
...🌷 Selamat membaca 🌷...
...----------------...
...----------------...
Sebulan kemudian.
Telah hampir sebulan Della berpacaran dengan Sandi, namun entah kenapa ia merasa tak bahagia. Walaupun Sandi lembut dan baik padanya namun dia tidak merasa bahagia. Malahan dia lebih suka dan lebih bahagia saat bertengkar dengan Vino, walaupun hanya sekedar bertengkar.
Sekarang Della terlihat sedang melamun di balkon kamarnya.
"ijaaah...!" mendengar suara laknat itu Della langsung tersadar dari lamunannya.
"bisa gak, gak usah panggil Ijah, sebagus itu nama gue Della malah dirubah seenaknya aja!" gerutu Della, namun tetap melangkah keluar dari kamar.
Saat membuka pintu kamar, Della terkaget saat melihat Vino telah berdiri manis disana.
Della mengeryit bingung, "ada apaan?" tanya Della.
"gue boleh minta tolong gak?" Vino balik bertanya dengan tersenyum canggung.
"minta apaan?" bingung Della.
"itu, hmm...tiga hari lagi ponakan gue ulang tahun, jadi gue harus siapin hadiah buat dia. karena dia cewek gue bingung mau beli apa. makanya gue mau minta tolong sama Lo, secara Lo kan cewek jadi tau mana yang cocok" jelas Vino dengan penuh harap pada Della mau membantunya.
"kenapa harus gue, pacar Lo kan ada minta aja sama dia" heran Della karena setaunya Vino masih pacaran dengan Cici.
Vino mendesah lemah, "itu masalahnya dia lagi pergi keluar kota katanya ada acara keluarga" jawab Vino dengan nada beratnya.
"owh, gue pikir udah putus" ucap Della dengan acuhnya.
Vino terheran mendengar ucapan Della.
"maksud Lo apaan! Lo berharap banget gue putus" bingung Vino dengan nada kurang suka.
"ck, kagak" acuh Della, lalu berbalik masuk kedalam kamar.
Namun langsung dihentikan oleh Vino. "kok malah balik masuk sih, pliiis tolongin gue!" ucap Vino memohon dengan wajah memelas.
"harus sekarang banget ya" Bianca bertanya kebingungan, apalagi sekarang jam delapan malam.
"iya lah, soalnya besok gue harus berangkat ketempat abang gue" jawab Vino menganggukkan kepala.
Mendengar Vino akan pergi, Della mulai antusias.
"emang sekarang bang Zaki tinggal dimana?" tanya Della karena semenjak bang Zaki menikah dia tidak pernah bertemu lagi.
"Di Lombok" jawab Vino sedikit kebingungan melihat reaksi Della.
"jauh benar, gue pikir masih sekitar Indonesia" ucap Della agak kecewa.
"memang kenapa, Lo kangen ya sama abang gue"
"dikit, gue juga pengen ketemu sama ponakan Lo itu penasaran gue"
__ADS_1
"umm...gimana kalo Lo ikut gue sama mami dan papi besok" kata Vino, mungkin mami bertambah senang kalo Della ikut.
Della terlihat berpikir sesaat, dan kembali bertanya.
"emang boleh gue ikut"
Vino mengangguk, "boleh-boleh saja asalkan bokap sama nyokap lo kasih izin"
Mendengar itu Della tersenyum senang sebab dia yakin mereka pasti ngizinin.
Namun, saat Della mengingat pekerjaannya, dia jadi lesu.
"gue kan harus kerja, Gimana mau ikut"
Mendengar permasalahannya Vino sedikit mendesah kesal.
"aish...kok Lo jadi bego sih, kan bisa minta izin. lagian bos kita Kelvin bukan orang lain dia pasti bolehin lah"
"eh, iya ya ehehe..." cengir Della.
Vino hanya memutar matanya dengan males.
"ayo cepatan ini mau sampai kapan sih, nanti keburu malam" ujar Vino karena merasa waktunya cuman habis gara-gara berbicara dengannya.
"ck, iya iya gue ganti baju bentar" Degus Della, lalu berbalik masuk kedalam kamar.
Sambil menunggu Della, Vino pergi keluar. Sebelumnya dia juga sudah meminta izin pada bokap dan nyokap Della.
Tak lama setelah itu, Della selesai dan menyusul Vino.
