KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN

KETIKA TAKDIR MEMPERSATUKAN
Aku Teman SD Kamu, Sintia


__ADS_3

Sore hari ini pukul 4 sore hana(sintia) sedang mengendarai mobilnya itu, menuju ke Minimarket. Karena hana(sintia) ingin membeli barang sesuatu, seperti keju, susu, dan lainnya untuk bahan membuat takjil.


Hana mengendarai mobilnya tersebut di jalanan ibukota, yang sangat macet apa lagi ini sudah mulai sore banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Beberapa menit kemudian, akhirnya hana pun sampai juga di depan Minimarket.


Hana langsung bergegas mengambil tas selempangnya itu, yang ia taruh di jok samping mobilnya tersebut. Setelah itu hana pun, keluar dari dalam mobilnya. Dan hana langsung menutup pintu mobilnya, sambil menguncinya.


Lalu ia pun, berjalan menuju ke arah minimarket itu. Hana langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam, minimarket tersebut. Setelah itu hana bergegas untuk mengambil keranjang belanjaan, dan ia pun segera berjalan ke arah rak-rak bahan-bahan makanan.


Dan hana pun bergegas mengambil barang-barang, yang ia butuhkan dan yang ia cari di sana. Satu persatu barang yang hana(sintia) butuhkan dan cari pun, di masukkan ke dalam sebuah keranjang belanjaan.


Beberapa menit kemudian akhirnya, hana (sintia) sudah selesai mencari barang-barang yang ia butuhkan dan yang ia cari di sana. Namun hanya tinggal susu cair saja yang belum ia cari, hana pun bergegas menuju ke arah rak yang berisikan susu cair.


"Mana yah, susu cair nya."ucap hana, sambil berjalan mencari di rak yang berisikan susu cair.


"Nah, itu dia susu cair nya. Ternyata ada di sana, dari tadi dicari-cari eh, malah nonggol-nya di sana."sambung hana, lalu langsung bergegas menuju ke arah rak yang berisikan susu cair.


Hana kini sedang mencari susu cair yang sedang ia butuhkan, di rak yang berisikan berbagai macam merek susu cair. Kini hana sedang asyik mencari susu cair yang ia cari, sehingga ia tidak tahu kalau ada orang yang di belakang dia yang sedang mencari barang juga.


Susu cair yang hana cari pun, akhirnya ketemu juga. Lalu ia ambil beberapa susu cair, dan setelah itu hana langsung taruh susu cair tersebut kedalam keranjang belanjaan.


"Nah, itu-tuh susu cair nya. Ya udah deh, aku langsung ambil ajah."ucap hana, lalu langsung mengambil susu cair di rak.


"Tapi berapa susu cair yah, yang di butuhkan?."tanya sintia, sambil berfikir berapa susu cair yang ia butuhkan.


"Ya udah deh, 3 aja cukup kali."putus Hana, lalu langsung mengambil 3 susu cair full cream yang berukuran 1000 ml.


Orang yang berada di belakang hana pun, mengenali dengan suara dan wajah hana. Orang tersebut langsung memanggil hana sambil menepuk pundak hana, dengan sebutan sintia. Hana yang merasa ada orang yang menepuk pundaknya pun, lalu langsung segera menengok ke arah belakang.


"Sintia."panggil seorang perempuan yang berumur sepantaran dengan hana, kepada hana(sintia). Perempuan tersebut pun, sambil menepuk pundak hana (sintia).


"Ada apa yah, kenapa wanita ini menepuk pundak ku yah?."gumam hana di dalam hati, sambil menatap wajah perempuan yang telah menepuk pundaknya tersebut.


"Sintia, kamu sekarang ada Jakarta yah?. Dan kamu juga sekarang, lagi belanja di sini juga yah."tanya perempuan itu kepada hana(sintia).


"Maaf mbak, saya bukan sintia. Dan saya juga tidak kenal, dengan mbak Mbak ini, siapa yah?."ucap Hana(sintia) kepada perempuan tersebut, sambil bertanya.


"Sintia, ini aku loh, Rina. Teman satu kelas kamu pas SD, masa kamu nggak kenal sama aku sih."jelas perempuan tersebut kepada Hana(sintia).


"Rina."gumam Hana(sintia) di dalam hati, sambil bertanya-tanya di dalam hati dan pikirannya, siapakah sosok perempuan yang bernama rina tersebut. Apakah ia pernah mengenal perempuan yang bernama rina itu, ataukah ia tidak mengenal sama sekali dengan dia.


"Maaf yah mbak, tapi saya tidak kenal dengan mbak nya. Dan nama saya Hana, bukan sintia yang tadi mbak sebutkan tadi. Permisi."ujar Hana kepada perempuan yang bernama rina tersebut, lalu hana pun pergi dari hadapan tari menuju ke arah meja kasir minimarket.


