KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN

KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN
HANA AL-RASYID 2


__ADS_3

Ruang rawat inap VVIP sintia, memiliki ruang yang cukup luas. Di dalam ruang rawat inap sintia terdapat ranjang rumah sakit, nakas, sofa berserta mejanya, kulkas mini, TV LED, jam dinding, 1lemari pakaian, 1kursi, toilet, dan alat-alat medis lainnya.


Ibu lisa, pak lukman dan juga emir pun, masuk kembali ke ruang inapnya sintia. Di sana mereka bertiga melihat sintia, yang masih bersandar di ranjang rumah sakit A. Lalu mereka bertiga pun menghampiri sintia, dan berdiri di sisi ranjang rumah sakit.


Sintia langsung bertanya kepada ibu lisa, tentang dua sosok laki-laki yang berada di sana. Ibu lisa memperkenalkan pak lukman dan emir, kepada sintia satu persatu. Ibu lisa memperkenalkan mereka berdua, sebagai seorang papa dan kakak. Sintia pun menatap wajah pak lukman dan juga emir, secara bergantian.


"MA, mereka berdua itu siapa?."tanya sintia kepada ibu lisa.


"Hana, kenalin ini papa kamu, nama papa Lukman. Dan kalau ini kakak kamu, namanya Emir."ujar ibu lisa kepada sintia.


"Papa, kakak?."ucap sintia kepada pak lukman dan emir, sambil menatap wajah mereka bergantian.


"Iya, Hana. Mereka berdua itu, papa sama kakak kamu, nak."sahut ibu lisa kepada sintia.


Sintia pun langsung memanggil pak lukman dan juga emir, dengan sebutan papa dan kakmak. Pak lukman yang mendengar panggilan dari sintia, langsung bergegas menjawabnya. Sedangkan emir, tidak menjawabnya sama sekali.


Ibu lisa yang melihat itu semua, langsung menyuruh emir untuk menjawab panggilan dari sintia. Emir langsung menjawabnya, walaupun hanya dengan gumaman.


"Papa."panggil sintia kepada pak lukman, dengan lirih.


"Iya, nak, ini papa sayang."sahut pak lukman kepada sintia, sambil menghampiri sintia.


"Kak emir."panggil sintia kepada emir, masih dengan suara lirih.


"Emir, jawab dong, adiknya manggil tuh."ucap ibu lisa kepada emir, dengan menatap wajah putra semata wayangnya itu.


"Hmmm."sahut emir kepada sintia, dengan malas, lalu langsung duduk di sofa. Pak lukman pun, mengikuti emir duduk di sofa tersebut.


1 jam sudah, ibu lisa menemani sintia disana. Setelah itu ibu lisa menyuruh sintia untuk istirahat saja, karena baru sadar dari koma. Sintia pun, menuruti perintah dari ibu lisa. Sintia langsung membaringkan tubuhnya itu diatas ranjang rumah sakit, sambil di bantu ibu lisa.


"Nak, kamu istirahat saja yah, kan baru pulih."pinta ibu lisa kepada sintia, sambil mengelus tangan sintia.


"Iya, MA."sahut sintia kepada ibu lisa, lalu ingin membaringkan tubuhnya ke ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"Ya udah, sini biar mama bantu."ucap ibu lisa kepada sintia, melihat sintia yang kesusahan untuk membaringkan tubuhnya itu.


"Iya, MA, makasih."sahut sintia.


"Iya, nak, sama-sama."timpal ibu lisa, yang sedang membantu sintia untuk membaringkan tubuhnya.


Sintia langsung memejamkan kedua matanya, dan tidak lama sintia pun tertidur pulas. Ibu lisa melihat sintia yang sudah tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit itu, lalu pergi dari sisi sintia. Dan berjalan menuju ke arah sofa, yang terdapat pak lukman dan juga emir yang sedang duduk di sana.


"PA, kita pulang yuk."ajak ibu lisa kepada pak lukman.


"Ayo, MA."sahut pak lukman kepada ibu lisa.


"Emir, kamu disini ajah, jagain Hana. Jangan ikut pulang, besok ajah kamu pulangnya. Besok pagi, mama ke sini lagi kok, tenang ajah."ucap ibu lisa kepada emir.


