KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN

KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN
Dasar Tuan Emir


__ADS_3

POV: SINTIA.


Sudah tiga bulan aku, bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di rumahnya bapak lukman. Setiap hari aku, menjalani semua tugas-tugasku. Bukan cuma tugas sebagai seorang pembantu saja, namun juga tugas sebagai seorang muslimah.


Di rumah ini aku di terima dengan baik, baik itu dari para pekerja dan juga majikan ku. Majikan aku bernama, Pak Lukman dan Ibu Lisa. Pak lukman dan juga ibu lisa, merupakan sosok majikan yang baik kepada seluruh pekerjanya.


Namun ketika anak majikan ku itu, baru pulang dari luar negeri. Yaitu, yang bernama tuan Emir. Tuan emir memang orangnya tampan, namun. Dia itu orangnya sombong, arogan dan angkuh. Aku tuh, kesel banget sama tuan emir.


Bagaimana tidak kesal coba, pertama kalinya aku melihat tuan emir dirumahnya itu. Cerita begini, pada saat aku membersihkan kamar tidur anaknya ibu lisa tersebut. Ketika aku kelupaan meninggalkan alat pembersih kaca, di kamar anaknya ibu lisa itu.


Aku pun, langsung bergegas mengambil alat pembersih kaca itu yang berada di kamar anaknya ibu lisa. Aku masuk kedalam kamar itu, dan langsung mengambil alat pembersih kaca tersebut.


Aku mencari dimana letak alat pembersih kaca itu, pada saat aku meletakkan alat pembersih kaca tersebut. Aku mencari di setiap sudut, jendela kamar tidur anaknya ibu lisa. Dan akhirnya aku pun, menemukan alat pembersih kaca itu.


Lalu aku pun, bergegas untuk segera meninggalkan kamar tidur anaknya ibu lisa tersebut. Namun, ketika aku mau membalikkan badan. Aku di kejutkan dengan seseorang pria, yang hanya mengunakan handuk saja sebatas pinggang.


Lalu aku pun refleks berteriak, ketika aku melihat pria itu. Dan aku langsung menutup kedua mataku, mengunakan kedua telapak tangan ku. Pria itu bertanya soal siapakah aku, kepada ku.


"Haaaaaaaaaaah."teriak ku, ketika melihat seorang pria yang mengunakan handuk saja sebatas pinggangnya. Lalu aku langsung menutup kedua mataku, mengunakan kedua telapak tangan ku.


"Hey, kamu siapa?. Asal masuk-masuk saja, ke dalam kamar tidur saya."tanya pria itu kepada ku, dengan suara tegas.


Aku pun, langsung menjawab pertanyaan dari seorang pria itu. Dengan sedikit terbata-bata, jadinya. Lalu aku juga, bertanya siapakah sosok seorang pria, yang berada di dalam kamar tidur anaknya ibu lisa tersebut kepada pria itu.


"Sa- - -ya, sintia. Pembantu baru disini, kamu siapa?."ucap ku kepada pria itu, dengan terbata-bata.


"Saya emir, anak pemilik rumah ini."sahut pria tersebut kepada ku.


Dan ternyata pria itu adalah anak majikan ku, yang baru datang dari luar negeri. Pria itu bernama emir, anak dari pak lukman dan juga ibu lisa. Lalu tuan emir, bertanya kepadaku dengan nada tegas. Mengapa aku ini, berada di dalam kamar tidurnya. Aku pun, langsung menjawabnya dengan sedikit terbata-bata.

__ADS_1


"Terus kamu ngapain, di dalam kamar tidur saya?. JAWAB."tegas tuan emir kepada ku.


"Sa- - -ya, mau ngambil ini saja tuan."sahut ku kepada tuan emir, sambil mengangkat alat pembersih kaca.


"Ya sudah, sana pergi dari kamar tidur saya. SEKARANG JUGA."titah tuan emir kepada ku, dengan tegas.


"Ba- - -ik, tuan."sahut ku kepada tuan emir, lalu aku langsung keluar dari kamar itu dengan tidak melihat keadaan tuan emir berdiri.


Aku inget betul, ketika aku baru pertama kalinya membuatkan kopi untuk tuan emir. Aku salah membuat kopi tersebut, untuk tuan emir. Karena aku lupa, takarannya seberapa. Aku pun, di marahin habis-habisan oleh tuan emir. Sampai-sampai aku, air mataku hampir mengalir di pipiku. Namun, aku tahan agar air mataku tidak mengalir.


"Kamu, tuh buat kopi bisa nggak sih. Kaya gini saja, nggak becus. Percuma saja, orang tua saya menggaji kamu dan mempekerjakan kamu di sini."omel tuan emir kepada ku.