"Apa benar tadi itu, bukan lah sintia?. Masa sih, bukan dia. Aku yakin dia itu sintia, bukan hana yang tadi dia bilang barusan."gumam Rina, sambil bertanya-tanya di dalam hati dan pikirannya.


"Masa bodo lah, siapa pun dia. Sekarang aku lanjutin, belanjanya lagi ajah, ngapain juga mikirin dia."putus Rina, lalu melanjutkan belanjanya lagi.


****************


Di kampung halamannya sintia (hana), ibu laras sedang memasak untuk berbuka puasa di dapurnya itu. Kini ibu laras sedang memotong-motong tempe, yang akan ia buat menjadi orek tempe.

__ADS_1


Setelah selesai memotong tempenya, lalu ibu laras memotong cabe, bawang putih dan bawang merah. Setelah selesai memotong semuanya, ibu laras pun segera mengolah tempenya menjadi orek tempe.


Sambil memasak orek tempe, ibu laras jadi kepikiran terus tentang anaknya yaitu sintia. Karena sintia suka sekali dengan orek tempe, buatan dari ibu laras. Ibu laras terbayang-bayang akan putri tercintanya, yang kini masih belum ada kabar sama sekali di kota orang.


"Ya Allah, bagaimana keadaan sintia yah disana. Apakah sintia disana baik-baik saja, terus bagaimana kondisinya sekarang?."gumam ibu Laras, sambil memasak orek tempe.


"Nak, sekarang ini ibu sedang membuat makanan kesukaan loh. Sekarang kamu lagi ngapain, Nak?."lirih ibu lisa, yang sedang memasak orek tempe.


"Nak, biasanya kamu disini bantu-bantu ibu di dapur kalau lagi masak. Tapi, sekarang kamu tidak ada disini. Sin, ibu kangen banget sama kamu."sambung ibu Laras.


"Nak, semoga kamu disana selalu dalam lindungan Allah, amin."do'a ibu laras.


****************


Di Jakarta, hana(sintia) sekarang sedang menunggu mbak kasir minimarket nya yang lagi menghitung total seluruh belanjaan sintia. Dan mbak kasir minimarket nya pun, menyebutkan jumlah nominal uang yang harus di bayar oleh hana(sintia) tersebut.


"Mbak, berapa total semuanya?."tanya hana(sintia), kepada mbak kasir Minimarket nya.


"Jadi total semuanya, 355000 mbak, totalnya."jawab mbak kasir Minimarket nya, kepada Hana(sintia).


Hana(sintia) pun langsung membuka tas selempangnya, dan langsung mengambil dompetnya. Dan ia juga langsung mengambil uang pecahan seratus ribuan, sejumlah empat lembar.


Dan hana(sintia) pun, langsung menyerahkan uang pecahan seratus ribuan itu kepada mbak kasir minimarket. Untuk membayar belanjaannya tersebut, kepada mbak kasir minimarket. Mbak kasir minimarket pun, langsung menerima uang dari hana(sintia) dan mbak kasir langsung menghitung uang kembalian untuk hana.


"Ini mbak, uangnya."ucap hana, sambil menyodorkan sejumlah uang sekitar empat ratus ribu rupiah kepada mbak kasir minimarket.


"Iya, mbak. Tunggu sebentar yah, mbak."ucap mbak kasir Minimarket nya, kepada hana(sintia). Sambil memberi uang dari hana tersebut, lalu ia langsung menaruh uang itu kedalam laci. Dan mbak kasir Minimarket nya itu, segera menyerahkan uang kembalian berserta barang belanjaannya kepada hana.


"Ini mbak, kembalian nya. Sama ini barang belanjaannya, mbak."ucap mbak kasir Minimarket nya kepada, Hana. Sambil menyerahkan uang kembalian, dan juga belanjaannya hana.


"Iya, makasih, mbak."ucap hana kepada mbak Minimarket nya, sambil menerima uang kembalian dan juga barang-barang belanjaannya tersebut.


"Iya, mbak."sahut mbak kasir Minimarket nya, kepada Hana.


Setelah selesai membayar semua belanjaannya, hana pun bergegas pergi dari dalam minimarket tersebut sambil menenteng barang belanjaannya. Dan kini ia berjalan ke arah mobilnya itu, yang terparkir di depan Minimarket.


Dari dalam Minimarket, rina melihat hana masuk kedalam sebuah mobil mewah yang berwarna merah. Hati dan pikiran rina berkata, kalau dia itu memang sintia, tapi rina juga berfikir mengapa dia tidak mengenali rina.


"Hati dan pikiran ku berkata, kalau dia itu memang sintia. Tapi mengapa dia tidak mengenali, aku yah?."gumam rina di dalam hatinya, sambil melihat hana(sintia) masuk kedalam sebuah mobil mewah.


