KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN

KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN
HANA AL-RASYID


__ADS_3

Emir langsung mengetuk, pintu ruangan dokter arya. Lalu dokter arya mempersilahkan emir, untuk masuk kedalam ruangannya. Emir pun, masuk kedalam ruangan dokter arya. Dokter arya, menyuruh emir untuk duduk.


"Tok tok tok, Dok, dokter arya."emir mengetuk pintu ruangan dokter Arya, sambil memanggil dokter Arya.


"Iya, siapa?."tanya dokter arya dari dalam.


"Saya dok, Emir."sahut Emir.


"Oh, mas Emir. Masuk, mas Emir."ucap dokter arya.


"Iya, dok."sahut Emir, lalu langsung masuk ke dalam ruangan dokter arya.


"Silahkan duduk, mas emir."ucap dokter Arya.


"Iya, dok, terima kasih."sahut emir, lalu langsung duduk.


Dokter arya, langsung melayangkan pertanyaan kepada emir. Lalu emir langsung menceritakan, keadaan sintia sekarang ini kepada dokter arya. Dokter arya pun, langsung bergegas menuju ke ruang ICU untuk memeriksa keadaan sintia.


"Mas emir cari saya, ada apa, mas emir?."tanya dokter arya kepada Emir.


"Iya dok, saya cari dokter. Saya cuma mau memberitahu dokter, tadi mama saya masuk kedalam ruang ICU, terus sintia bangun dan dia tidak mengenal dengan mama saya dok. Dia kenapa dok?, apa ada sesuatu dengannya dok?."ucap emir kepada dokter arya, dengan sedikit cemas


"Tenang saja, mas emir. Nanti coba saya, periksa dulu keadaannya."sahut dokter arya.


" Ya sudah, mas Emir. Mari, kita langsung kesana."ajak dokter arya, lalu langsung pergi dari ruangannya dan langsung menuju ke arah ruang ICU.


"Iya, dok."sahut emir kepada dokter Arya, sambil mengikuti dokter Arya.


Dokter arya dan emir pun, langsung bergegas menuju ke arah ruang ICU. Dokter arya langsung masuk kedalam ruang ICU, sedangkan emir diluar ruang ICU. Di dalam ruang ICU sudah ada dokter arya dan 2 orang suster, yang sedang memeriksa keadaan sintia.


Beberapa menit kemudian, dokter arya pun keluar dari ruang ICU. Lalu dokter arya, menghampiri keluarga pak lukman yang sedang berdiri di dekat ruang ICU. Dokter arya memberitahu keluarga pak lukman, tentang keadaan sintia. Dan dokter arya juga mengatakan, akan memindahkan sintia ke ruang rawat inap saat itu juga.


"Dok, bagaimana kondisi nya?."tanya ibu lisa kepada dokter Arya.


" Alhamdulillah kondisi pasien cukup membaik dan pasien akan segera di pindahkan ke ruang rawat inap, untuk menjalani masa pemulihannya. Namun diakibatkan benturan yang cukup keras mengenai kepala pasien, sehingga kini pasien mengalami amnesia."jelas dokter Arya kepada ibu lisa dan lainnya.


"APA, AMNESIA, DOK?."kaget ibu lisa.

__ADS_1


"Iya, bu. Pasien kini mengalami amnesia, diakibatkan benturan di kepalanya yang cukup keras. Sehingga kini pasien, kehilangan memory ingatannya."jawab dokter arya.


"Terus dia bisa sembuh kan, dok?."tanya ibu lisa.


"Pasien bisa sembuh, namun pasien butuh cukup waktu untuk masa pemulihan ingatannya. Jika pasien di paksakan untuk mengingat dirinya itu, akan mengalami kesakitan di kepalanya. Akibat cedera di kepalanya, yang cukup serius. Jadi saya mohon kepada ibu, bapak dan juga mas emir, agar tidak memaksakan pasien untuk mengingat masa lalunya."ujar dokter Arya.


" Ya sudah, ibu, bapak dan juga mas emir, saya tinggal dulu."sambung dokter Arya, kepada ibu lisa, pak lukman dan emir.


"Iya, dok."sahut ibu lisa mewakili yang lainnya.


Dokter arya pun pergi dari hadapan mereka bertiga, dan langsung kembali ke ruangannya tersebut. Ibu lisa meminta suster memindahkan sintia ke ruang rawat inap yang VVIP, berapapun biayanya ibu lisa akan membayarnya.


Kini sintia sedang di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP, yang terdapat di rumah sakit tersebut. Yang di bantu oleh 2 orang suster, untuk membantu sintia ke ruang rawat inap. Sekarang sintia sudah berada di ruang rawat inap, dan 2 suster itu pun keluar dari sana.


