KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN

KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN
Tekad Meluluhkan Hati Emir


__ADS_3

Sudah satu minggu sintia pulang dari rumah sakit, dan perkembangan kondisi sintia juga semakin membaik setiap harinya. Walaupun kehilangan ingatannya, sintia tidak lupa untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Yaitu sholat dan selalu memakai jilbab, walaupun hanya di dalam rumah saja. Entah kenapa sintia tidak berani membuka jilbabnya, di dalam rumah. Pagi ini pukul sekitar jam 07.00 wib, sintia sedang membantu bik ira untuk menata makanan di meja makan.


Satu persatu makanan, sintia tata dengan rapih di atas meja makan. Datanglah ibu lisa dari anak tangga lantai dua, berjalan menuju sintia di sana. Dan langsung memanggil sintia, dengan sebutan hana.


"Hana, kamu udah bangun sayang."ucap ibu lisa kepada sintia, sambil berjalan menghampiri sintia.


"Iya,MA."sahut sintia kepada ibu lisa.


"MA, ayo sarapan dulu."ajak sintia kepada ibu lisa, untuk sarapan di sana.


"Iya, nak."sahut ibu lisa, lalu langsung duduk disana. Dan langsung membuka piring yang telah disusun sintia di meja makan tersebut.


"MA, aku ambilin yah."ucap sintia kepada ibu lisa, sambil mengambil wadah yang berisikan nasi goreng.


"Makasih, yah sayang."sahut ibu lisa kepada sintia, yang sedang menaruh nasi goreng ke piring ibu lisa.


"Iya, MA. Oh, yah MA, mama mau pake apa?, biar aku ambilin sekalian."tanya sintia kepada ibu lisa, sambil memegang telur ceplok.


"Mama, mau telur sama selada ajah, hana."ucap ibu lisa kepada sintia.


"Ini MA, telurnya, dan ini seladanya."sintia memberikan satu telur ceplok dan juga selada, ke dalam piring ibu lisa.


"Iya, sayang, makasih."ibu lisa menerima telur dan selada, dari sintia.


"Iya, MA, sama-sama."sahut sintia.


"Oh, yah, MA. Papa sama kak emir belum turun, yah?."tanya sintia kepada ibu lisa.


"Iya, nak, mereka berdua belum turun. Mungkin sebentar lagi juga, mereka berdua turun."sahut ibu lisa kepada sintia.


Datanglah pak lukman yang baru turun dari lantai dua, dan langsung menuju ke arah meja makan. Dan langsung duduk disana, bersama dengan ibu lisa. Mereka bertiga, langsung menyantap sarapan pagi. Sintia melihat emir yang baru turun dari lantai dua pun, langsung memanggil emir.


"Wah, kalian berdua udah pada ngumpul ajah yah, disini. Nggak ngajak-ngajak, papa."ucap pak lukman kepada ibu lisa dan sintia, lalu langsung duduk di sana.

__ADS_1


"Iya, PA."sahut ibu lisa dan sintia, secara bersamaan.


" Papa sih, lama turunnya, jadi keduluan sama kita berdua kan, iya nggak hana." ucap ibu lisa kepada pak lukman, sambil meminta pendapat sintia.


"Iya, MA, betul banget tuh, MA."sahut sintia kepada ibu lisa.


"Ya udah, sekarang saatnya kita sarapan."ucap pak lukman kepada ibu lisa dan sintia.


"Iya, PA."sahut ibu lisa dan sintia, secara bersamaan.


"Kak emir."panggil sintia kepada emir, yang melihat emir menuruni anak tangga lantai dua.


"Kak emir, sini. Kita sarapan bareng yuk, kak."ajak sintia kepada emir, dengan sedikit berteriak. Namun tidak di hiraukan oleh emir, yang masih menuruni anak tangga.


"Emir, sarapan dulu."ucap ibu lisa kepada emir, sambil sedikit berteriak.


"Nggak, MA. Aku sarapannya, di kantor ajah."sahut emir kepada ibu lisa, sedikit berteriak. Lalu emir, langsung berjalan ke luar rumah.


"Anak itu, kebiasaan banget."ucap ibu lisa, yang tahu sifat anaknya yang tidak terima kalau sintia menjadi anggota keluarganya.