Mobil hana pun, kini pergi meninggalkan halaman Minimarket tersebut. Dan sekarang mobil yang di kemudikan oleh hana pun, melaju di jalanan dan langsung menuju ke rumahnya pak lukman.



Di dalam perjalanan pulang ke rumah, hana pun sempat berpikir tentang ucapan perempuan yang ia temuin itu di minimarket. Apakah benar kalau perempuan tadi itu adalah teman sekolah dasar-nya, dan juga kalau hana itu bernama sintia.


"Apa benar yah, yang di katakan oleh perempuan tadi. Kalau aku ini teman SD-nya dia, dan kalau aku ini bernama sintia?."ucap Hana, sambil fokus menyetiri mobilnya. Dan juga sambil memikirkan tentang sosok perempuan tadi, yang ia temui itu di minimarket.


"Masa sih mama, papa dan kak emir bohongi aku. Nggak, nggak mungkin. Iya, nggak mungkin."tepis hana, ketika terbesit di pikirannya kalau mama, papa dan kakaknya itu telah membohongi dia.

__ADS_1


Di rumahnya pak lukman, emir baru saja pulang dari kantornya. Ia pun, langsung masuk ke dalam rumahnya. Emir berjalan melewati ibu lisa yang sedang duduk di ruang tengah, bersama dengan pak lukman. Lalu emir pun, langsung menanyakan hana kepada kedua orang tuanya itu.


"Assalamu'alaikum."ucap emir, masuk kedalam rumah.


"Emir, tumben pulang nya masih sore?. Biasanya kan, pulangnya pasti menjelang mau maghrib. Tapi sekarang, kamu pulangnya belum mau maghrib."ucap ibu lisa kepada anaknya.


"Iya MA, di kantor udah nggak ada lagi yang aku kerjakan. Ya udah lah, aku pun pulang ajah. Dari pada aku di kantor, tapi nggak ada kerjaan."sahut emir.


"Oh, gitu, kirain tadi mama ngira kamu nya yang ingin cepet-cepet pulang."ucap ibu lisa.


"Iya, MA."sahut emir.


"Oh, Iya MA. Tumben aku nggak liat hana yah, emangnya kemana tuh anak MA?"tanya emir.


"Hana, lagi beli bahan-bahan untuk buat takjil di minimarket. Bentar lagi juga pulang, tuh anak."jawab ibu lisa.


"Oh."timpal emir.


Dan datanglah hana, sambil menenteng belanjaannya. Hana berjalan melewati ruang tengah, yang kini disana ada ibu lisa,pak lukman dan juga emir. Disana emir melihat raut wajah hana, yang sedang tidak baik-baik saja.


Hana sekarang sedang tidak fokus, dengan sekitarnya. Ia masih berpikiran tentang, ucapan perempuan yang ia temui di minimarket tersebut.


"Hana, hana, hana."panggil emir kepada hana.


"Eeh, iya kak. Ada apa, kak?."sahut Hana, sambil bertanya kepada emir.


"Hana, Kamu kenapa?. Kok, mukanya murung gitu."tanya emir kepada hana.


"Nggak apa-apa kok, kak. Cuma tadi ada seorang perempuan, yang seumuran dengan aku. Dia bilang, kalau aku ini teman satu SD-nya dia. Terus dia juga panggil aku, dengan sebutan sintia."ujar hana, kepada emir. Kini emir, ibu lisa dan juga pak lukman pun, terdiam di tempat ketika mendengar cerita hana.


"Kan, aneh kan kak. Masa sih aku teman satu SD sama dia, aku ajah nggak kenal sama dia kok. Iya nggak, kak."sambung hana, sambil meminta persetujuan dari emir.


"Kak, kak, kak."panggil hana kepada emir, yang sedang terdiam itu.


"E-eh, iya Han."sahut emir.


"Eh, ada mama sama papa juga disini."ucap Hana, ketika melihat ibu lisa dan pak lukman yang ada disana juga.


"Iya, nak."sahut pak lukman.


"Iya, sayang."sahut ibu lisa.


"MA, PA, kak emir. Aku ke dapur dulu yah, mau taro ini belanjaan."pamit Hana, kepada ibu lisa, pak lukman dan emir.


"Iya, sayang."sahut ibu lisa.


"Iya, nak."sahut pak lukman.


"Iya, Han."sahut emir.

__ADS_1


Hana pun, pergi dari hadapan mereka bertiga dan ia langsung bergegas menuju ke arah dapur bersih sambil menenteng tas belanjaan nya tersebut. Sedangkan kini emir, masih kepikiran yang di cerita oleh hana itu.


"Jangan sampai hana, ketemu dia lagi. Nanti bisa-bisa hana, tahu kalau dia itu bukan hana. Melainkan sintia, yang benar di katakan oleh orang tersebut."gumam Emir di dalam hati, sambil menatap hana yang sedang berjalan menghampiri dapur bersih.


__ADS_2