KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN

KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN
Siuman


__ADS_3

Pak lukman sekeluarga menjaga sintia di rumah sakit A, dengan berganti-gantian menjaga sintia di rumah sakit tersebut. Hingga satu bulan sudah, sintia belum bangun-bangun juga dari masa koma nya.


Hari ini pukul sekitar jam empat sore, ibu lisa pergi ke rumah sakit A untuk menjaga sintia yang kini masih terbaring di rumah sakit. Ibu lisa pergi ke rumah sakit A, mengunakan mobilnya. Yang di supirin oleh, pak joko tersebut.


Beberapa kemudian, kini mobil ibu lisa sudah sampai di halaman rumah sakit A. Pak joko pun berhenti di halaman rumah sakit A, lalu ibu lisa langsung keluar dari dalam mobilnya itu. Dan langsung melangkah kakinya, masuk ke dalam rumah sakit A.


Kini ibu lisa, berjalan menuju ke arah ruang ICU. Lalu ibu lisa masuk kedalam ruang ICU, dengan mengenakan pakaian khusus. Setelah itu ibu lisa, langsung duduk di kursi yang terdapat di sana.


Ibu lisa duduk di kursi yang terdapat di ruangan ICU, sambil menggenggam telapak tangan sintia. Lalu sambil berkata lirih kepada sintia, yang masih terbaring di ranjang rumah sakit tersebut.


"Assalamu'alaikum, sintia."ucap ibu lisa kepada sintia, lalu sambil menggenggam telapak tangan kanan sintia.


"Sintia, sekarang kamu lagi apa disana nak. Pasti disana kamu lagi bahagia yah, sehingga kamu nggak bangun-bangun juga dari koma. Sintia, maafkan saya yah, sin. Coba saja, saya nggak menyebrang jalan itu. Pasti sekarang ini kamu nggak kenapa-kenapa, dan masih sehat wal'afiat. Sintia, kamu sayang nggak sama keluarga kamu di kampung. Kalau kamu sayang sama mereka, kamu bangun yah. Kasihan mereka di kampung, pasti menanti kabarmu. Yang sebulan ini tidak ada kabar berita, soal keadaaan kamu sekarang."lirih ibu lisa kepada sintia, sambil menggenggam telapak tangan sintia.


"Sintia, ayo dong bangun. Sudah satu bulan lamanya, kamu terbaring di sini. Apa kamu nggak capek, tiduran terus di sini?."sambung ibu lisa kepada sintia.


"Sintia, saya keluar dulu yah. Kamu segera bangun dong, jangan tidur terus!."pamit ibu lisa kepada sintia, lalu beranjak pergi dari ruang ICU tersebut.


Ibu lisa pergi dari ruang ICU, lalu langsung duduk di kursi tunggu di dekat ruang ICU. Tiba-tiba ada panggilan telefon dari ponselnya, ibu lisa. Ibu lisa langsung mengangkat panggilan telefon tersebut. Dan ternyata yang menelfonya itu adalah putra semata wayangnya, yaitu emir.


"Telelet telelet telelet."suara panggilan telefon dari ponselnya ibu lisa.


"Hallo, assalamu'alaikum, emir."ucap ibu lisa kepada emir, yang melakukan panggilan telepon.


"Wa'alaikum salam, MA."sahut emir kepada ibu lisa, di seberang telepon.


"Emir, kamu ada apa telefon mama?."tanya ibu lisa kepada emir.


"Emir cuma mau tanya, sekarang ini mama ada di mana?."tanya emir kepada ibu lisa.


"Sekarang mama, ada dirumah sakit A, emir. Mama lagi jagain sintia, seperti biasanya."jawab ibu lisa kepada emir.


"Terus, kamu sekarang ada di mana, nak?."tanya ibu lisa kepada emir.

__ADS_1


"Sekarang aku, masih ada di kantor MA."jawab emir kepada ibu lisa.


"Emir, jangan sampai lupa nanti malam kamu yang jagain sintia yah."ucap ibu lisa kepada emir.


"Iya, MA. Nanti malam emir, yang bakal jagain dia kok, MA."sahut emir kepada ibu lisa.


"Apa spesial nya, dia, harus dijagain segala sih."gumam emir, yang masih di dengar oleh ibu lisa.


"Emir, kamu nggak boleh gitu sama sintia. Tanpa sintia, mama yang ada di sana, terbaring di ranjang rumah sakit. Apa kamu mau, mama ada di posisi sintia?."ucap ibu lisa kepada emir.


"Nggak, MA."sahut emir kepada ibu lisa.


" Nggak kan, makannya kamu nggak boleh ngomong kaya gitu lagi, ingetnya yah, emir!."lirih ibu lisa kepada emir.


"Iya, MA. Maafin aku yah, MA. Aku janji, aku nggak akan ngomong kaya gitu lagi."sahut emir kepada ibu lisa.


"Iya, nak."timpal ibu lisa kepada emir.