"hmm" angguk Vino dan memasuki mobilnya yang telah berada di depan rumah Della dan diikuti oleh Della.
...----------------...
Sesaat ditengah perjalanan, Vino bertanya, "kita mau kemana nih?"
Mendengar pertanyaan Vino, Della sangat keheranan.
"ngapain Lo tanya ke gue hah!" ketus Della dengan kesal.
"gue kan minta tolong sama Lo jadi Lo lah yang ngarahin mau kemana" kata Vino dengan nada tak kalah kesal dari Della.
"hadeeh...gitu aja pakai tanya, langsung ke toko boneka aja" jawab Della dengan males.
"oiya...Lo tau kan apa biasanya yang disukai ponakan Lo"
Vino terlihat berpikir, "hmm...setau gue yang paling dia sukai ice cream, donat, teruus...aish, banyak pokoknya gue jadi lupa" jelas Vino mencoba mengingat ingat.
"selain makanan noo, emang Lo mau kasih kado makanan gitu" kesal Della.
"ya kagak lah, udah lah Lo pilih aja nanti, gue yakin pilihan dari Lo dia langsung suka"
"ck, serah"
Sesaat kemudian, mereka sampai didepan sebuah toko cukup ramai, disana juga banyak macam-macam boneka.
__ADS_1
"Lo aja yang masuk, gue bali minum jadi haus gue ngoceh sama Lo"
Della mendegus sebal, namun dia tetap menurut saja demi ponakan.
...----------------...
Vino yang pergi beli minum cukup jauh dari toko tersebut.
"hufff... anjiiir, makin dingin aja padahal masih jam setengah sembilan" gumam Vino yang merasa udara malam semakin dingin.
"ini mas" ucap sang penjual memberikan Coffee pesanan Vino.
Selesai membayarnya, Vino bergegas kembali kearah mobil, namun sebelum dia sempat masuk matanya tak sengaja melihat seseorang dan itu orang yang sangat ia kenali.
"itu bukannya Cici, tapi katanya kan dia pergi keluar kota" Vino sedikit mengeryit, saat melihat orang itu mirip sekali dengan pacarnya Cici yang lagi berduaan bersama seorang pria.
"gak, mungkin gue salah liat atau bisa aja orang memiliki kemiripan dengannya" Vino berusaha berpikir positif karena merasa tidak yakin dengan penglihatannya.
"gak, sepertinya gue harus pastikan" ucap Vino lagi, lalu pergi menghampiri dua orang itu. Namun, sebelum sampai orangnya malah pergi memasuki mobil.
Saat akan mengejar mobilnya malah pergi begitu saja.
Dengan hati tak tenang dan rasa penasaran, Vino berbalik ketempat mobilnya.
Saat telah berada dalam mobil, vino terlihat masih kepikiran.
"apa benar ya. tapi gak mungkin deh dia bohongin gue" resah Vino dengan wajah kusutnya.
Beberapa menit kemudian, Della terlihat telah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Vino. Dengan muka cerah Della menghampiri ketempat mobil Vino berada dan langsung masuk.
"nih gue udah beli kado buat ponakan Lo, gue yakin pasti dia suka!" kata Della dengan senyuman lebarnya sambil menunjukkan sebuah kado yang telah dibungkus langsung dari sang penjual.
Saat melihat kebisuan Vino, dia jadi keheranan dan dengan kasar ia mencubit lengannya.
"aduhduh...sakit jah, Lo ngapain cubit gue hah!" ringis Vino sambil mengusap bagian yang dicubit itu.
"ck, makanya dengarin gue ngomong" kesal Della.
"iya iya gue tau" sebal Vino, karena sebenarnya dia mendengar perkataan Della tadi.
"nih diminum dulu biar gak kesal terus" lalu menyodorkan segelas Coffee pada Della.
"hem..." dan mengambil dari tangan Vino.
"kita mau kemana lagi" tanya Vino sedikit melirik Della.
"pulang aja deh" jawab Della, karena dia tidak mau kemana-mana lagi.
"yakin. atau lo gak mau makan atau beli sesuatu apa gitu mumpung lagi di luar"
Namun, Della tetap menggeleng karena dia memang tidak ingin apa-apa lagi.
Akhirnya, Vino melanjutkan jalan mobilnya pergi dari tempat tersebut.
🌷🌷🌷
__ADS_1
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT