
...🌷 Selamat membaca 🌷...
...----------------...
...----------------...
05.30 Pagi
Hoek...
Hoek...
Della terbangun saat mendengar suara muntah dari kamar mandi dan bergegas kesana.
“Kenapa bisa muntah lagi sih?” Cemas Della Kemudian, mengusap tengkuk Vino yang lagi berusaha mengeluarkannya.
“Gak mau keluar yank” rengek Vino dengan muka pucat dan mata sayu dan berbalik menyandarkan kepalanya pada pundak Della. Ini sudah hari kedua Vino muntah-muntah diajak periksa tapi tidak mau.
“rebahan dulu, biar aku buatin teh hangat” ucap Della membawa Vino ke tempat tidur, Vino menurut. Lalu Della pergi ke dapur.
“nih yank, diminum biar gak mual lagi” ucap Della setelah kembali membawa segelas teh hangat.
Vino mengangguk lemas dengan dibantu Della ia meneguknya setengah. “Dah yank, pahit” tolak Vino, tehnya memang sengaja gak dikasih gula. Della pasrah saja yang penting udah diminum sedikit dari pada tidak ada.
Vino bergulung dengan selimut, badannya terasa lemas ditambah kepala pusing, jadi bedmood.
Della mengusap rambut hitam legam Vino lembut, “nanti gak usah kerja dulu, kita periksa kerumah sakit” ujar Della yang langsung dibalas gelengan oleh Vino.
“Kok geleng sih, ini demi kebaikan kamu loh. Dari kemarin kamu kek gini aku jadi gak tenang. Pokoknya harus nurut titik gak pakai koma gak pakai tanda tanya!” kesalnya dan diakhiri perintah mutlak gak boleh nolak.
Vino berbalik dan menatap memelas pada Della. Posisi awalnya memang Vino membelakangi Della yang lagi duduk di tepi kasur dan mengusap rambut Vino.
“Apa! Gak ada bantahan!” ketus Della galak membuat Vino cemberut tapi akhirnya nurut juga.
...----------------...
Seperti yang dikatakan Della, sekarang mereka telah berada dalam ruangan dokter yang akan memeriksa kesehatan Vino.
“Apa keluhannya pak?” tanya dokter bernama Ririn itu pada Vino.
“Hm...pusing dok, lemas dan muntah-muntah” jawab Vino.
“Benar dok, bahkan anehnya suami saya muntahnya cuman pagi doang tapi memang ada siang kadang sesekali” lanjut Della dengan raut khawatir.
Dok. Ririn berpikir sejenak kemudian bertanya,” apa mood nya sering berubah ubah?” yang langsung di anggukan Vino.
Dok. Ririn tersenyum membuat Vino dan Della heran, apaan coba orang sakit dia malah senyum pikir mereka.
__ADS_1
“Lebih baik bapak dan ibu temui dokter kandungan” ucap dok. Ririn sambil tersenyum tipis.
“Hah...kok dokter kandungan apa hubungannya? Suami saya kan sakit dok, dokter harus periksa dong nanti kalo terjadi apa-apa gimana? Saya kan gak mau jadi janda” ucap Della ngegas dan ngelantur kemana-mana.
“Apaan sih yank? Kok jadi janda segala kamu doain aku mati” kesal Vino tak suka.
“Siapa bilang? Gak usah so'uzon deh” ketus Della.
Dokter Ririn terkikik sendiri melihat tingkah pasangan ini.
“Maaf pak buk. Tapi menurut saya dari gejala suami anda rasakan bukan sakit tapi hamil” jelasnya penuh kesabaran.
“Maksud dokter suami saya hamil? Jangan ngawur dok suami saya kan cowok mana...”
“Maksud saya ibu bukan suami tapi sebaliknya suami anda yang merasakan nya. Makanya saya minta kalian temuin dokter kandung ” ucapnya dengan cepat memotong ocehan Della yang semakin membuat nya pusing.
“begitu dok, terimakasih dok. Kalo begitu kami permisi” ucap Vino dan dengan cepat menarik Della yang akan mengeluarkan proses lagi.
Setelah keluar, Della menatap sengit pada Vino. “Kamu apaan sih narik-narik aku keluar, aku kan mau protes” gerutu Della mengerucut sebal.
“Kamu yang apaan! Kamu gak dengar apa yang dokter bilang, ngomel gak jelas. Dah yuk kita pergi ke dokter kandungan, biar pasti”
Dengan sebal Della menurut, tapi ia juga ke pikiran apa mungkin dia benar hamil.