Emir yang melihat david datang ke ruang kerjanya, langsung bertanya kepada david. David memberitahu emir, kalau ada beberapa berkas penting untuk di tanda tangani. Emir pun memberitahu ibunya, kalau dia akan kembali bekerja lagi.


"Pak bro."panggil david kepada emir dengan suara yang kencang, sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang kerja emir.


"Ooh, Pak bro lagi nelfon."gumam david, lalu langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya emir.


"MA, tunggu dulu sebentar, disini ada david."ucap emir kepada ibu lisa, masing bicara dengan ibu lisa lewat panggilan telepon.


"Iya, nak."sahut ibu lisa kepada emir.


" Ada apa, vid?."tanya emir kepada david.


"Ini pak bro, ada beberapa dokumen penting yang harus pak bro tanda tangani."sahut david kepada emir.


"Ya udah, taro aja di situ."ucap emir kepada david.

__ADS_1


"Siap, pak bro."sahut david kepada emir.


"MA, aku balik kerja dulu, nanti aku telfon lagi. Assalamu'alaikum."ucap emir kepada ibu lisa.


"Iya, emir. Wa'alaikum salam."sahut ibu lisa kepada emir, lalu langsung mematikan teleponnya.


Emir pun kembali bekerja lagi, di kantor perusahaan milik papa nya itu. Emir langsung mengerjakan pekerjaannya, yang sempat tertunda itu. Sedangkan ibu Lisa, kini masih di rumah sakit A.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini pukul sekitar jam delapan malam, emir sedang berangkat menuju ke rumah sakit A mengunakan mobilnya itu. Dengan memakai hoodie berwarna navy, dan celana jeans hitam panjang. Emir pergi ke rumah sakit A, untuk menjaga sintia yang sedang terbaring koma di ranjang rumah sakit A tersebut.


Beberapa menit kemudian, kini mobilnya emir masuk kedalam halaman rumah sakit A. Lalu emir langsung membelokan mobilnya itu, kearah tempat parkir yang terdapat di rumah sakit tersebut.


Setelah selesai memarkir mobilnya itu, emir pun keluar dari mobilnya. Dan langsung melangkahkan kakinya, masuk ke dalam rumah sakit A tersebut. Lalu emir menuju ke arah ruang ICU, terdapat sintia di sana yang sedang di rawat.


Emir langsung bergegas masuk kedalam ruang ICU, untuk memantau keadaan sintia sekarang ini. Emir kini sudah mengenakan pakaian khusus, untuk masuk ke dalam ruang ICU tersebut.


Emir melangkahkan kakinya itu, masuk ke dalam ruang ICU. Lalu emir berjalan menuju ke arah kursi yang terdapat disana, dan juga di sebelah kanan ranjang rumah sakit sintia. Emir langsung mendudukkan pantatnya, ke kursi yang terdapat di sana.


Emir menatap sintia yang sekarang di penuhi oleh beberapa alat medis, yang menempel di tubuhnya. Lalu emir membisikan kata-kata, kepada sintia yang sedang koma tersebut. Emir juga meminta maaf kepada sintia, yang kini sedang terbaring koma di atas ranjang ruang ICU.


"Kamu ingat nggak, awal pertemuan kita?. Saat itu aku, sangat kesal padamu, yang tiba-tiba asal masuk saja kedalam kamar tidurku."ucap emir kepada sintia, sambil menatap wajah sintia yang terdapat beberapa alat medis.


"Sintia, maafkan saya yah. Saya, mungkin sering marah-marah sama kamu. Dan saya juga ucapkan banyak-banyak terima kasih, pada mu. Karena kamu telah menyelamatkan mama saya, dari tabrakan mobil itu."sambung emir kepada sintia.


"Sintia, tidurnya jangan lama-lama. Apa kamu nggak rindu, dengan keluarga kamu mungkin, atau kepada bi ira dan mbok darmi?. Sintia, ayo sekarang kamu cepat bangun. Keluarga mu, bi Ira dan juga mbok darmi, rindu dengan kehadiranmu di tengah-tengah mereka. Sampai kapan kamu hanya berbaring disini saja, apa kamu nggak rindu dan saya dengan mereka semua?."lirih emir kepada sintia di telinga sintia.


" Kalau kamu rindu dan sayang sama mereka semua, sekarang kamu, ayo bangun!."ucap emir kepada sintia, tepat di telinga sintia.


Tiba-tiba jari jemari tangan kanan, sintia pun bergerak. Emir yang melihat itu semua, langsung keluar mencari dokter yang telah merawat sintia di rumah sakit tersebut. Emir kini sudah kembali lagi ke ruang ICU, dengan membawa dokter yang akan memeriksa keadaan sintia sekarang.


"Sintia, kamu tunggu disini dulu yah. Saya panggilin, dokternya dulu."ucap emir kepada sintia, lalu langsung pergi dari ruang ICU.

__ADS_1


__ADS_2