"Tapi, MA."sangah emir kepada ibu lisa.


"Syutttt, nggak ada tapi-tapi emir. Udah kamu disini ajah, jagain Hana. Besok pagi mama ke sini lagi, awas ajah kalo kamu ngapa-ngapain hana, kamu yang akan berhadapan dengan mama."putus ibu lisa kepada emir, sambil mengancam emir.


"Ayo PA, kita pulang."ajak ibu lisa kepada pak lukman.


"Iya, MA. Ayo."sahut pak lukman, lalu berdiri dari duduknya dan menghampiri istrinya.


" Ya udah, yah, emir. Mama sama papa, pulang dulu. Assalamu'alaikum."ucap ibu lisa kepada emir. Ibu lisa dan pak lukman pun, berjalan meninggalkan ruang rawat inapnya sintia.


"Wa'alaikum salam."sahut emir kepada ibu lisa, yang masih duduk di sofa ruang rawat inapnya sintia.


Setelah sepeninggal orang tuannya dari sana, emir pun merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang yang terdapat di ruang rawat inapnya sintia tersebut. Emir langsung menutup kedua matanya, dan tidak butuh waktu lama. Emir pun, telah memasuki alam mimpinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam pukul sekitar 1 dini hari sintia pun terbangun dari tidurnya, karena sintia merasa tenggorokannya kering. Sintia ingin meminta bantuan kepada emir, tapi emirnya sedang tertidur pulas di sofa.


"Aku haus."lirih sintia, baru bangun tidur.

__ADS_1


"Kak emir, mana yah?."gumam sintia, sambil berusaha bangkit dari tidurnya dan ingin bersandar di ranjang rumah sakit.


"Oh, ternyata kak emir masih tidur. Kasian kak emir, harus jagain aku. Ya udah, aku ambil sendiri ajah deh."gumam sintia di dalam hati, ketika melihat emir yang tertidur pulas di sofa.


Lalu berusaha meraih gelas berisi air putih yang berada di atas nakas, yang di dekat ranjang rumah sakit. Namun tiba-tiba gelas itu jatuh ke lantai, dan menimbulkan suara pecah dari gelas tersebut.


"Kok gelasnya jauh banget sih, jadi susahkan, aku ngambilnya."gerutu sintia, sambil meraih gelas yang berisikan air putih.


"Crack!........"suara gelas pecah di lantai.


Emir yang mendengar suara gelas pecah pun, langsung terbangun dari tidurnya. Emir juga melihat sintia yang sudah bangun dari tidurnya dan, emir melihat sintia yang berusaha ingin mengambil gelas tadi yang pecah tersebut.


"Suara apa, itu."ucap emir, yang terbangun dari tidurnya.


Lalu emir pun berdiri, dan menghampiri sintia di ranjang rumah sakit A. Dan emir langsung melayangkan beberapa kata, kepada sintia. Sintia menjelaskan yang sebenarnya terjadi, kalau dia ingin minum. Emir mendengar sintia ingin minum, emir bergegas mengambil air mineral dalam kemasan botol plastik yang berada di nakas.


"Kok bisa pecah gelasnya, kenapa?."tanya emir kepada sintia, yang kini dihadapan sintia.


"Itu, kak. Aku haus, ingin minum."jawab sintia kepada emir.


"Kenapa kamu nggak bangunin, saya?."tanya emir, dengan suara sedikit meninggi.


"A- - -ku, nggak mau ganggu tidur kakak."jawab sintia, dengan sedikit terbata-bata.


"Ya sudah, kamu tunggu disini saja. Nanti saya, ambilin airnya."titah emir kepada sintia, lalu berjalan ke arah nakas untuk mengambil air kemasan botol plastik.


"Iya, kak."sahut sintia.


"Ini airnya, ambil."titah emir kepada sintia, sambil menyodorkan sebotol air mineral yang sudah di buka.


"Makasih, kak."ucap sintia kepada emir,langsung mengambil air mineral dari tangan emir.


"Hmmm."sahut emir.

__ADS_1


__ADS_2