"Astaghfirullah, sabar, sintia."gumam ku di dalam hati, sambil menahan air mataku agar tidak menetes di depan tuan emir.


"Ma- - -af, tuan emir. Biar saya, buatkan lagi."ucap ku kepada tuan emir, sambil menahan air mataku agar tidak mengalir di pipiku.


"Sabar, sintia, sabar."gumam ku di dalam hati, sambil mengelus-elus dadaku.


"Amit-amit, aku punya suami kaya dia. Udah sombong, arogan dan suka marah-marah lagi. Jangan sampai, aku punya laki kaya dia."misuh-misuhku di dalam hati.


Tuan emir pun, meninggalkan ku di sana sendirian. Aku pun, langsung mengusap air mataku yang sudah menetes di pipiku. Walaupun perasaan hatiku, sangatlah sakit ketika tuan emir marah-marah kepada ku. Namun aku sadar, bahwa aku juga salah disini.


Setiap hari aku selalu merindukan, kampung halaman ku di sana. Aku juga sudah mengirimkan sejumlah uang dari gajiku, untuk keluarga ku di kampung. Ya, memang tidak seberapa gajiku. Aku pun tetap bersyukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan ku rizki yang halal tentunya.


...****************...


Sore ini aku sedang mengepel di lantai dua, rumah tersebut. Aku mengepel lantai di lorong-lorong ruangan, yang ada di lantai dua. Lalu datanglah tuan emir, yang baru pulang dari kantor nya.


Tuan emir emir berjalan menuju ke arah kamar tidurnya, namun karena tidak berhati-hati. Dia pun, akhirnya jatuh terpeleset di lantai. Lalu aku menghampiri tuan emir, yang masih berada di lantai tersebut sambil membawa alat pel.

__ADS_1


"Aduh..."rintih tuan emir, yang baru saja jatuh terpeleset di lantai.


Aku pun langsung menolongnya, dengan memberikan alat pel yang sebagai pegangan. Karena aku tidak mau memegang tangan tuan emir, dikarenakan bukan mahrom. Jadinya aku, mengunakan alat pel itu sebagai pegangan nya.


"Tuan emir, sini biar saya, bantu."ucap ku kepada tuan emir, sambil mengulurkan alat pel sebagai pegangan tangan.


"Niat nolongin, nggak sih, kamu tuh."sarkas tuan emir kepadaku.


"Ini juga, saya mau nolongin tuan. Cuma kita harus pakai ini, tuan. Kan, saya dan tuan emir bukan mahrom. Jadi saya, pakai ini untuk tidak bersentuhan, tuan."ucap ku kepada tuan emir, sambil menunjukkan alat pel ini di hadapan tuan emir.


"Ya sudah, cepetan. Kamu, tolong saya berdiri."ucap tuan emir kepada ku, lalu memegang ujung sisi alat pel itu untuk pegangan.


"Baik, tuan."sahutku kepada tuan emir, sambil memegang ujung sisi alat pel itu. Dan aku, langsung membantu tuan emir berdiri.


Aku membantu tuan emir berdiri, dengan alat pel sebagai pegangannya. Tuan emir pun, berdiri dari lantai. Lalu aku bertanya keadaan tuan emir, yang baru saja jatuh terpeleset di lantai itu.


"Tuan emir, nggak apa-apa kan, tuan?."tanya ku kepada tuan emir.


"Kamu tuh, jadi orang bisa nggak sih ngepel nya. Kalo nggak bisa ngepel tuh, nggak usah ngepel. Jadinya saya terpeleset kan, ini kan semua gara-gara kamu yang nggak becus ngepel nya. Jadinya, badan saya sakit semua."omel tuan emir kepada ku.


"Maafkan saya, tuan. Saya, janji, saya akan berhati-hati lagi mengepelnya."ucap ku kepada tuan emir.


"Saya beri, kamu kesempatan lagi kerja di sini. Awas saja, sampai ada kejadian ini terulang lagi. Kamu akan saya, pecat dari sini."tegas tuan emir kepada ku, lalu pergi dari hadapanku dan langsung berjalan menuju ke arah kamar tidurnya.


"Baik, tuan."sahutku kepada tuan emir.


Eh, malah dia marah-marah kepada ku. Yang menggatai ku, nggak becus ngepel inilah, itulah. Yang salahkan itu dia, yang nggak hati-hati. Udah tau, ada orang ngepel lantai. Eh, seenaknya jalan. Kan, terpeleset jadinya.


AND: POV.

__ADS_1


__ADS_2