KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN

KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN
Sintia Koma


__ADS_3

Pak lukman, ibu lisa dan juga emir, bergegas berjalan menuju ke arah ruang ICU. Sesampainya di depan ruang ICU, mereka berdiri di dekat ruang ICU tersebut. Mereka bertiga menunggu sintia, yang sedang ditangani oleh dokter dan juga perawat.


"Kok, lama banget yah, PA."ucap ibu lisa kepada pak lukman, dengan risau. Mereka, yang kini sedang di berada di dekat ruang ICU.


"Sabar, MA. Kita doa aja, supaya sintia nggak kenapa-kenapa di dalam."sahut pak lukman kepada ibu lisa.


"Iya, PA."timpal ibu lisa kepada pak lukman.


2 orang suster dan seorang dokter pria pun, keluar dari dalam ruangan ICU. Lalu pak lukman,ibu lisa dan juga emir, menghampiri dokter tersebut. Ibu lisa langsung bertanya kepada dokter itu, tentang perkembangan keadaan sintia.


"Dok, bagaimana keadaan sintia dok?."tanya ibu lisa kepada dokter tersebut, yang baru keluar dari ruang ICU.


"Maaf bu, sekarang pasien mengalami masa koma, bu."ucap dokter kepada ibu lisa.


"APA, KOMA, DOK?."tanya ibu lisa kepada dokter.


"Iya, bu. Do'akan saja, supaya pasien cepat pulih dari masa koma nya. Dan semoga pasien segera sadar, dan dapat melewati masa-masa koma nya."ucap dokter kepada ibu lisa.


"Iya, dok."sahut ibu lisa kepada dokter.


"Dok, apa saya boleh menjenguknya?."tanya ibu lisa kepada dokter.


"Boleh, Bu. Asalkan hanya satu orang saja, yang dapat menjenguknya. Karena pasien tidak boleh di ganggu dulu, Bu."sahut dokter kepada ibu lisa.


"Ya sudah, bu. Saya tinggal dulu, permisi, bu."sambung dokter kepada ibu lisa.


"Iya, dok. Makasih."sahut ibu lisa kepada dokter.


"Sama-sama, Bu."timpal dokter kepada ibu lisa.


Dokter pun pergi dari hadapan ibu lisa, pak lukman dan emir. Emir, tiba-tiba mendapatkan telefon dari lalu pergi dari hadapan papa dan mama, sambil mengangkat panggilan telefon dari dalam ponselnya itu.


"Telelet, telelet, telelet."suara panggilan telefon dari ponselnya Emir.

__ADS_1


"PA, MA. Aku angkat telefonnya, dulu."pamit emir kepada pak lukman dan ibu lisa.


"Iya, nak."sahut pak lukman.


"Iya, nak."sahut ibu lisa.


Emir langsung bergegas pergi, meninggalkan pak lukman dan ibu lisa. Dan langsung tempat, untuk mengangkat telefon. Sedangkan pak lukman dan ibu lisa masih di depan ruang ICU. Dan sedang memandang sintia lewat jendela kaca, ruang ICU.


"PA, gara-gara mama, sintia jadi kaya gitu PA. Seandainya sintia nggak nolongin mama, kayaknya mama ada disana PA. Hiks... hiks... hiks."lirih ibu lisa kepada pak lukman, sambil menunjuk sintia lewat jendela ruang ICU.


"Syutttt, mama nggak boleh ngomong kaya gitu. Ini semua sudah kehendak Allah, MA."tenang pak lukman kepada ibu lisa.


"Cup cup cup, udah, mama jangan nangis lagi dong. Yang sintia butuhkan sekarang itu hanyalah doa, dari kita semua MA. Kita do'akan sintia agar cepat sadar dari koma nya, dan cepat sehat seperti semula lagi."sambung pak lukman kepada ibu lisa, sambil menenangkan ibu lisa.


"Iya, PA. Papa bener, kita harus doakan sintia agar cepat sadar dan cepat sehat lagi seperti semula."sahut ibu lisa kepada pak lukman.


"Usap dong, air matanya. Kalo nangis nantinya nggak cantik lagi loh, MA."goda pak lukman kepada ibu lisa.


"Hehehe, issh, papa bisa aja deh, bikin Mama ketawa."ucap ibu lisa kepada pak lukman.


"Issh, papa."rengek ibu lisa.


"PA, mama mau ke dalam dulu yah."pamit ibu lisa kepada pak lukman.


"Iya, MA."sahut pak lukman.


Ibu lisa langsung masuk bergegas masuk ke dalam ruang ICU, dengan memakai baju khusus menjenguk pasien di ruang ICU. Sekarang ini ibu lisa sudah berada di dalam ruang ICU, dan sekarang ini ibu lisa sedang memakai baju khusus.


Kini emir sudah selesai menelfonya, dan ia langsung kembali menghampiri orang tuanya yang berada di depan ruang ICU. Emir langsung pamit, kepada orang tuanya. Kalau dia akan ada meeting nanti siang, dengan klien dari negara Jepang.


"PA, aku harus balik ke kantor dulu PA. Karena nanti siang akan ada meeting, dengan mister Haruto dari jepang."pamit emir kepada pak lukman.


"Ya udah, sana pergi."sahut pak lukman kepada emir.

__ADS_1


"PA, aku pergi dulu yah. Assalamu'alaikum."pamit emir kepada pak lukman, sambil mengucapkan salam.


"Iya, Wa'alaikum salam."sahut pak lukman kepada emir.


Emir langsung bergegas, pergi dari sana. Emir langsung kembali ke kantor perusahaan nya itu, dan pergi meninggalkan rumah sakit A. Sedangkan pak lukman, masih disana.


Disana ibu lisa melihat sintia, yang sekarang ini terpenuhi oleh beberapa alat medis di tubuhnya. Lalu ibu lisa pun, duduk di kursi yang terdapat di ruang tersebut. Ibu lisa memegang tangan kanan sintia, dan sambil berkata lirih.


"Sintia, kamu yang kuat yah, nak. Kamu pasti bisa melewati ini semua, dan kamu harus ingat keluarga kamu menunggu kehadiran mu, nak. Sintia, maafkan saya yah, seharusnya saya yang terbaring disini sekarang. Dan bukan kamu yang ada disini, nak."lirih ibu lisa kepada sintia, sambil memegang tangan kanan sintia.


"Sintia, saya keluar dulu yah. Kamu cepat sadar yah, nak."pamit Ibu lisa kepada sintia, lalu pergi dari ruang ICU.


Ibu pun, keluar dari ruang ICU. Dan menghampiri pak lukman yang sedang duduk di kursi tunggu, yang terdapat di sekitar ruang ICU. Suara adzan dzuhur pun berkumandang dari toa masjid, yang terdapat tidak jauh dari rumah sakit A.


"ALLAAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR 1×.


ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAAH 1×.


ASYHADU ANNA MUHAMADAN RASUULULLAAH 1×.


HAYYA'ALASH-SHALAAH 1×.


HAYYA'ALAL-FALAAH 1×.


QAD QAAMATISH-SHALAAH 2×.


ALLAHU AKBAR, ALLAAHU AKBAR 1×.


LAA ILAAHA ILLALLAAH 1×."suara adzan dzuhur berkumandang dari masjid, yang dekat dengan rumah sakit A.


Pak lukman mengajak ibu lisa, untuk sholat dzuhur dulu. Karena waktu sholat dzuhur, sudah berkumandang dari toa masjid yang dekat dari rumah sakit A. Mereka berdua pun, langsung bergegas menuju ke musholla rumah sakit A.


"MA, sekarang kita sholat dzuhur dulu yuk. Terus kita minta sama Allah, agar sintia cepat sadar dari komanya."ajak pak lukman kepada ibu lisa.

__ADS_1


"Iya, PA. Ayo."sahut ibu lisa kepada pak lukman.


__ADS_2