Lalu ibu lisa, pak lukman dan juga emir pun, masuk kedalam ruang rawat inap sintia. Disana mereka bertiga menatap sintia yang sedang bersandar, di atas ranjang rumah sakit. Sintia juga menatap mereka bertiga, secara bergantian.


Ibu lisa menghampiri sintia, yang ada di ranjang rumah sakit tersebut. Lalu sintia, menanyakan siapa yang ada di hadapannya itu. Sintia juga menyatakan siapa dirinya, dan kenapa dia ada disana.


"Ibu, siapa?. Dan saya siapa, kenapa saya berada disini?."tanya sintia kepada ibu lisa, dengan suara lirih.


Pak lukman dan emir yang mendengar ucapan ibu lisa, langsung menoleh ke arah ibu lisa. Mengapa ibu bicara seperti itu, kepada sintia.


"Mama, aku?."lirih sintia.


"Iya, nak, ini mama kamu."ucap ibu lisa kepada sintia.


"Terus, aku nama aku siapa MA?."tanya sintia kepada ibu lisa.


"Nama kamu itu, HANA."jawab ibu lisa kepada sintia.


"HANA!."gumam sintia, yang masih di dengar ibu lisa.


"Iya, nak. Kamu itu, HANA AL-RASYID, anak mama."jawab ibu lisa kepada sintia.


Emir yang mendengar kata-kata terucap dari mulut mamanya pun, langsung menghampiri ibu lisa. Ibu lisa pamit sembentar kepada sintia. Ibu lisa, emir dan juga pak lukman ikut keluar dari ruangan tersebut.


"MA, ikut aku sebentar."ucap emir kepada ibu lisa, sambil menarik tangan ibu lisa.

__ADS_1


"Hana, mama pergi sebentar yah."pamit ibu lisa kepada sintia.


"Iya, MA."sahut sintia kepada ibu lisa.


Kini ibu lisa, emir dan pak lukman sudah berada di luar ruang rawat inapnya sintia. Emir pun langsung melayangkan pertanyaan kepada mamanya, yang telah berbicara seperti itu.


"MA, mama kenapa ngomong kayak gitu sama sintia?."tanya emir kepada sintia.


"Kan, kata dokter arya tadi, sintia itu nggak boleh di paksakan dulu untuk mengingat semuanya, emir."jelas ibu lisa kepada emir.


"Tapi nggak gitu juga kali, MA!."ucap emir kepada ibu lisa.


"Udah, kamu nggak usah ikut campur, ini urusan mama."tepis ibu lisa kepada emir.


"Sintia itu gadis yang baik kok, ya nggak PA."sambung ibu lisa kepada emir, sambil meminta dukungan dari pak lukman.


"Iya, MA, sintia memang gadis yang baik sekali."sahut pak lukman kepada ibu lisa.


"Tuh, dengerin papa, emir."ucap ibu lisa kepada emir.


"PA, boleh nggak sintia jadi anak angkat kita?."tanya ibu lisa kepada pak lukman.


"Boleh-boleh ajah, MA, papa dukung keputusan mama kok. Kan kita sudah mengenal sintia selama ini, kalau sintia itu gadis yang baik dan sopan."ujar pak lukman kepada ibu lisa.


"PA, kok papa malah dukung mama sih, PA?. Harus tuh, papa nolak keputusan mama."tanya emir kepada pak lukman.


"Emangnya kenapa emir, kalau sintia jadi adik kamu emir, ada masalah?. Sintia juga seorang gadis yang baik dan sopan toh, jadi sah-sah ajakan jadi anak mama papa, dan juga adik kamu. "ucap pak lukman kepada emir.


"Tapi, PA!."sahut emir kepada pak lukman.


"Udah, PA, jangan dengerin emir."timpal ibu lisa kepada pak lukman.


" Mulai sekarang, sintia itu adalah adik kamu, emir, titik. Nggak ada protes-protes, dan suka nggak suka. Sintia akan menjadi anak mama sama papa, dan juga adik kamu emir. Dan nama di sekarang itu HANA, bukan sintia. Ingat, itu emir"tegas ibu lisa kepada emir.


"Ya udah lah, terserah mama sama papa aja lah. Aku pusing, mikirin nya."putus emir kepada ibu lisa dan pak lukman.


"Nah, gitukan enak jadinya. Ya udah, ayok kita sekarang ke dalam lagi, kasihan hana di dalam nungguin kita."timpal ibu lisa.

__ADS_1


__ADS_2