kekepoan nya tinggi. Masih mencari tahu tentang pembantu baru emir itu kepada emir, sambil berjalan menuju ke arah roof top.
"Ayolah, pak bro. Kasih tau gue, tentang ART baru elu itu. Jangan pelit, dong pak bro, sama temen sendiri."renggek david kepada emir, sambil berjalan menaiki tangga menuju ke roof top.
"Iya-iya, gue kasih tau elu. Ya, entar, gue, pasti ceritain semuanya ke elu. Kalo sudah, nyampe roof top."sahut emir kepada david.
"Janji, yah, pak bro."ucap david kepada emir.
"hmmm."sahut emir kepada david, dengan gumaman.
Kini mereka berdua pun, akhirnya sampai juga di roof top. Lalu emir langsung berjalan menuju ke arah kursi, yang terdapat di sana. Dan di susul dengan david, yang mengikuti langkah emir.
Di roof top rumahnya pak lukman, terdapat sebuah meja panjang terbuat dari kayu jati, dan delapan kursi yang terbuat dari kayu jati juga. Dan di roof top itu terdapat beberapa pot tanaman hias, yang menghiasi sisi roof top rumahnya pak lukman tersebut.
Emir dan david pun, duduk di kursi kayu tersebut. Emir dan david duduk dengan posisi, berhadapan-hadapan langsung. Namun di tengah-tengah mereka berdua, hanya terhalang meja saja. Dengan David yang masih penasaran tentang, ART barunya emir.
Memaksa emir untuk bercerita kepadanya, soal ART barunya emir itu. Emir yang di paksa untuk menceritakan tentang sosok ART barunya itu, oleh david pun. Dan emir langsung, menceritakan semua tentang sosok ART barunya kepada david.
"Pak bro, katanya mau cerita tentang ART baru elu, pak bro."renggek david kepada emir, yang sedang duduk berhadap-hadapan dengan emir.
"Iya-iya, sabar napa vid. Ya elah, elu tuh nggak sabaran jadi orang."sahut emir kepada david, yang duduk di hadapan david.
"Makanya, cepetan dong pak bro. Lama amat dah, ah."timpal david kepada emir.
"Iya, ini juga gue, mau ceritain semuanya ke elu vid."ucap emir kepada david.
"Oke sekarang gue, akan ceritain ke elu. Semua tentang sosok ART gue itu, yang gue tau yah. ART baru gue itu namanya SINTIA, dia berasal dari kota x di Jawa barat. Kata mama sih, dia baru tiga bulan kerja di sini."sambung emir kepada david.
"Oh, namanya sintia. Cantik yah, kaya orang nya."ucap david kepada emir, sambil mesem-mesem tidak jelas.
Emir yang mendengar ucapan david pun, hanya memutar kedua bola matanya. Karena emir tahu kalau asisten pribadinya itu, dan sekaligus juga sahabatnya. Yaitu DAVID PUTRA SANJAYA, adalah sosok pria yang terkenal akan sifat playboy nya itu. Yang suka bergonti - ganti pacar. dan juga suka ketika melihat wanita yang bening-bening.
"Kenapa, elu nggak kasih tau gue. Kalo ada bidadari, di rumah elu sih, pak bro. Atau, elu nggak mau yah, kalo sampe gue tau."ucap david kepada emir, sambil menebak-nebak.
"Kalo iya kenapa, dan kalo nggak kenapa. Masalah, buat elu."sahut emir kepada david, dengan santai.
__ADS_1
"Isst, napa sih elu, pak bro. Syirik yah, sama gue."decak david kepada emir.
"Gue, syirik sama elu. Ya kali, vid."sahut emir kepada david.
"Ya, siapa tau elu syirik sama gue, pak bro. Kan gue, sudah berpengalaman dalam memilih soal wanita. Dan gue juga, sudah beberapa kali pacaran."ucap david kepada emir, dengan sombong.
"Ck, gue cuma nggak mau, kalo dia itu termakan rayuan playboy macam elu vid."sahut emir kepada david.
Lalu david pun, memberitahu emir. Kalau sintia ART baru emir, yang memanggil david dengan sebutan bapak. Emir yang mendengar ucapan david pun, seketika terbahak-bahak. Sampai-sampai matanya menyipit, ketika mendengar ucapan dari david tersebut.
"Oh, yah. Pak bro, asal elu, tau yah pak bro. Masa gue di panggil bapak, sama si Sintia itu, loh. Gue kan, masih kinyis-kinyis gini."ucap david kepada emir, sambil bersungut-sungut.
"Bhuhahahaha......."emir yang tertawa terbahak-bahak, mendengar ucapan david.