"IYa, PA."sahut ibu lisa.


"Kak emir, kenapa yah, nggak mau sarapan bareng. Apa ada aku yah, dan kenapa kak emir kayak nggak suka ada aku disini."batin sintia, sambil melamun.


"Hana, ayo dihabisin makanannya nanti keburu dingin loh."ucap pak lukman kepada sintia, yang sedang melamun.


"Iya, PA."sahut sintia, melanjutkan makanannya kembali.


"Aku, akan berusaha meluluhkan hati kak emir. Walau sampai berapapun lamanya, aku akan tetap berusaha sekuat tenaga ku. Semangat, hana, kamu pasti bisa."tekad sintia didalam hati, sambil masih memakan sarapannya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore ini sekitar pukul lima sore, emir baru pulang dari kantor perusahaannya. Mobil emir pun, baru sampai di halaman rumahnya. Lalu emir langsung keluar dari dalam mobil, dan langsung masuk kedalam rumahnya sambil menenteng tas kerjanya.


Sintia dan ibu lisa sedang bersantai di ruang tengah, sambil mengobrol sore. Emir berjalan melewati ruang tengah, sintia yang melihat emir pun. Seketika langsung menghampiri emir, yang sedang berjalan tersebut. Lalu sintia menawarkan bantuan kepada emir, untuk membawakan tas kerja emir.

__ADS_1


"Kak emir, aku bantuin bawain tasnya, yah."ucap sintia kepada emir, sambil memegang tas kerja emir.


"Nggak usah."sahut emir kepada sintia, masih terus melangkah menuju ke arah tangga lantai dua.


"Sini kak emir tasnya, biar aku bawain."ucap sintia, masih mengikuti langkah emir sambil memegang tas kerjanya emir.


"Di bilangin nggak usah, nggak usah. Harus pakai bahasa apa lagi, agar kamu ngerti hah."sentak emir kepada sintia, sambil berhenti sebentar.


"Maaf, kak emir. Aku kan, cuma mau nawarin bantuan ajah kak."ucap sintia kepada emir, sambil menundukkan kepalanya.


" Sana pergi, jangan ngikutin aku lagi."ketus emir kepada sintia.


"Iya, kak, aku pergi sekarang."lirih sintia kepada emir, lalu pergi dari hadapan emir.


Sintia pergi dari hadapan emir, dan kembali lagi menuju ibu lisa yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Sedangkan emir melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar tidurnya.


SKIP


Malam pun tiba, sekarang ini sintia sedang membawakan secangkir kopi untuk emir. Sintia melangkah kakinya menuju ke arah ruang kerjanya emir, yang berada di rumah. Akhirnya ia, sampai juga di depan pintu ruang kerjanya emir. Lalu sintia, langsung mengetuk pintu ruang kerja emir.


"Tok tok tok, Assalamu'alaikum."sintia mengetuk pintu ruang kerjanya emir, sambil membawa nampan yang berisikan secangkir kopi.


"Wa'alaikum salam."sahut emir, dari dalam ruang kerjanya. Dan juga masih fokus mengerjakan pekerjaannya, melalui laptopnya tersebut.


Sintia langsung melangkah masuk, ke dalam ruang kerjanya emir. Derap langkah kaki pun, terdengar di telinganya emir. Emir langsung mengalihkan pandangannya itu ke sintia, yang semula menatap laptopnya tersebut.


"Ngapain kamu, kesini?. Ganggu orang kerja, saja."tanya emir kepada sintia.


"Kak, aku bawain kopi nih, buat nemenin kakak kerja. Kak, aku taruh disini yah, kopinya."ucap sintia kepada emir, sambil menaruh secangkir kopi di meja kerjanya emir.


"Hmmm."sahut emir kepada sintia, dengan gumaman.


"Ya sudah, sana keluar."usir emir kepada sintia.


"Iya, kak, aku keluar."ucap sintia kepada emir, lalu langsung keluar dari dalam ruang kerjanya emir.

__ADS_1


"Tuh, orang ganggu ajah, udah tau lagi kerja, malah ini dateng segala lagi. Tapi lumayan sih, kopinya."gumaman emir, lalu meminum kopi buatan sintia itu.


__ADS_2