Tak cukup lama mereka sampai didepan ruang dok. Kandungan, untung gak ada yang lagi ngantri jadi bisa langsung masuk.
“Dokter sialan! Awas Lo gue colok mata lo!” umpat-nya dalam hati. Moodnya jadi jelek.
“silakan duduk” ucap sang dokter mengajak Della dan Vino duduk di kursi depannya.
“Terimakasih dok” Della tersenyum dan duduk diikuti oleh Vino tatapan tajam. Dokter itu tidak terlalu menghiraukan karena memang tidak merasa bersalah apapun.
“Jadi ada keluhan apa?”
“bukan saya dok tapi suami saya” Lalu Della menjelaskan semua yang dialami Vino. Dokter itu mengangguk dan meminta Della berbaring untuk diperiksa.
Vino jangan ditanya, dia kesal sekali melihat wajah sok tampan dokter itu, bukan itu saja istrinya malah tersenyum sok manis sengaja banget kek nya.
“cih, ciri-ciri pebinor nih, awas Lo gue sumpahin gak laku!”batinnya mengejek sembarangan padalkan dia belum tau si dokter udah nikah apa belum.
Bahkan karena terlalu jengkel ia keluar tanpa permisi dan duduk di kursi luar.
“Ck, tau gini gak bakalan kesini gue, bikin bedmood aja. Gue yakin nih pasti dia sengaja lama-lama!” tuduh nya yang belum tentu benar, entah kenapa jadi begini suka so'uzon ama istri sendiri.
“Yank, kok kamu keluar sih” kesal Della membuka pintu menatap heran suami laknatnya.
“Bodoamat, periksa aja sendiri” ketus Vino memalingkan wajahnya.
“Ihh...kamu kok gitu, kamu gak senang ya aku hamil” tanya Della dengan raut berubah sedih. Dengan cepat Vino menoleh, “kamu benaran hamil?” tanya Vino antusias melupakan kekesalan nya.
__ADS_1
“maka masuk” sewot Della. Karena itu Vino mengalah dan masuk.
15 menit kemudian, sekarang mereka berada dalam mobil. Wajah keduanya berseri-seri bahkan Vino yang awalnya jengkel langsung berubah seketika.
Yap, Della ternyata benar hamil, kata dokter tampan sudah menginjak 2 Minggu dan soal Vino mendapatkan gejala nya katanya wajar kadang kala emang ada sebagian suami merasakan nya.
“Yank, maaf ya kamu harus rasain yang seharusnya aku” ucap Della merasa bersalah.
“Gak papa yank, justru aku bersyukur karena kalo kamu yang rasain aku makin khawatir” protes Vino tak suka lalu tersenyum sambil mengusap kepala Della dengan tangan kirinya karena tangan kanan lagi nyetir.
Della tersenyum senang, “makin sayang deh” Vino tersenyum tipis mendengarnya.
Di tengah perjalanan mereka berhenti di supermarket sesuai permintaan Della.
...----------------...
“yank, kamu udah kabarin para ortu? Aku yakin mereka pasti heboh dengarnya” tanya Vino pada Della yang lagi santai mengemil dan menonton film duo botak.
“Umm...belom nanti aja” jawab Della tanpa mengalihkan pandangan.
Vino mengangguk ringan dan pergi keatas memasuki ruangan kerjanya.
“YAAANK...” panggil Della cukup kencang membuat Vino hampir terjengkang.
“Astaghfirullahal'azim!” ucapnya sabar.
“APA!” tanyanya sedikit berteriak karena males balik ke bawah.
“NANTI KITA KE RUMAH ANNA YA, AKU MAU KETEMU TWIS AMA ALANA...!” teriaknya lagi makin kencang.
Astaga lama-lama nih rumah bisa roboh! Batin Vino.
Karena tak ingin teriak Vino terpaksa ke bawah mendekati Della dengan wajah masamnya. “gak usah teriak sekencang itu, rumah ini bisa roboh akibat suara lengking kamu tuh, heran deh apa enggak sakit tenggorokan?!” omel Vino sambil berkecak pinggang melototi Della.
“Apaan sih nggak jelas” cuek Della. “oiya...kamu belum jawab yang tadi?” tanyanya lagi karena tak kunjung dijawab dari Vino tapi malah ngomel.
“Ye” ketusnya sewot, lalu berbalik keatas.
"dasar sensian!" Degus Della.
🌷🌷🌷
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
__ADS_1