"Emang bener kok, elu tuh, udah tua. Makanya dia, panggil elu, bapak. Bhuhahaha......"ucap emir kepada david, sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ck, elu ya, pak bro. Gue kesel deh, sama elu. Udah tau, gue masih muda gini kok. Malah di panggil bapak, ama si Sintia. Gue kan, sebel, emang gue bapaknya apa."decak david kepada emir, sambil bersungut - sungut.
"Bhuhahaha...., emang pantes kok. Eluh, tuh, bapaknya."ucap emir kepada david, di sela-sela tawanya.
"aduh, aduh. Sakit perut gue, kebanyakan ketawa."ucap emir kepada david, sambil memegang perutnya yang sakit akibat kebanyakan tertawa.
"Syukurin, makannya kalo ada orang cerita tuh, ya di dengerin kek. Kasih masukan, apalah. Eh, ini malah asyik ketawa - ketiwi lagi. Kena azab kan, tuh."sahut david kepada emir.
"Ck, ini juga gue dengerin, ya vid. Ya sorry, elu aja ceritanya kaya gitu. Kan, gue kelepasan ketawa jadinya kan."ucap emir kepada david.
"Terus, elu lagi. Ceritanya lucu banget, sih. Sampe - sampe, gue kelepasan ketawa."sambung emir kepada david.
"Ck, elu mah, gitu jadi orang."decak david kepada emir, sambil bersungut-sungut.
Emir dan david, sudah terbiasa bersama. Dari kecil hingga sekarang, mereka itu sudah seperti kakak adik. Yang selalu ada, di saat suka maupun duka. Emir selalu menerima david apa adanya, sebagai seorang sahabat dari kecil. Dan david pun, menerima emir apa adanya sebagai seorang sahabat.
Setelah puas mereka berdua, bercerita dan bersenda gurau. Emir dan david pun, pergi dari roof top tersebut. Dan cahaya matahari yang sudah mulai terik, di atas rumahnya pak lukman itu. Kini emir dan david, turun dari lantai tiga.
__ADS_1
"Vid, kita ke bawa yuk. Disini sudah mulai panas, matahari udah mulai terik lagi."ucap emir kepada david, sambil mengajak david untuk turun ke lantai pertama.
"Iya, pak bro. Disini matahari udah, mulai terik. Ayo, pak bro gas ken."sahut david kepada emir.
Mereka berdua pun, menuruni anak tangga lantai tiga dan berjalan ke lagi ke arah lantai dua. Lalu mereka berdua juga menuruni anak tangga, lantai dua menuju ke lantai pertama. Akhirnya kini mereka berdua, sampai juga di lantai pertama.
Lalu emir dan david, melangkahkan kakinya itu menuju ke arah meja makan tersebut. Emir pun, memanggil-manggil bi ira. Dan datanglah bi ira ke meja makan itu, dari arah dapur kotor. Bu ira menghampiri anak majikannya itu, yaitu emir.
"Bi Ira..., bi ira...."panggil emir kepada bi Ira, dengan suara kencang.
"Iya, den. Ada yang bisa bibi, bantu den?."sahut bi Ira kepada emir, sambil bertanya kepada emir.
"Bi ira, tolong buatkan saya dan david jus alpukat yah, dua. Sama brownies yang ada di kulkas yah, bi ira."titah emir kepada bu ira.
"Siap, den emir. Bltibi akan segera buatin, jus alpukat nya. Ya sudah den emir, bibi buatin dulu yah."ucap bi Ira kepada emir, sambil pamit kepada emir.
"Iya, bi Ira."sahut emir kepada bi Ira.
Bi ira pun, langsung bergegas membuatkan jus alpukat untuk emir dan david. Akhirnya jus alpukat, buatan bi ira pun jadi. Lalu bi Ira langsung membawa jus alpukat dan juga brownis coklat tersebut, kepada emir yang berada di meja makan.
"Silahkan, den emir, den david."ucap bi Ira yang menyerahkan jus alpukat tersebut, kepada emir dan david.
"Iya, bi makasih."ucap emir kepada bi Ira.
"Makasih, bi."ucap david kepada bi Ira.
"Sama-sama, den emir, den david. Ini den, brownis coklatnya."sahut bi Ira kepada emir dan david, sambil menyerahkan sepiring brownis coklat itu di meja makan.
"Iya, bi."timpal emir kepada bi Ira.
"Den Emir, den david. Bibi, permisi ke belakang dulu yah."pamit bi Ira kepada emir dan david.
"Iya, bi."sahut emir dan david, kepada bi Ira.
Bi ira pun, meninggalkan mereka berdua di meja makan. Sedangkan mereka berdua sedang menikmati, jus alpukat dan brownis coklat tersebut di meja makan.
__ADS_1